Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

3.400 Santri Ar-Raudlatul Hasanah Medan Jalani Ramadan dengan Tadarus Melingkar

Mistar.idRabu, 25 Februari 2026 pukul 19.38 WIB
3400_santri_arraudlatul_hasanah_medan_jalani_ramadan_dengan_tadarus_melingkar

Ribuan santri saat sedang melakukan tadarus melingkar (foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Bulan Ramadan tidak mengubah ritme kedisiplinan santri dan santriwati di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan. Sekitar 3.400 orang yang terdiri dari 1.700 santri dan 1.700 santriwati tetap menjalani aktivitas belajar, ibadah, dan tadarus Al-Qur’an secara teratur, salah satunya melalui metode tadarus melingkar yang telah diterapkan lebih dari satu dekade.

Guru Bimbingan Konseling Putra di pesantren tersebut, Azmi Rauf Hasibuan, menyampaikan seluruh rangkaian kegiatan Ramadan berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah, kegiatan anak-anak kita pada bulan Ramadan tahun ini berjalan seperti biasa,” ujarnya saat ditemui di lokasi yang beralamat di Jalan Setia Budi, Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Rabu (25/2/2026).

Azmi menjelaskan, aktivitas santri dimulai sejak sahur, dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah dan tetap mengikuti pembelajaran di kelas, meskipun durasi jam belajar diperpendek.

Setelah itu, santri melaksanakan salat Zuhur berjamaah di masjid dan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an. Kegiatan serupa juga dilakukan setelah salat Asar.

“Sedangkan pada sore hari, anak-anak dibebaskan dari kegiatan. Mereka boleh berolahraga atau mempersiapkan diri untuk berbuka puasa,” tuturnya.

Azmi menerangkan, sistem tadarus dilakukan dengan metode melingkar dan berkelompok.

“Anak-anak dikelompokkan dalam bentuk lingkaran. Pesertanya berasal dari berbagai kelas sehingga bersifat heterogen, bukan dari satu kelas yang sama,” ucapnya.

Dalam kelompok tersebut, santri membaca Al-Qur’an secara bergantian, saling menyimak, memperbaiki bacaan, hingga menghafal ayat.

Jumlah juz yang dibaca setiap hari bergantung pada kemampuan masing-masing santri. “Ada yang ingin mengejar lebih cepat, ada yang fokus memperbaiki bacaan, ada juga yang saling menyimak dan menghafal,” tuturnya.

Ia menilai metode ini cukup efektif karena santri dapat saling mendengarkan dan mengoreksi bacaan teman-temannya.

“Untuk saat ini, inilah metode yang kami pilih dengan berbagai sisi positif yang kami lihat,” kata Azmi.

Metode tadarus melingkar ini telah berjalan kurang lebih selama 10 tahun dan akan terus dievaluasi. Azmi mengakui masih ada tantangan, seperti santri yang mengantuk saat kegiatan berlangsung.

“Itu perlu kita kontrol. Kita bangunkan supaya tetap membaca,” ujarnya.

Salah seorang santri, Al Fitra (14), mengaku senang mengikuti tadarus melingkar tersebut.

“Senang mengikuti tadarus melingkar,” ujar santri kelas 2 SMP yang telah dua tahun mondok di pesantren itu.

Ia berharap dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dan memperoleh pahala selama Ramadan. Ia juga mengajak teman-temannya untuk terus semangat mengikuti tadarus.

“Ayo baca Al-Qur’annya sebanyak-banyaknya, supaya dapat pahala,” katanya sambil tersenyum.

Sementara itu, Ihsan Al Fari (13), yang juga telah dua tahun mondok, membagikan rutinitas Ramadan yang dijalaninya. Ia mengatakan, para santri bangun untuk salat Subuh, membaca Al-Qur’an, lalu bersiap mengikuti kegiatan belajar.

“Karena bulan puasa, tidak ada sarapan di dapur, jadi langsung bersiap untuk sekolah,” katanya.

Ihsan menambahkan, setelah salat Zuhur para santri langsung mengikuti tadarus.

“Tadarus ini setiap hari, per hari dua halaman yang dibaca. Kegiatan ini berlangsung selama 20 hari Ramadan, setelah itu kami pulang ke rumah,” ujarnya.

Santri kelas 2 SMP tersebut mengaku optimistis dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dalam kurun waktu 20 hari tersebut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN