Monday, September 14, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Maudy Ayunda Akui Privilege dalam Konten Mindfulness, Minta Maaf soal Berita Buruk

Mistar.idSenin, 14 September 2026 pukul 14.27 WIB
maudy_ayunda_akui_privilege_dalam_konten_mindfulness_minta_maaf_soal_berita_buruk

Maudy Ayunda (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID — Maudy Ayunda kembali memberikan penjelasan terkait videonya yang membahas cara menghadapi derasnya pemberitaan negatif. Setelah menuai beragam tanggapan dari netizen, Maudy menyadari ada satu perspektif penting yang belum cukup ia sampaikan, yaitu soal privilege atau hak istimewa ketika seseorang memiliki pilihan untuk menjauh sejenak dari berita.

Penjelasan tersebut disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Pada Minggu (13/9/2026), ia merespons sejumlah komentar yang muncul setelah konten tersebut menjadi perbincangan.

Maudy mengakui bahwa kemampuan seseorang untuk membatasi paparan terhadap berita tidak selalu dimiliki semua orang. Bagi sebagian masyarakat, informasi mengenai kondisi sosial justru berkaitan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari.

"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya," ujar Maudy.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf karena perspektif mengenai privilege tersebut belum cukup tercermin dalam video yang dibuatnya.

Berawal dari pengalaman menghadapi banjir informasi

Video Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah pada 21 Agustus 2026 sebenarnya dibuat Maudy untuk membagikan pengalaman pribadinya dalam menghadapi banjir informasi.

Menurut Maudy, paparan terhadap berbagai kabar buruk secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi emosional dan mentalnya. Karena itu, ia mencoba mengatur kembali informasi yang masuk dengan lebih selektif.

Maudy memilih menyaring sumber berita, menentukan bacaan yang ingin diikuti, serta berdiskusi dengan orang yang dianggap memiliki pemahaman terhadap isu tertentu.

Ia mengatakan tidak ingin sepanjang hari terus-menerus terpapar berita buruk karena hal tersebut dapat membuatnya kehilangan semangat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Sebagai seseorang yang mengaku cukup emosional dan sering berpikir berlebihan, Maudy merasa perlu membuat batasan agar tidak terus terbawa oleh seluruh informasi yang muncul.

Kebiasaan tersebut, menurutnya, juga membantunya memahami kondisi emosional diri sendiri ketika berhadapan dengan berbagai kabar negatif.

Konten Maudy mendapat kritik dari netizen

Pesan yang disampaikan Maudy kemudian mendapatkan interpretasi berbeda dari sebagian penonton. Sejumlah netizen menilai konsep membatasi paparan berita tidak dapat diterapkan dengan cara yang sama kepada semua orang.

Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak suatu peristiwa, berita tersebut bukan sekadar informasi yang dapat dimatikan atau dihindari. Kondisi yang diberitakan bisa berhubungan langsung dengan keluarga, pekerjaan, lingkungan, hingga kehidupan mereka.

Perspektif tersebut kemudian membuat Maudy mengevaluasi kembali pesan yang ingin disampaikannya.

Ia menegaskan bahwa mindfulness yang dibicarakannya tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk mengabaikan persoalan sosial ataupun menjauh dari kenyataan.

"Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja," kata Maudy.

Maudy tegaskan mindfulness bukan berarti tidak peduli

Maudy kemudian menjelaskan bahwa mindfulness justru diharapkan dapat membantu seseorang melihat sebuah persoalan secara lebih jernih.

Menurutnya, kesadaran tersebut dapat membuat seseorang memahami hubungan sebab-akibat, tetap peduli terhadap keadaan sekitar, serta lebih peka terhadap orang-orang yang terkena dampak langsung dari sebuah peristiwa.

"Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak," ujarnya.

Di akhir klarifikasinya, Maudy mengapresiasi orang-orang yang memberikan kritik dan perspektif berbeda. Ia menganggap tanggapan tersebut sebagai bagian dari proses belajar untuk memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

"Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I'm listening and learning," tutur Maudy.

Klarifikasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai kesehatan mental, konsumsi berita, dan mindfulness memiliki konteks yang berbeda bagi setiap orang. Kemampuan untuk mengambil jarak dari berita juga tidak terlepas dari kondisi sosial dan posisi seseorang dalam menghadapi sebuah peristiwa.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN