Saturday, August 8, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Creative Producer Magma Entertainment Ingatkan Film Indonesia Tak Terjebak Pola Lama

Mistar.idSabtu, 8 Agustus 2026 pukul 19.25 WIB
creative_producer_magma_entertainment_ingatkan_film_indonesia_tak_terjebak_pola_lama

dr. Daniel Irawan, Creative Producer di Magma Entertainment (foto: susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Industri film Indonesia tengah menikmati pertumbuhan pasar yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di tengah meningkatnya dominasi penonton muda dari kalangan Gen Z serta masyarakat kelas menengah ke bawah, pelaku industri film diingatkan agar tidak terjebak membuat karya dengan pola yang sama.

Creative Producer Magma Entertainment, dr. Daniel Irawan, menilai keberhasilan sebuah film saat ini sangat bergantung pada kemampuan karya tersebut membangun keterikatan emosional dengan penonton. Menurutnya, mayoritas penonton bioskop tidak terlalu mempersoalkan proses teknis pembuatan film, melainkan pengalaman emosi yang mereka dapatkan.

“Kebanyakan mungkin 60-70 persen adalah audiens publik yang memang nggak mau tahu dengan teknis, kesulitan pembuatan. Mereka cuma ngerti satu, emosi. Pokoknya mereka datang ke bioskop bisa serem, ketawa, sedih,” katanya, Sabtu (8/8/2026).

Daniel menyebut genre horor menjadi salah satu yang mengalami peningkatan popularitas setelah pandemi Covid-19. Namun, menurutnya, kesuksesan sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh genre, melainkan juga kemampuan menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ia mencontohkan keberhasilan film Agak Laen maupun film Thailand How to Make Millions Before Grandmother Dies yang mampu menarik perhatian penonton karena memiliki unsur emosi dan kedekatan dengan realitas sehari-hari.

Menurut Daniel, tim kreatif rumah produksi harus mampu memastikan karya yang dibuat menjadi salah satu pilihan utama bagi penonton yang memiliki kebiasaan menonton film beberapa kali dalam sebulan.

“Bayangkan dalam seminggu ada 3 sampai 4 film Indonesia yang rilis. Berarti dalam sebulan ada 16. Tim kreatif harus yakin, paling tidak produk kita jadi pilihan 3 teratas dari 12 sampai 16 film lokal yang rilis, itu belum memperhitungkan film luar,” ujarnya.

Hal tersebut juga diterapkan Magma Entertainment melalui pengembangan Intellectual Property (IP). Melalui sejumlah karya seperti Qodrat, Pemukiman Setan, hingga terbaru Badut Gendong, perusahaan tersebut menggabungkan unsur horor konvensional dengan elemen action.

Film Badut Gendong yang terinspirasi dari seni jalanan Solo bahkan berhasil dipasarkan ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan Vietnam. Sementara itu, Magma Entertainment juga menyiapkan film horor komedi berjudul Jumpscare yang dijadwalkan tayang Januari mendatang.

“Itu horor komedi yang mengambil homage ke genre vampir loncat dari Hong Kong, yang memang kental banget. Nggak mungkin ada film vampir-vampir Hong Kong tanpa action,” tuturnya.

Meski film Indonesia saat ini mampu menguasai pangsa pasar dalam negeri dan bersaing dengan film Hollywood, Daniel mengingatkan adanya potensi kejenuhan apabila industri hanya mengikuti tren yang sedang populer.

Ia mencontohkan fenomena film horor erotik pada periode 2008–2010 yang membuat pasar film Indonesia mengalami penurunan karena banyak rumah produksi menghadirkan pola serupa.

“Satu saat seperti dulu horor erotik di tahun 2008–2010 itu sempat matiin film Indonesia, jadi turun lagi jumlah penontonnya karena semuanya bikin yang sama. Akhirnya penonton bosan dan tidak mau lagi datang ke bioskop,” katanya.

Menurut Daniel, keberanian menghadirkan genre atau subgenre baru menjadi salah satu kunci menjaga keberlangsungan industri film nasional. Namun, ide baru tersebut tetap harus dikembangkan dengan kualitas produksi yang baik agar dapat diterima masyarakat.

Ia juga menilai keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri bagi industri film Indonesia dibandingkan negara lain. Karena itu, para pelaku industri perlu membangun sistem produksi yang efektif agar mampu menghasilkan karya berkualitas.

“Perlu ada interaksi dari penonton, filmmaker, dan pemerintah juga untuk menjaga ekosistem ini supaya film Indonesia nggak gitu-gitu aja,” katanya. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN