Kasus ODHIV di Dairi Meningkat, Dinas Kesehatan Ungkap Faktor Penyebabnya

Ilustrasi pengendalian ODHIV. (foto:manru/gemini/mistar)
Dairi, MISTAR.ID (28/7/2026) – Kasus Orang dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV) di Kabupaten Dairi meningkat. Kondisi tersebut menjadi persoalan kesehatan yang serius dan membutuhkan penanganan secara komprehensif serta berkesinambungan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, dr. Henry Manik, kepada Mistar melalui sambungan telepon dan WhatsApp, Selasa (28/7/2026).
"Kondisi ODHIV sampai bulan Juni 2026 di Dairi masih menjadi salah satu permasalahan serius karena jumlahnya mencapai 90 orang yang terdeteksi," kata Henry.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada keberhasilan pengobatan dan pencapaian target pengendalian HIV. Upaya penanggulangan HIV telah dilaksanakan melalui penguatan layanan di puskesmas dan rumah sakit, meliputi skrining HIV, konfirmasi diagnosis, pemberian terapi antiretroviral (ARV), pemantauan viral load, pendampingan pasien, serta pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA).
Berdasarkan data Program HIV Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, jumlah ODHIV yang mendapatkan pelayanan pada 2025 tercatat sebanyak 90 orang. Hingga Juni 2026, jumlah ODHIV yang masih dilayani sebanyak 83 orang. Penurunan jumlah tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perpindahan domisili pasien, pasien meninggal dunia, dan pasien putus berobat (lost to follow up).
Henry menyampaikan, penanganan kasus ODHIV memerlukan upaya yang komprehensif dan berkesinambungan.
Sementara itu, penemuan kasus baru masih terus terjadi seiring meningkatnya akses skrining HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama pada ibu hamil, pasien tuberkulosis (TB), populasi kunci, pasien infeksi menular seksual (IMS), serta kelompok berisiko lainnya.
Peningkatan cakupan skrining diharapkan mampu menemukan kasus lebih dini sehingga ODHIV dapat segera memperoleh pengobatan antiretroviral (ARV) dan mencegah penularan lebih lanjut.
Di Kabupaten Dairi, tantangan dalam pengelolaan ODHIV masih meliputi keterlambatan diagnosis, rendahnya kepatuhan sebagian pasien terhadap terapi ARV, potensi putus berobat (lost to follow up), serta masih adanya stigma dan diskriminasi yang menyebabkan sebagian masyarakat enggan menjalani pemeriksaan maupun mengakses layanan kesehatan.
Sekadar informasi, HIV dapat dikendalikan dengan terapi ARV yang rutin dan bahwa deteksi dini sangat berperan dalam mencegah penularan serta meningkatkan kualitas hidup pasien. (hm27)























