Friday, October 30, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Drone Rusia Hantam Stasiun Kereta Dnipro, 15 Orang Tewas

Mistar.idJumat, 30 Oktober 2026 pukul 16.11 WIB
drone_rusia_hantam_stasiun_kereta_dnipro_15_orang_tewas

Petugas medis dan polisi membawa seorang korban luka di stasiun kereta api setelah serangan drone Rusia menghantam Kota Dnipro, Ukraina, Kamis (29/10/2026). (foto: State Emergency Service of Ukraine/Reuters)

Dnipro, MISTAR.ID - Drone-drone Rusia menghantam stasiun kereta api utama di Kota Dnipro, Ukraina tengah, Kamis (29/10/2026) pagi. Serangan tersebut menewaskan 15 orang yang sedang menunggu keberangkatan kereta dan melukai 10 lainnya.

Serangan ini menjadi bagian dari gelombang terbaru serangan Rusia terhadap infrastruktur transportasi dan energi Ukraina yang kembali menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Dilansir CNN, Jumat (30/10/2029), otoritas Ukraina melaporkan sedikitnya 19 orang tewas dalam sejumlah serangan di berbagai wilayah pada Kamis. Di antara korban terdapat dua remaja perempuan berusia 15 tahun yang meninggal akibat serangan Rusia di Kota Chernihiv, Ukraina utara.

Selain itu, tiga orang lainnya tewas setelah sebuah drone Rusia menghantam bangunan tempat tinggal di wilayah Poltava.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam serangan terhadap stasiun Dnipro. Melalui unggahan di platform X pada Kamis siang, dia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang sengaja menyasar warga sipil.

“Ini adalah serangan yang disengaja terhadap warga sipil, dengan kekejaman yang terang-terangan,” kata Zelensky.

Dia juga menyoroti waktu serangan tersebut yang berlangsung ketika operasi kemanusiaan di Kota Oleshky, wilayah Kherson selatan, sedang berjalan.

Rusia dan Ukraina sejak Selasa diketahui menyepakati gencatan senjata terbatas di wilayah Kherson. Kesepakatan yang dimediasi Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, itu bertujuan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Oleshky, kota yang berada di bawah pendudukan Rusia.

Ribuan warga di kota tersebut dilaporkan terjebak akibat pertempuran dan mengalami kesulitan mendapatkan listrik, makanan segar, serta pasokan air.

Zelensky menilai serangan terbaru Rusia menunjukkan Moskow tidak memiliki keinginan untuk menghentikan perang. Dia pun mendesak negara-negara sekutu Ukraina meningkatkan tekanan terhadap Rusia.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen turut mengecam serangan di Dnipro. Dia mengaku terpukul atas serangan yang disebutnya tidak masuk akal dan tidak pandang bulu tersebut.

Menurut von der Leyen, negara-negara sekutu harus melakukan segala upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap pihak yang melakukan agresi.

Ukraina Desak Sanksi Rusia Diperketat

Di tengah meningkatnya serangan, Ukraina kembali meminta negara-negara Barat memperketat sanksi terhadap Rusia, khususnya yang berkaitan dengan sektor energi.

Desakan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi terkait penjualan bahan bakar fosil Rusia pada awal Oktober.

Kebijakan tersebut memicu kekecewaan Kyiv yang selama ini mendorong pembatasan lebih keras terhadap ekspor energi Rusia.

Media pemerintah Rusia pada Rabu juga melaporkan bahwa Washington tengah berunding dengan Kremlin mengenai kemungkinan pencabutan sanksi terhadap dana kekayaan negara Rusia yang bernilai miliaran dolar. Sanksi tersebut sebelumnya diberlakukan pemerintahan Joe Biden setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

Komisioner Kepresidenan Ukraina untuk Kebijakan Sanksi, Vladyslav Vlasiuk, menegaskan pencabutan sanksi seharusnya tidak dilakukan sebelum Rusia menunjukkan tindakan konstruktif.

“Kalian tidak bisa mencabut sanksi lalu berharap Rusia mengambil tindakan. Tindakan konstruktif harus dilakukan terlebih dahulu,” ujarnya kepada CNN.

Serangan Rusia tidak berhenti di Dnipro. Menurut Wali Kota Kyiv, pada Kamis malam, Rusia melancarkan serangan menggunakan rudal balistik ke ibu kota negara ini.

Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Zelensky memperingatkan bahwa Rusia tengah mempersiapkan serangan baru terhadap Ukraina.

Pada hari yang sama, seorang pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia (ZNPP) juga dilaporkan tewas akibat serangan drone. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengecam insiden tersebut.

Sementara itu, Zelensky dalam pidato malamnya mengklaim pasukan Ukraina telah melancarkan serangan rudal yang menargetkan dua pesawat tempur-pembom Rusia dan sebuah peluncur rudal balistik Iskander. Hingga laporan tersebut disampaikan, Moskow belum memberikan komentar atas klaim Ukraina.

Terkait gencatan senjata di Oleshky, Rusia sebelumnya telah menegaskan bahwa penghentian pertempuran hanya berlaku di wilayah tersebut, bukan untuk seluruh medan perang Ukraina.

Kedua pihak disebut telah mematuhi ketentuan gencatan senjata terbatas itu. Kesepakatan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga pukul 22.59 waktu setempat pada 1 November. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN