Thursday, August 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Pendiri Evergrande Hui Ka Yan Divonis Seumur Hidup, Seluruh Hartanya Disita

Mistar.idKamis, 20 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB
pendiri_evergrande_hui_ka_yan_divonis_seumur_hidup_seluruh_hartanya_disita

Hui Ka Yan. (foto: sinoinsider)

news_banner

Shenzhen, MISTAR.ID - Pendiri raksasa properti China Evergrande Group, Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas kasus penipuan berskala besar. Pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh harta pribadinya.

Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen menjatuhkan vonis tersebut pada Kamis (20/8/2026). Associated Press (AP) melaporkan Hui, yang juga dikenal dengan nama Xu Jiayin, dihukum karena penipuan skala besar.

Reuters, mengutip media pemerintah China CCTV, juga melaporkan pengadilan memerintahkan seluruh harta pribadi Hui disita.

Vonis itu menjadi puncak kejatuhan salah satu pengusaha paling terkenal di China. Reuters mencatat Hui pernah menjadi orang terkaya di Asia pada 2017 dengan kekayaan bersih US$45,3 miliar berdasarkan Forbes. Pada 2023, kekayaannya diperkirakan tinggal sekitar US$3 miliar.

Hui sebelumnya mengaku bersalah dalam persidangan pada April 2026. Reuters melaporkan pria berusia 67 tahun itu menghadapi delapan dakwaan, termasuk penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, serta penghimpunan simpanan publik secara ilegal.

AP juga melaporkan Hui dituduh melakukan pemberian pinjaman secara ilegal, penggunaan dana secara ilegal, serta pelanggaran aturan pengungkapan informasi material.

Evergrande Group sendiri menghadapi tuduhan antara lain penghimpunan simpanan publik secara ilegal, penipuan penggalangan dana, penyuapan korporasi dan pemberian pinjaman ilegal. Sementara Evergrande Real Estate dituduh melakukan penerbitan sekuritas secara curang.

Dalam persidangan April tersebut, Hui menyatakan penyesalan. Ia telah menghilang dari kehidupan publik sejak ditahan otoritas China pada September 2023 atas dugaan tindak pidana.

Selain menghukum Hui, pengadilan menjatuhkan denda besar terhadap perusahaan yang dibangunnya. AP melaporkan Evergrande Group didenda 8,82 miliar yuan atau sekitar US$1,31 miliar, sedangkan Evergrande Real Estate didenda 7 miliar yuan atau sekitar US$1,04 miliar.

Hui sendiri sebenarnya sudah terkena sanksi regulator jauh sebelum vonis terbaru. Pada Maret 2024, regulator sekuritas China menjatuhkan denda 47 juta yuan atau sekitar US$6,53 juta kepadanya dan melarangnya seumur hidup memasuki pasar sekuritas.

Sanksi itu dijatuhkan setelah regulator menemukan unit utama Evergrande, Hengda Real Estate, menggelembungkan pendapatan dan melakukan penipuan sekuritas.

Reuters mencatat Hengda menggelembungkan pendapatan sebesar 213,99 miliar yuan pada 2019 dan 350 miliar yuan pada 2020. Perusahaan juga menerbitkan obligasi berdasarkan laporan yang telah dipalsukan.

Evergrande pernah menjadi pengembang properti terbesar di China berdasarkan nilai penjualan kontrak. Namun, ekspansi agresif yang ditopang utang akhirnya membawa perusahaan tersebut ke dalam krisis.

AP melaporkan Evergrande memiliki kewajiban lebih dari US$300 miliar sebelum diperintahkan menjalani likuidasi. Kejatuhan perusahaan terjadi setelah pemerintah China memperketat aturan terhadap pinjaman berlebihan di sektor properti pada 2020, yang kemudian turut memicu krisis luas di industri tersebut.

Evergrande mulai gagal memenuhi sebagian kewajibannya pada 2021. Pengadilan Tinggi Hong Kong kemudian memerintahkan likuidasi perusahaan pada 29 Januari 2024 setelah Evergrande gagal menghasilkan rencana restrukturisasi yang dapat diterima.

Setelah perintah likuidasi tersebut, posisi Evergrande semakin terpuruk. Saham perusahaan resmi dikeluarkan dari Bursa Efek Hong Kong pada 25 Agustus 2025 setelah perdagangan sahamnya dibekukan selama sekitar 18 bulan.

Proses likuidasi juga memperlihatkan besarnya jurang antara aset yang berhasil dijual dan tuntutan kreditur. Reuters melaporkan pada Agustus 2025, likuidator telah menjual aset Evergrande sekitar US$255 juta dan mengambil alih lebih dari 100 anak perusahaan. Pada saat yang sama, klaim yang diajukan para kreditur mencapai sekitar US$45 miliar.

Perjalanan Hui sebelumnya menjadi salah satu simbol booming properti China. Mantan teknisi baja itu mendirikan Evergrande pada 1996 dan mengembangkannya melalui ekspansi besar yang ditopang utang.

Pada 2020, penjualan tahunan Evergrande mencapai sekitar 700 miliar yuan atau US$103 miliar. Namun hanya beberapa tahun kemudian, kerajaan bisnis tersebut runtuh dengan kewajiban lebih dari US$300 miliar.

Dari pengusaha terkaya Asia dengan kekayaan puluhan miliar dolar AS, Hui kini harus menjalani hukuman penjara seumur hidup dan kehilangan seluruh harta pribadinya. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN