Saturday, July 11, 2026
home_banner_first
KULINER

Lemang Opung Lobe Sirait, Warisan Kuliner Simalungun Sejak 1947

Mistar.idSabtu, 11 Juli 2026 pukul 15.36 WIB
lemang_opung_lobe_sirait_warisan_kuliner_simalungun_sejak_1947

Proses pembakaran lemang di Pekan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID - Asap tipis membubung di sela-sela riuhnya Pekan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. Di antara deru mesin kendaraan dan tawar-menawar pedagang, aroma gurih ketan terbakar dan manisnya pandan samar-samar menuntun langkah kaki menuju sebuah warung sederhana.

Tempatnya jauh dari kesan mewah. Namun, di balik dinding bersahaja warung milik keluarga Opung Lobe Sirait ini, tersimpan riwayat rasa yang telah bertahan melewati berbagai zaman, tepatnya sejak tahun 1947. Ketika Republik Indonesia baru seumur jagung, bara api di warung ini sudah menyala, mematangkan lemang yang kelak menjadi legenda kuliner di Tanah Simalungun.

Kini, estafet merawat warisan kuliner itu berada di tangan Lisna Lucyana. Sebagai generasi ketiga, Lucyana memikul tanggung jawab yang tidak ringan, yakni menjaga agar rasa lemang dan bubur kacang hijau mereka, agar tidak kurang dari resep asli sang kakek.

"Usaha ini dimulai oleh generasi pertama pada tahun 1947. Sampai hari ini, resepnya tetap dipertahankan, tidak ada yang diubah sama sekali. Yang paling utama kami jaga adalah konsistensi rasa, karena itulah pengikat yang membuat pelanggan selalu kembali," ujar Lucyana kepada Mistar, Sabtu (11/7/2026).

Bagi masyarakat Sumatera Utara, lemang mungkin sering kali diidentikkan dengan hidangan musiman menjelang Hari Raya Idulfitri. Namun, di Pekan Tanah Jawa, aturan tidak tertulis itu runtuh. Di sini, perpaduan pulut (ketan), santan kelapa kental, dan sejumput garam bisa dinikmati sepanjang tahun.

Daya tarik utama Warung Opung Lobe Sirait terletak pada cara penyajiannya yang unik. Lemang yang gurih dengan tekstur lembut tidak disandingkan dengan rendang atau srikaya, melainkan dipadukan dengan semangkuk bubur kacang hijau hangat yang manis legit. Perpaduan kontras antara gurih dan manis inilah yang menciptakan sensasi rasa yang sulit ditemukan di tempat lain.

Lucyana menyediakan dua varian lemang, yakni pulut putih klasik dan pulut hitam.

"Lemang pulut hitam punya karakter rasa yang berbeda. Teksturnya cenderung lebih padat dan ada rasa khas tersendiri. Bahan bakunya juga menggunakan kualitas pilihan dengan harga yang sedikit lebih tinggi," jelasnya.

Mempertahankan cita rasa selama hampir delapan dekade bukanlah perkara instan. Warung ini dengan tegas menolak modernisasi alat masak demi menjaga keaslian rasa. Proses pembuatan lemang masih setia pada cara-cara tradisional yang melelahkan, namun bernilai tinggi.

Beras pulut yang telah dibumbui dimasukkan ke dalam selongsong bambu berbalut daun pisang muda. Setelah dituangkan santan, bambu-bambu pilihan ini disusun berjajar di atas tungku panjang. Proses pembakaran memakan waktu sekitar empat jam di atas bara api yang dijaga kestabilan suhunya.

"Bambu-bambu ini masih kami pasok dari daerah sekitar sini. Semua prosesnya butuh kesabaran ekstra. Kalau apinya terlalu besar, luar bambu hangus, tetapi dalamnya mentah. Harus pelan-pelan supaya matang sempurna dan aroma khas bambunya meresap ke dalam pulut," kata Lucyana.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN