Geotourism Festival 2026: Masyarakat Lokal Penjaga Pertama Kawasan Geopark

Konferensi para delegasi dalam Geotourism Festival 2026 di Negeri Perak, Malaysia. (Foto: Dokumentasi Caldera Toba/Mistar)
Perak, MISTAR.ID - Seratusan delegasi, para ahli, peneliti, akademisi, pengambil kebijakan, dan praktisi industri dari berbagai penjuru negeri mengikuti serangkaian kegiatan konferensi dan kunjungan lapangan dalam Geotourism Festival 2026 di Negeri Perak, Malaysia.
Dalam siaran pers yang diterima, Selasa (28/7/2026) disebutkan, para delegasi berkumpul kembali untuk menghadiri acara penutupan The 7th Geotourism Festival & International Conference 2026 yang mengangkat tema utama "Where Earth's History and Indigenous Wisdom Intertwine" (Di mana Sejarah Bumi dan Kebijaksanaan Pribumi Bertemu).
Adapun subtema yang dipilih untuk mengontekstualisasikan seminar adalah "Tracing Toba Ash Diaspora & Empowering Indigenous Community" (Menelusuri Diaspora Abu Toba & Memberdayakan Komunitas Masyarakat Adat).
Kegiatan selama empat hari, pada 21-24 Juli 2026, berfokus pada diskusi mengenai pembangunan wisata geologi dan konservasi warisan geologi. Keduanya memerlukan titik kompromi yang jelas agar kepentingan ekonomi dan konservasi dapat disandingkan secara selaras.
Rangkaian pemaparan akademik dari Indonesia dan Malaysia juga membahas secara mendalam isu-isu tentang sustainable development, hak dan peran indigenous people (masyarakat adat) dalam konservasi dan keterlibatan mereka dalam pengelolaan warisan geologi, isu kekayaan hayati, geotrails, serta pemberdayaan sosial.
Guru besar yang juga menjadi Wakil Ketua UNESCO Global Geoparks Network (GGN) Council itu mengulas kembali persoalan mendasar yang membedakan makna geotourism, yang tidak mesti dilakoni oleh para geolog, dengan geological tourism, yang memang memerlukan penjelasan dari para ahli geologi.
Dalam kesempatan itu, para praktisi geopark dan akademisi budaya diberikan waktu untuk berbagi konsep dan pengalaman dalam pengelolaan geopark.
Dr. Azizul Kholis selaku General Manager BP TC-UGGp mengusung judul presentasi "Keharmonisan Masyarakat Adat & Keberagaman Geo-Bio-Cultural". Presentasi kemudian dilanjutkan oleh Penasihat JGI Farid Mohamad Zaini dan ahli kebudayaan Karo, Dr. Jakmen Sinulingga, dengan tema spesifik masing-masing.
Farid Mohamad Zaini menggugah para peserta dengan mengingatkan bahwa masyarakat lokal merupakan penjaga pertama kawasan geopark.
"Pelestarian tidak pernah lahir hanya dari regulasi, melainkan dari rasa memiliki terhadap tanah tempat kehidupan bertumbuh," ujar Farid.
Sementara itu, Dr. Jakmen menjelaskan pentingnya membangun jejaring geowisata lintas negara agar generasi muda memiliki ruang kolaborasi dalam mengembangkan inovasi berbasis warisan bumi.
Setelah menyelesaikan sesi konferensi, seluruh peserta dipandu mengikuti kunjungan lapangan (field trip). Objek kunjungan meliputi situs-situs geologi eksklusif dan cagar budaya prasejarah yang diakui dunia.
Dalam kesempatan itu, Berliana Purba, praktisi dan inisiator pemberdayaan UMKM di Kaldera Toba, menyatakan pengakuan Toba Caldera sebagai UNESCO Global Geopark telah membuka peluang bagi berkembangnya produk-produk lokal yang lahir dari identitas kawasan. Ia juga melihat pentingnya memahami kedudukan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan geopark sehingga pemberdayaan melalui pariwisata dan industri kreatif menjadi blueprint yang harus dikerjakan.
"Melalui pengembangan geoproduk kopi Toba dan teh Simarbosibosi, saya telah merasakan manfaat nyata dari jejaring geopark dunia. Produk kopi yang saya kembangkan telah dipilih oleh PT Fresh Vegetable Market Ltd untuk menjadi bagian dari portofolio produk perusahaan tersebut," sebutnya.
Berliana juga mengusulkan agar ke depan setiap geopark memiliki geomart, yaitu ruang yang memasarkan geoproduk masyarakat setempat kepada dunia. Tidak hanya kerajinan tangan, tetapi juga geofood, yakni sajian kuliner yang memanfaatkan kekayaan alam dan budaya kawasan geopark.
"Peluangnya sangat besar di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap produk-produk alami dan berkelanjutan, wellness tourism, serta gaya hidup back to nature," katanya.
Timbalan Menteri Dalam Negeri Perak sekaligus Ahli Parlimen Lenggong, Datuk Seri Dr. Shamsul Anuar Nasarah, secara resmi menyatakan The 7th Geotourism Festival & International Conference 2026 ditutup. (ril)





















