Dari Marbot Masjid, Raihan Kini Menjadi Penghulu di Lumban Julu

Raihan Baihaqi, ASN Kementerian Agama Kabupaten Toba. (Foto: Dokuentasi pribadi Raihan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Tumbuh dari kesederhanaan, perjalanan Raihan Baihaqi bukanlah hal yang mudah. Ia memilih tinggal di beberapa masjid untuk hidup mandiri. Bukan hidup dari ruangan berpendingin, meja kerja, komputer, atau jabatan yang membuatnya disegani bawahan.
Ia tumbuh dari kesederhanaan. Sejak kecil, Raihan akrab dengan masjid. Bermain bersama marbot masjid dan tidur di masjid.
Baginya, masjid bukan hanya sekadar tempat ibadah. Masjid merupakan rumah kedua baginya, tempat paling nyaman selain rumah.
"Dari kecil memang sudah biasa tidur di masjid. Dari mulai SD sudah tidur-tidur di masjid," ucapnya, Minggu (26/7/2026).
Saat duduk di bangku SMP, ia kemudian bersekolah di Pesantren Raudhatul Hasanah, Jalan Setia Budi, Simpang Selayang, Medan. Tiga tahun menempuh pendidikan di sana, ia melanjutkan SMA di Madrasah Aliyah Al Ulum.
Kebiasaan tidur di masjid pun berlanjut saat duduk di bangku SMA. Bahkan, ia tak lagi tinggal di rumahnya di Jalan Ikhlas, Bromo Ujung, Medan Denai. Ia memilih tinggal di masjid. Bahkan, dua masjid sempat menjadi tempat tinggalnya di Kota Medan sebelum masuk ke bangku perkuliahan.
"Sebelumnya ada dua masjid. Sampai tamat SMA, kuliah, dan tinggal di Masjid Amal Muslimin," tuturnya.
Di Masjid Amal Muslimin, Jalan Menteng VII, ia tak hanya sekadar menjadi marbot. Ia dipercaya menggantikan sekretaris Badan Kemakmuran Masjid (BKM) sebelumnya, Adi Syahputra Lubis, yang memutuskan merantau ke Lampung pada 2022.
Di sana, ia belajar hidup bersama dan melayani jemaah. Ia belajar arti menjadi bagian dari lingkungan dan masyarakat. Setiap hari sebelum berangkat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, ia membersihkan masjid, mengumandangkan azan Subuh, serta menyiapkan segala sesuatu sebelum imam mengangkat takbir.
Dari seorang remaja yang kerap tidur di masjid, ia kemudian menyelesaikan kuliahnya pada 2024. Setelah itu, ia mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi CPNS dan berhasil lulus pada formasi tahun tersebut.
Kini, sosok yang akrab dengan sapu, sajadah, hingga keran wudu itu telah menjadi penghulu. Ia dipercaya bertugas sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
"Sejak menggantikan sekretaris yang lama, saya banyak belajar. Bagaimana mendekatkan diri dengan jemaah, bermasyarakat, dan mendengar segala kritik dan saran mereka. Saya juga belajar tentang administrasi di sana. Berangkat dari pengalaman itu saya mencoba tes PNS dan alhamdulillah lulus," lanjutnya.
Menurut anak kelima dari enam bersaudara pasangan Zainal Abidin dan Isnawati itu, perjalanan menuju Toba bukan tanpa cerita. Banyak lika-liku yang dihadapi sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Meski begitu, menurutnya setiap proses harus dijalani dan dijadikan pelajaran dengan penuh kesederhanaan.
"Banyak tantangan sebelum lulus. Mulai dari biaya penyiapan berkas, waktu yang harus dibagi antara masjid dengan jadwal ujian, jadwal belajar, dan lain-lain. Tapi syukurnya semua terlalui. Ini berkat bantuan jemaah dan pengurus masjid juga yang mendukung," katanya.
PREVIOUS ARTICLE
Sempat Viral, Bobby Nasution Akan Undang Siswi Peraih Emas Olimpiade Matematika Asia






















