Bongkar Strategi Jestham Group: AI, Rahasia Repeat Order dan Blunder Marketing Offline

CEO Jestham Group, Thomas Iskandar. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (1/11/2026) — CEO Jestham Group, Thomas Iskandar, membagikan perjalanan dan strategi bisnis di tengah dinamika pemasaran digital. Menurutnya, jumlah pengikut bukan tolok ukur keberhasilan bisnis.
"Followers bukan bisnis, order juga bukan bisnis. Tapi, repeat order atau pembelian berulang baru dinamakan bisnis," ujarnya dalam Clapham Conversation bertajuk Marketing that Moves the Business, Minggu (1/11/2026).
Perjalanan Jestham Group dimulai sejak 2013. Jauh sebelum media sosial populer, mereka merintis usaha dari sistem dropship melalui Blackberry Messenger (BBM).
"Dulu add contact susah, harus punya PIN BBM dulu baru bisa add contact," kata Thomas.
Transformasi berlanjut ke Facebook, Instagram, berbagai marketplace, hingga TikTok Shop. Lewat platform video singkat itu, Jestham berhasil mengumpulkan jutaan pengikut berkat langkah awal yang masif.
Thomas juga menceritakan kegagalan saat berekspansi ke ranah luring pada 2024 hingga 2025. Ia menilai langkah tersebut tidak terukur dan salah sasaran.
"Karena ordernya masif, akhirnya kami yang jago online sok jago di offline," ujarnya.
Ia menyebut anggaran promosi luring seperti billboard, baliho, dan videotron sulit dilacak efektivitasnya terhadap penjualan.
Saat ini Jestham Group membawahi berbagai sektor, mulai dari manufaktur, multi-channel network (MCN), ERP, pengembangan IT, hingga kecantikan dan kesehatan. Menurutnya, strategi pemasaran untuk masing-masing sektor tidak bisa disamaratakan.
Menanggapi anggapan bahwa pemasaran adalah beban biaya, Thomas menegaskan anggaran marketing adalah keharusan di era modern.
"Satu-satunya yang meyakinkan adalah hasil," tuturnya.
Memasuki era kecerdasan buatan, Thomas mendorong pelaku usaha melek teknologi dan mengintegrasikan AI untuk efisiensi. Jestham Group telah menggunakan AI untuk analisis data pasar, pelatihan agen otomatis, penyusunan daftar pertanyaan yang sering diajukan (FAQ) untuk layanan pelanggan, hingga penyuntingan video.
"Kalau tidak mulai belajar AI atau tidak melek teknologi, kita pasti akan tertinggal," katanya.
Ia memprediksi biaya produksi konten akan makin murah. Yang paling mahal nantinya adalah perspektif manusia, kepercayaan, dan kredibilitas di balik personal branding.
Melihat kondisi ekonomi dan tantangan daya beli saat ini, Thomas mengakui sektor manufaktur hingga rantai pasok bisnisnya terdampak.
Agar tetap bertahan, Jestham Group memilih menyesuaikan margin keuntungan.
"Kondisi ekonomi sangat berpengaruh, rantai pasok terhenti, daya beli turun. Cara kami, melakukan cut margin agar bisa bertahan. Mungkin kekuatan belinya sebelumnya Rp100.000, hari ini hanya Rp90.000. Kita lakukan agar tetap dibeli, customer is king," ucapnya.
Thomas berpesan agar generasi muda memiliki visi jelas yang diiringi aksi nyata, terukur, kerja keras, dan doa.
"Sebagai business owner atau pelaku usaha, hanya butuh dua hal. Pertama action, kedua action. Tidak ada kerja keras yang mengkhianati hasil, yang terpenting harus terukur," ujarnya. (hm02)
PREVIOUS ARTICLE
BMKG Luruskan Prediksi Badai Pengamat Kanada, Medan Berpotensi Hujan Ringan Sore hingga MalamBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



































