Enam Film Indonesia Tampil di Tokyo International Film Festival 2026

Perwakilan Film Indonesia di Tokyo International Film Festival 2026. (Foto: Instagram @merahsebelumfajar)
Mengangkat tema keluarga, Desember Jani lahir dari refleksi Ariani terhadap hubungan anak dan orang tua setelah menjalani jeda berkarya selama 15 tahun. Bersama penulis dan penyair Cyntha Hariadi, ia mengembangkan cerita tersebut selama tiga tahun setelah membaca kumpulan cerpen Manifesto Flora karya Cyntha.
Film ini berkisah tentang Jani, anak berusia 13 tahun yang mendengar pertengkaran antara kakaknya, Julia, dan ibunya, Winnie. Keesokan harinya, Julia pergi tanpa kabar. Winnie yang merupakan ibu tunggal sekaligus pencari nafkah keluarga semakin sering kehilangan kesabaran, sementara Jani memendam kemarahan dan menemukan ketenangan bersama neneknya.
Jani kemudian diam-diam mengirim pesan kepada Julia sebelum akhirnya menghadapi ibunya. Berlatar empat hari pada Desember menjelang Natal, film ini menggambarkan perubahan batin seorang anak perempuan serta hubungan tiga generasi perempuan dengan perasaan, luka, dan cara mencintai yang berbeda.
Film tersebut dibintangi Chempa Puteri sebagai Jani, Sigi Wimala sebagai Winnie, Hyori Mika sebagai Julia, dan Tutie Kirana sebagai Oma. Skenarionya ditulis Cyntha Hariadi dan diproduseri Meiske Taurisia.
Desember Jani dijadwalkan diputar pada 27 dan 29 Oktober 2026 di TOHO Cinemas Chanter 2. Meiske menilai perjalanan film ini ke Tokyo menunjukkan bahwa kisah lokal dapat menjangkau penonton dari latar budaya berbeda. Ariani juga berharap penonton di Jepang maupun Indonesia dapat menemukan cerminan keluarga mereka sendiri dalam cerita tersebut.
3. Empat Musim Pertiwi, perjalanan perempuan kembali ke kampung halaman
Film Four Seasons in Java atau Empat Musim Pertiwi garapan Kamila Andini juga hadir di TIFF 2026. Film yang dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim ini mengisahkan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara yang panjang.
Di desa yang terasa menyesakkan, Pertiwi berusaha menemukan jalan untuk kembali menjalani hidup bersama orang-orang lain yang juga tersisih dari lingkungan mereka.
Film tersebut melakukan penayangan perdana di Jepang melalui program CROSSCUT ASIA+, sebuah inisiatif TIFF dan Japan Foundation yang menghadirkan pilihan film Asia Tenggara melalui kurasi programmer dari kawasan tersebut dan Jepang.
Pada edisi kali ini, programmer Raslene dari Indonesia dan Ueda Masayuki dari Jepang memilih enam film dengan tema “Side by Side”.
4. Turang, menghubungkan sejarah sinema dan perjuangan di Tanah Karo
Film klasik Turang karya sutradara Bachtiar Siagian turut masuk dalam program CROSSCUT ASIA+. Film produksi 1957 ini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perfilman Indonesia.
Turang pertama kali diputar di Istana Negara dan disaksikan Presiden Sukarno. Pada 1960, film ini meraih gelar Film Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional, yang menjadi cikal bakal Festival Film Indonesia.
Berlatar perjuangan kemerdekaan di Tanah Karo, film ini mengikuti kisah Rusli yang terluka dan jatuh cinta kepada Tipi, perempuan yang merawatnya. Ketika seorang pengkhianat membantu serangan Belanda, warga desa harus bersatu untuk melawan dan mempertahankan hidup mereka.
Kehadiran Turang di Tokyo menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sejarah sinema Indonesia sekaligus kisah perjuangan kemerdekaan di wilayah Karo kepada penonton internasional.
Film ini dijadwalkan diputar pada 26 dan 30 Oktober 2026 di TOHO Cinemas Chanter. Penayangannya juga menghadirkan sesi tanya jawab bersama peneliti Bunga Siagian, putri sutradara Bachtiar Siagian.
5. Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan, menyoroti pentingnya arsip film
Film dokumenter Behind the Flickering Light: The Archive (2013), yang dikenal juga sebagai Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip), menjadi film Indonesia lainnya dalam program CROSSCUT ASIA+.
Disutradarai Hafiz Rancajale, film ini mengulas pemikiran Misbach Yusa Biran, tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan dan melestarikan sejarah perfilman Indonesia.
Dokumenter tersebut membahas berbagai persoalan terkait pelestarian warisan audiovisual, mulai dari cara menyimpan film, pihak yang bertanggung jawab menjaga arsip, risiko kerusakan material, hingga pentingnya dokumentasi bagi perjalanan sejarah perfilman nasional.
Film ini dijadwalkan diputar pada 26 Oktober 2026 di TOHO Cinemas Chanter.
6. Monster Pabrik Rambut, film horor Edwin tayang perdana di Jepang
Film horor Sleep No More atau Monster Pabrik Rambut karya sutradara Edwin juga mendapat kesempatan tampil di TIFF 2026. Film ini dijadwalkan tayang perdana di Jepang pada 3 November 2026 di TOHO Cinemas Hibiya.
Sebelumnya, Monster Pabrik Rambut telah tayang di bioskop Indonesia pada 4 Juni 2026. Film tersebut juga mengikuti sejumlah festival internasional, termasuk Berlin International Film Festival (Berlinale) ke-76 pada Februari 2026, Brussels Fantastic Film Festival ke-44, dan Hong Kong International Film Festival ke-50 pada April 2026.
Kehadiran film ini melengkapi ragam karya Indonesia yang tampil di TIFF 2026, sekaligus memperlihatkan keberagaman genre perfilman nasional, dari drama sejarah dan keluarga hingga horor. (hm25/antara)













































