Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Ekspor Minyak Venezuela ke AS Sedang Dibahas Pasca Maduro Ditangkap, Ambil Jatah China

Mistar.idRabu, 7 Januari 2026 pukul 10.41 WIB
ekspor_minyak_venezuela_ke_as_sedang_dibahas_pasca_maduro_ditangkap_ambil_jatah_china

Pegawai kilang minyak milik negara Venezuela, PDVSA, mengikuti latihan mitigasi bencana dan serangan bersenjata di El Palito, Puerto Cabello, Negara Bagian Carabobo, 27 September 2025. (foto: AFP)

news_banner

Washington DC, MISTAR.ID

Pemerintah Venezuela dan Amerika Serikat (AS) sedang melakukan pembicaraan untuk mengekspor minyak mentah Venezuela ke kilang-kilang di AS. Informasi ini diungkap lima sumber dari kalangan pemerintah, industri, dan pelayaran kepada Kantor berita Reuters, dikutip Rabu (7/1/2026).

Kesepakatan tersebut berpotensi mengalihkan pasokan minyak Venezuela yang sedianya untuk China, sekaligus membantu perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam.

Saat ini, Venezuela memiliki jutaan barel minyak yang tertahan di kapal tanker dan tangki penyimpanan. Minyak tersebut tidak dapat dikirim akibat blokade ekspor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump sejak pertengahan Desember 2025.

Blokade itu merupakan bagian dari peningkatan tekanan Washington terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, yang berpuncak pada penangkapan Maduro oleh pasukan AS pada akhir Sabtu (3/1/2026).

Berpotensi alihkan jatah ChinaSejumlah sumber menyebutkan, jika kesepakatan tercapai, pengiriman minyak ke AS kemungkinan akan dilakukan dengan mengalihkan kargo yang semula ditujukan ke China.

Selama satu dekade terakhir, China merupakan pembeli utama minyak Venezuela, terutama setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap perdagangan minyak Venezuela pada 2020. Saat ini, aliran minyak Venezuela ke AS sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra usaha patungan utama PDVSA, berdasarkan izin khusus dari pemerintah AS.

Chevron selama ini mengekspor sekitar 100.000 hingga 150.000 barrel minyak Venezuela per hari ke AS. Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan asal AS tersebut menjadi satu-satunya pihak yang relatif lancar memuat dan mengirim minyak Venezuela di tengah blokade.

PDVSA sendiri telah memangkas produksi karena kapasitas penyimpanan hampir penuh. Jika tidak segera menemukan jalur ekspor baru, pemangkasan produksi diperkirakan akan diperluas.

Reuters melaporkan, Gedung Putih, pemerintah Venezuela, dan PDVSA belum memberikan tanggapan resmi mengenai hal ini. Sebelumnya, Kementerian Perminyakan Venezuela menuduh AS berupaya “mencuri” cadangan minyak negara itu dan menyebut penangkapan Maduro sebagai tindakan penculikan.

Kilang AS mampu olah minyak berat Venezuela Kilang-kilang minyak AS di kawasan Pantai Teluk diketahui mampu mengolah minyak mentah berat Venezuela. Sebelum sanksi energi pertama diberlakukan, AS mengimpor sekitar 500.000 barrel minyak Venezuela per hari. Namun, belum jelas bagaimana PDVSA yang masih berada di bawah sanksi dapat menerima hasil penjualan minyak tersebut.

Menurut sumber Reuters, pembicaraan pekan ini mencakup sejumlah skema penjualan, termasuk mekanisme lelang bagi pembeli AS serta penerbitan lisensi AS kepada mitra bisnis PDVSA yang memungkinkan kontrak pasokan. Selain itu, dibahas pula kemungkinan minyak Venezuela digunakan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS di masa depan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN