Sunday, July 26, 2026
home_banner_first
MEDAN

Dari Marbot Masjid, Raihan Kini Menjadi Penghulu di Lumban Julu

Mistar.idMinggu, 26 Juli 2026 pukul 16.00 WIB
dari_marbot_masjid_raihan_kini_menjadi_penghulu_di_lumban_julu

Raihan Baihaqi, ASN Kementerian Agama Kabupaten Toba. (Foto: Dokuentasi pribadi Raihan/Mistar)

news_banner

Dikatakannya, pilihan hidup di masjid dan mengabdi di Kantor Urusan Agama juga bukan tanpa alasan. Selain mendekatkan diri kepada Sang Khalik, baginya menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat juga tak kalah penting.

"Dengan tinggal di masjid, kita merasa bisa lebih mudah menunaikan ibadah. Dengan ibadah itu, pencipta juga dengan ringan memberikan jalan untuk kita meraih apa yang kita impikan," sebutnya.

Kedekatan dengan lingkungan masjid sejak kecil kemudian membentuk cara pandang Raihan dalam menjalani kehidupan. Pria yang kini berusia 24 tahun itu belajar bersosialisasi, hidup mandiri, dan berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.

Sementara bagi keluarga, melihat Raihan mampu hidup berdikari dan berguna bagi masyarakat menjadi sebuah kebanggaan.

Menurut Zainal Abidin, Raihan merupakan panutan bagi saudara-saudaranya. Kegigihannya dalam meraih cita-cita, menjalani pendidikan, hingga berhasil menjadi penghulu merupakan kebanggaan baginya.

"Bangga pasti, haru juga. Sedikit rindu juga karena sudah jauh. Selama ini walau di masjid tapi tetap di Medan. Kakak dan abangnya juga mendapat pelajaran dari perjalanan dia. Sebab dari kecil sudah mau mandiri tinggal di masjid sampai dengan sekarang," ucap Zainal Abidin.

Kini, meski telah merantau dan menjadi penghulu, Raihan tidak melupakan tempat yang pernah membentuk dirinya. Masjid tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dari sanalah ia belajar tentang kehidupan. Dari sanalah pula ia memahami arti pengabdian.

"Nggak akan lupa. Di masjid saya dibentuk. Di masjid saya belajar. Di masjid saya mengerti arti pengabdian," ungkapnya.

Perjalanannya menjadi pengingat bahwa seseorang tidak selalu harus lahir dari kemewahan untuk mencapai sesuatu. Kadang, perjalanan besar justru dimulai dari tempat yang sederhana, dari sebuah masjid.

Dari tempat seorang anak pernah bermain, tidur, dan belajar tentang kehidupan. Hingga akhirnya, anak itu tumbuh menjadi seorang penghulu, sosok yang kini dipercaya mengantarkan pasangan menuju salah satu fase penting dalam kehidupan mereka.

Di balik profesinya hari ini, masih ada jejak seorang anak yang pernah memilih masjid sebagai rumah keduanya.

Dan bagi Raihan, meski kini telah merantau, ia tetap ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga, jemaah masjid, dan masyarakat di sekitarnya.

"Di mana pun, insyaallah saya akan berusaha menjadi bermanfaat bagi orang banyak," ujarnya. (hm25)

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN