Disperpusip Sumut Sulap Perpustakaan Senyaman Kafe demi Tarik Generasi Z

Kepala Disperpusip, Desni Maharani Saragih Foto bersama siswa pada kegiatan Hari Anak Nasional. (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) berencana menyulap fasilitas perpustakaan agar senyaman kafe demi memikat generasi Z.
Kepala Disperpusip Desni Maharani Saragih mengungkapkan rencana tersebut dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup anak muda saat ini. Menurutnya, Gen Z senang menghabiskan waktu di tempat publik yang sejuk dan dilengkapi akses internet.
“Kami sudah siapkan. Mungkin dari sejuknya masih kurang,” tuturnya kepada Mistar, Senin (27/7/2026).
Ia juga berharap adanya kepedulian dari berbagai pihak, baik perusahaan atau pihak lainnya terhadap peningkatan literasi dengan menambah fasilitas ruangan baca agar semakin representatif.
“Dengan begitu, anak-anak gen Z itu bisa menghabiskan waktunya di perpustakaan, tidak di kafe,” tutur Desni lagi.
Selain fokus pada pembenahan fasilitas, Disperpusip juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah tingkat dasar hingga SMP agar menerapkan sistem belajar di perpustakaan.
Saat belajar ke perpustakaan, para siswa akan diperkenalkan dengan naskah-naskah kuno. Menurutnya penting agar siswa tidak melupakan budaya lokal.
“Jadi, mereka kemari boleh membaca dan belajar. Artinya mereka keluar dari sekolah tapi tetap belajar,” ucapnya.
Bagi sekolah atau wilayah yang letaknya jauh dari pusat kota, Disperpusip juga menyediakan armadanya melalui perpustakaan keliling.
“Mungkin mereka waktunya tidak cukup untuk berkunjung ke perpustakaan, terutama yang daerah-daerah jauh dari kota, seperti mungkin di Belawan, kita akan tetap melakukan kegiatan perpustakaan keliling,” katanya.
Seluruh program Disperpusip bertujuan agar tidak ada lagi siswa yang kesulitan akses membaca buku. Sebab, Disperpusip Sumut juga telah menyediakan akses buku digital di berbagai fasilitas umum.
“Buku-buku digital juga sudah kami sampaikan di beberapa tempat-tempat umum, sehingga orang-orang juga bisa membaca lebih banyak lagi. Satu alat baca itu ada 1.000 buku elektronik, jadi mungkin minatnya saja yang perlu kita naikkan,” ujarnya.[]
























