Thursday, September 10, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Yen Menguat Tajam, Carry Trade Terancam: IHSG Ikut Terpukul?

Mistar.idKamis, 10 September 2026 pukul 13.38 WIB
yen_menguat_tajam_carry_trade_terancam_ihsg_ikut_terpukul

Yen Menguat Tajam, Carry Trade Terancam: IHSG Ikut Terpukul? (foto ilustrasi:nanobanana2/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (10/9/2026) — Penguatan tajam yen Jepang kembali membuat investor global waspada. Bukan hanya karena mata uang Negeri Sakura itu menguat, tetapi karena kenaikan yen dapat memicu pembongkaran carry trade—strategi investasi yang selama bertahun-tahun ikut mengalirkan dana murah Jepang ke berbagai aset berisiko di dunia.

Yen telah menguat hampir 5% sejak pekan lalu dan sempat menyentuh 152,89 per dolar AS, level terkuat sejak Februari. Penguatan ini didorong ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), repatriasi dana investor Jepang, serta mulai berbaliknya posisi carry trade.

Situasi tersebut menghidupkan kembali memori gejolak pasar 2024. Pertanyaannya kini bukan sekadar seberapa kuat yen menguat, tetapi apakah penguatan itu cukup besar untuk memicu carry trade unwind dan menyeret pasar saham global, termasuk IHSG.

Mengapa Yen Bisa Mengguncang Pasar?

Carry trade bekerja dengan cara sederhana: investor meminjam yen dengan biaya rendah, lalu mengalihkan dana tersebut ke mata uang atau aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Selama yen melemah atau stabil, strategi ini bisa menghasilkan keuntungan dari selisih imbal hasil.

Masalah muncul ketika yen menguat cepat.

Investor yang sebelumnya meminjam yen menghadapi kenaikan nilai kewajiban. Untuk mengurangi risiko, mereka dapat menutup posisi dengan membeli kembali yen dan menjual aset yang sebelumnya dibeli.

Jika dilakukan banyak investor secara bersamaan, proses tersebut berubah menjadi carry trade unwind.

Reuters menyebut outstanding cross-border yen borrowing—salah satu proksi skala aktivitas carry trade—mencapai sekitar ¥360 triliun atau US$2,35 triliun pada Maret 2026. Besarnya posisi ini membuat perubahan arah yen menjadi perhatian serius pasar.

Dari Yen ke Saham, Bagaimana Rantainya?

Risikonya dapat bergerak melalui satu rantai sederhana:

Yen menguat → carry trade tertekan → posisi ditutup → aset berisiko dijual → likuiditas mengetat.

Tekanan pertama bisa muncul pada aset yang paling likuid dan mudah dijual, termasuk saham.

Saham teknologi dan saham dengan valuasi tinggi menjadi salah satu kelompok yang rentan karena investor cenderung memangkas aset berisiko ketika leverage dikurangi. Pengalaman 2024 menunjukkan pembalikan carry trade dapat memperbesar volatilitas pasar saham, terutama ketika posisi investor sudah terlalu terkonsentrasi.

Namun, penguatan yen tidak otomatis berarti pasar saham global akan jatuh. Dampaknya sangat bergantung pada kecepatan penguatan yen, kebijakan BOJ, posisi investor, serta kondisi likuiditas global.

Lalu, Apa Dampaknya ke IHSG?

IHSG tidak harus memiliki eksposur langsung terhadap yen untuk terkena dampaknya.

Indonesia berada dalam kelompok pasar berkembang yang sensitif terhadap arus modal global. Ketika investor masuk mode risk-off, dana dapat ditarik dari aset berisiko dan dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Jika carry trade dibongkar secara agresif, tekanan terhadap IHSG dapat muncul melalui arus keluar investor asing, pelemahan rupiah, dan penurunan minat terhadap aset berisiko.

Karena itu, risiko bagi IHSG bukan semata-mata “yen menguat”, melainkan perubahan arah dana global.

Investor asing yang membutuhkan likuiditas dapat menjual saham di berbagai pasar, termasuk pasar negara berkembang. Saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid berpotensi menjadi sasaran karena lebih mudah diperdagangkan dalam jumlah besar.

Apakah Saham Teknologi Paling Berisiko?

Saham teknologi global menjadi salah satu sektor yang diperhatikan karena valuasinya relatif tinggi dan kepemilikannya dapat terkonsentrasi.

Ketika investor harus mengurangi leverage, saham dengan valuasi tinggi dapat mengalami tekanan lebih besar. MarketWatch juga menilai penguatan yen berpotensi mengganggu saham teknologi dan AI jika memicu pembalikan carry trade secara cepat.

Namun untuk IHSG, investor sebaiknya tidak langsung menyamakan risiko saham teknologi AS dengan pasar Indonesia.

Yang lebih penting adalah memantau arus dana asing, rupiah, yield obligasi, dan saham-saham dengan bobot besar di IHSG. Jika seluruh indikator bergerak memburuk secara bersamaan, risiko koreksi pasar menjadi lebih besar.

Belajar dari Gejolak 2024

Pasar masih mengingat Agustus 2024 ketika perubahan kebijakan BOJ dan penguatan yen memicu pembongkaran carry trade. Gejolak tersebut kemudian merambat ke berbagai pasar saham global.

Kini investor menghadapi situasi yang sedikit berbeda. Pergerakan yen sudah menjadi perhatian sebelum keputusan BOJ, sehingga pelaku pasar memiliki waktu lebih panjang untuk menyesuaikan posisi. Reuters mencatat pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin, meski ketidakpastian terbesar adalah seberapa agresif bank sentral Jepang setelah kenaikan tersebut.

Artinya, risiko terbesar justru bisa muncul jika ekspektasi pasar dan keputusan BOJ berbeda jauh.

Jika BOJ lebih hawkish dari perkiraan, yen berpotensi kembali menguat dan memperbesar tekanan terhadap posisi carry trade.

Sebaliknya, jika BOJ memberikan sinyal lebih lunak, tekanan terhadap carry trade dapat mereda.

IHSG Perlu Waspada, Bukan Panik

Penguatan yen saat ini memang menjadi sinyal yang patut diperhatikan. Namun, belum tepat menyimpulkan bahwa IHSG pasti akan jatuh hanya karena yen menguat.

Kunci persoalannya adalah apakah penguatan yen berkembang menjadi carry trade unwind berskala besar.

Jika hanya terjadi penyesuaian posisi, dampaknya kemungkinan lebih terbatas. Tetapi jika investor global mulai berlomba menutup posisi leverage, tekanan dapat menjalar dari pasar valuta asing ke obligasi dan saham.

Bagi investor Indonesia, indikator yang layak diperhatikan adalah pergerakan yen, keputusan BOJ, rupiah, arus investor asing, yield obligasi global, serta saham-saham berkapitalisasi besar.

Sebab, ketika carry trade mulai dibongkar, yang bergerak bukan hanya yen.

Likuiditas global ikut dipertaruhkan—dan IHSG bisa menjadi salah satu pasar yang ikut merasakan dampaknya.

(investing/reuters/financialtimes/marketwatch/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN