Lemang Opung Lobe Sirait, Warisan Kuliner Simalungun Sejak 1947

Proses pembakaran lemang di Pekan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. (Foto: Abdi/Mistar)
Meski namanya kesohor, warung ini tidak buka setiap hari. Lucyana hanya membuka pintu warungnya dua kali dalam seminggu, mengikuti ritme hari pasar tradisional setempat, yakni setiap Senin dan Kamis.
Keterbatasan waktu buka ini justru membuat warung tersebut nyaris tak pernah sepi. Antrean panjang pembeli sudah menjadi pemandangan biasa, terutama saat momentum libur panjang, Tahun Baru, maupun Lebaran.
"Sudah sering sekali dibawa untuk oleh-oleh ke luar kota, termasuk ke Jakarta. Lemang kami bisa bertahan sekitar dua hari dalam suhu ruang. Banyak perantau yang memesan jauh-jauh hari sebelum mereka pulang ke kota tempat mereka bekerja," ungkap Lucyana.
Menariknya, di tengah gempuran inflasi dan tren kuliner modern yang mahal, harga yang dibanderol di sini justru sangat merakyat. Semangkuk bubur kacang hijau hangat hanya dihargai Rp6.000, sedangkan lemang potong dijual Rp2.000 per iris. Bagi pembeli yang ingin membawa pulang satu batang utuh, harganya mulai dari Rp50.000.
Bagi warga lokal maupun perantau Simalungun, singgah ke Warung Opung Lobe Sirait bukan sekadar urusan sarapan atau menuntaskan lapar. Tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang nostalgia.
Setiap suapan lemang dan bubur kacang hijau di sini seolah memutar kembali memori masa kecil, kenangan bersama orang tua, maupun cerita masa lalu tentang Pekan Tanah Jawa yang tak lekang oleh waktu. Warung ini menjadi mesin waktu yang merawat memori kolektif masyarakat melalui rasa.
Di balik kesederhanaan bangunannya yang tersembunyi di sudut pekan, tempat ini merupakan hidden gem yang sesungguhnya. Sebuah bukti bahwa kelezatan abadi tidak selalu lahir dari dapur restoran berbintang, melainkan dari ketulusan sebuah keluarga yang konsisten merawat tradisi dan menjaga warisan leluhur dari generasi ke generasi. (hm25)
BERITA TERPOPULER






BERITA TERPOPULER
























