JP Morgan Prediksi Emas Bisa Tembus Rp3,4 Juta per Gram di Akhir 2026

JP Morgan memprediksi harga emas tembus Rp3,4 juta per gram di akhir 2026. (foto: ai/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Harga emas masih berpeluang melesat hingga akhir 2026. J.P. Morgan Global Research memproyeksikan harga logam mulia tersebut dapat mencapai US$6.000 per troy ounce pada Desember 2026, atau setara sekitar Rp3,44 juta per gram berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia sebesar Rp17.836 per dolar AS pada Jumat (14/8/2026).
Perhitungan tersebut menggunakan standar satu troy ounce yang setara sekitar 31,1035 gram.
Dalam laporan Mid-Year Market Outlook 2026 yang dipublikasikan melalui jpmorgan.com, J.P. Morgan masih melihat peluang emas mencapai US$6.000 per troy ounce pada Desember, meski pergerakannya semakin bergantung pada ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.
Kepala Strategi Logam Dasar dan Logam Mulia J.P. Morgan Gregory Shearer dalam laporan yang sama mengatakan faktor struktural yang menopang kenaikan logam mulia dalam beberapa tahun terakhir pada dasarnya masih bertahan. Faktor tersebut antara lain kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang (currency debasement), risiko fiskal, dan fragmentasi geopolitik.
Namun, angka Rp3,44 juta per gram bukan proyeksi harga jual emas Antam atau emas batangan lainnya di Indonesia. Angka tersebut merupakan hasil konversi harga emas dunia US$6.000 per troy ounce ke rupiah per gram. Harga jual emas di dalam negeri bisa berbeda karena dipengaruhi kurs rupiah, biaya, pajak, dan kebijakan masing-masing produsen.
Proyeksi lebih tinggi muncul dalam analisis J.P. Morgan Private Bank yang dipublikasikan melalui privatebank.jpmorgan.com. Lembaga tersebut memproyeksikan harga emas pada akhir 2026 mencapai US$6.150 per troy ounce, dengan rentang US$6.000-US$6.300.
J.P. Morgan Private Bank menjelaskan proyeksi tersebut ditopang posisi investasi emas yang dinilai belum terlalu padat serta masih terbukanya ruang pembelian oleh bank sentral negara berkembang.
Dalam analisis itu disebutkan, data 2025 menunjukkan porsi emas dalam total cadangan bank sentral negara berkembang masih berada di kisaran belasan persen rendah. Sementara China masih berada pada kisaran satu digit tinggi. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi bank sentral untuk terus menambah emas.
J.P. Morgan Private Bank juga mencatat kepemilikan emas melalui *exchange-traded fund* (ETF) masih berada di bawah level tertinggi 2022-2023. Keberadaan pembeli strategis jangka panjang, menurut lembaga itu, memberikan penopang terhadap harga emas.
Jika target US$6.150 per troy ounce dikonversikan menggunakan JISDOR Rp17.836 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp3,53 juta per gram. Sementara jika harga mencapai batas atas proyeksi US$6.300, nilai konversinya dapat mencapai sekitar Rp3,61 juta per gram dengan asumsi nilai tukar rupiah tetap sama.
Sebagai pembanding, survei Reuters terhadap 29 analis dan trader yang dipublikasikan pada 28 Juli 2026 menghasilkan median proyeksi harga emas sepanjang 2026 sebesar US$4.509 per troy ounce. Jika dikonversikan menggunakan JISDOR yang sama, nilainya setara sekitar Rp2,59 juta per gram.
Bank Sentral Terus Membeli Emas
Optimisme terhadap harga emas juga didukung pembelian bank sentral. Berdasarkan laporan *Central Bank Gold Statistics* yang dipublikasikan World Gold Council (WGC) melalui gold.org pada 2 Juli 2026, bank sentral dunia mencatat pembelian bersih sekitar 40 ton emas pada Mei.
WGC menyebut pembelian tersebut menunjukkan bank sentral masih mempertahankan minat terhadap emas meskipun harga mengalami volatilitas. Data yang digunakan WGC bersumber antara lain dari International Monetary Fund (IMF) dan laporan bank sentral.
Pembelian bank sentral juga telah menjadi salah satu penopang utama permintaan emas dalam beberapa tahun terakhir. Dalam *Central Bank Gold Reserves Survey 2026* yang dipublikasikan melalui gold.org pada 16 Juni 2026, WGC mencatat bank sentral rata-rata mengakumulasi sekitar 1.000 ton emas per tahun selama empat tahun terakhir, dua kali lipat dibandingkan rata-rata sekitar 500 ton per tahun pada satu dekade sebelumnya.
Meski prospek emas masih dinilai kuat, J.P. Morgan tidak menutup kemungkinan adanya tekanan terhadap harga.
Dalam laporan yang sama, J.P. Morgan Global Research menyebut peluang kenaikan suku bunga menjadi salah satu tantangan bagi logam mulia. Karena emas tidak memberikan bunga, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi dibandingkan emas.
Federal Reserve sendiri masih mempertahankan suku bunga acuannya. Dalam pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dipublikasikan melalui federalreserve.gov pada 29 Juli 2026, The Fed mempertahankan target federal funds rate pada kisaran 3,50-3,75 persen.
The Fed menyatakan keputusan tersebut diambil untuk mendukung mandat gandanya dalam menjaga stabilitas harga dan kondisi ketenagakerjaan.
Sementara itu, data terbaru U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS) yang dipublikasikan melalui bls.gov pada 12 Agustus 2026 menunjukkan inflasi AS berdasarkan Consumer Price Index (CPI) mencapai 3,4 persen secara tahunan pada Juli, melambat dari 3,5 persen pada Juni.
BLS juga mencatat inflasi inti, yang tidak memasukkan makanan dan energi, naik 2,5 persen secara tahunan, turun dari 2,6 persen pada bulan sebelumnya.
Perkembangan inflasi tersebut akan menjadi salah satu data yang diperhatikan pasar untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS berikutnya. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Bawang Turun, Cabai Masih Fluktuatif di Medan




















