Sunday, June 14, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Perjuangan Abdul Rozzaq Pulihkan Lahan Pertanian Pascabanjir Sumatra 2025

Mistar.idMinggu, 14 Juni 2026 10.52
AN
AA
perjuangan_abdul_rozzaq_pulihkan_lahan_pertanian_pascabanjir_sumatra_2025

Abdul Rozzaq Mubaroq, 38 tahun, saat merawat hamparan tanaman cabai rawit yang tumbuh subur di atas lahan restorasi pascabanjir di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. (Foto: Pertamina EP Rantau Field)

news_banner

Aceh Tamiang, MISTAR.ID

Sore itu, gurat lelah di wajah Abdul Rozzaq Mubaroq, 38 tahun, luruh bersama angin yang berembus di lahan pertanian cabainya di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Berdiri di antara bedengan tanah yang kembali menghijau, ia bercerita tentang sebuah perjuangan mahal, yaitu bangkit dari titik nol setelah dihantam bencana alam hebat.

Namun, ketegaran pria yang akrab disapa Rozzaq ini runtuh seketika. Air matanya mendadak berlinang saat ingatannya ditarik kembali pada peristiwa kelam November 2025 lalu. Kala itu, banjir Sumatra menyapu bersih tanpa sisa 1,8 hektare lahan pertanian yang menjadi urat nadi kehidupan keluarganya.

Seperti mimpi buruk, banjir bandang menyisakan pemandangan memilukan. Seluruh tanaman siap panen dan peralatan pertanian miliknya hanyut terbawa arus.

Ladang suburnya berubah menjadi hamparan sisa sampah dan timbunan lumpur pekat. Pada hari-hari pertama pascabencana, Rozzaq hanya bisa pasrah, mencoba bertahan di tengah ketidakpastian.

"Awal melihat lahan yang hancur ini, saya bingung mau mulai dari mana. Terkadang saya berpikir keras bagaimana cara memberi makan anak dan istri besok. Tiap malam saya pandang wajah mereka saat tidur. Ada rasa sedih, bingung, dan gelisah yang bercampur aduk," kata Rozzaq mengenang kejadian saat itu sembari menyeka air mata yang membasahi pipinya, Minggu (14/6/2026).

Namun, tatapan mata anak dan istrinya di setiap pagi menjadi pemantik semangat yang menyentak kesadarannya. Rozzaq menolak menyerah pada takdir buruk. Ia enggan berlarut dalam ratapan nestapa.

Saban hari, ketika genangan lumpur setinggi 30 sentimeter belum sepenuhnya surut, ia tetap melangkahkan kaki ke ladang. Menguras tenaga di bawah terik matahari, Rozzaq mengerjakan apa saja yang bisa digerakkan jemarinya demi mengembalikan struktur tanah.

Di gubuk bambunya, saat raga didera haus dan lapar, pikiran Rozzaq terus berputar merancang strategi penanaman kembali. Ia tidak ingin sekadar bertani dengan modal otot.

"Saya mulai belajar lagi di ladang. Saya baca jurnal-jurnal pertanian dan memutar video di YouTube tentang cara pengelolaan tanah dan mikroba pascabanjir. Saya tidak mau berleha-leha atau sekadar duduk minum kopi menghabiskan waktu, karena roda kehidupan harus terus berputar," ucapnya.

Begitu lumpur sisa banjir mulai mengering dan mengeras, Rozzaq memberanikan diri menyewa traktor untuk meratakan tanah. Tanah bekas banjir itu didiamkannya selama dua hingga tiga bulan.

Di tengah keraguan banyak orang, ia tetap optimistis bahwa material lumpur bawaan banjir tersebut kaya akan unsur hara yang bisa diolah kembali untuk tanaman hortikultura.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kegigihan Rozzaq mendapat perhatian pihak korporasi. Asa untuk pulih mendapat dorongan kuat berkat uluran tangan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP Rantau Field.

Melalui program recovery pascabencana tersebut, Rozzaq bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Muda mendapatkan suntikan bantuan sarana produksi, restorasi lahan, hingga bantuan 10 ribu bibit tanaman hortikultura, termasuk di dalamnya 6.000 bibit cabai dan 500 bibit tomat.

"Alhamdulillah, dari 1,8 hektare lahan kami, kini 21 rante sudah hijau kembali ditanami cabai dan sayuran. Rinciannya, 13 rante ditanami cabai rawit, lima rante cabai merah, dan tiga rante sayur sawi. Untuk sayur sawi bahkan sudah panen. Berkat dukungan Pertamina EP Rantau, saya bisa tegak kembali memenuhi kebutuhan hidup keluarga," ujarnya dengan binar mata bahagia.

Terpisah, Manager Community Involvement Development Regional 1 Pertamina, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan sektor pertanian merupakan klaster krusial yang wajib diprioritaskan dalam pemulihan pascabencana. Hal ini karena mayoritas masyarakat di sekitar wilayah operasional menggantungkan hidupnya pada sektor agro.

"Pertamina hadir untuk mendukung penuh proses recovery para petani penyintas banjir agar mereka bisa mandiri kembali. Besar harapan kami agar stimulus ini memberikan keberlangsungan hidup yang layak bagi mereka," tutur Iwan.

Program PPM yang inovatif dan berkelanjutan ini, tambah Iwan, dirancang melalui kolaborasi lintas sektoral demi memberikan sumber pendapatan baru bagi petani binaan.

Di sisi lain, program ini juga berjalan selaras dengan target pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan di wilayah Aceh Tamiang.

Kini, dari pohon-pohon cabai yang mulai berbunga di Tanjung Seumantoh, Abdul Rozzaq tidak hanya melihat masa depan hijau ladangnya, tetapi juga melihat senyum anak istrinya yang sempat hilang disapu banjir. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN