Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi Pematangsiantar 0,57 Persen, BI Siapkan Langkah Strategis

Mistar.idKamis, 5 Maret 2026 pukul 10.29 WIB
inflasi_pematangsiantar_057_persen_bi_siapkan_langkah_strategis

Ilustrasi Inflasi. (Foto: Net)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Tekanan harga menjelang momen Ramadan dan Idulfitri mulai mendongkrak angka inflasi di Kota Pematangsiantar. Berdasarkan data terbaru, inflasi tercatat sebesar 0,57 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Februari 2026.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Pematangsiantar menyentuh angka 5,52 persen. Sementara inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd) berada di level 0,46 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, menjelaskan peningkatan konsumsi masyarakat terhadap pangan strategis menjadi motor utama inflasi.

"Untuk komoditas penyumbang inflasi, emas perhiasan sebesar 0,27 persen, tomat 0,23 persen, dan daging ayam ras 0,17 persen. Sedangkan penyumbang deflasi, seperti cabai rawit 0,11 persen, bawang merah 0,09 persen, dan telur ayam ras 0,05 persen," ujarnya kepada Mistar pada Kamis (5/3/2026).

Menanggapi tren kenaikan ini, BI Pematangsiantar terus memperkuat kolaborasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Pemerintah Daerah guna menjaga ketersediaan stok menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

"Beberapa langkah konkret yang telah dan akan diambil seperti optimalisasi toko pengendalian inflasi (Topis) untuk memfasilitasi distribusi pangan dari Bulog langsung ke pedagang. Tindakan ini dapat menekan harga di tingkat konsumen guna memperkuat infrastruktur logistik dan komitmen pasokan pangan melalui skema kerja sama tani,” tuturnya.

Langkah selanjutnya menggelar gerakan pangan murah (GPM) disinergikan dengan program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) untuk menyediakan bahan pokok terjangkau.

Ahmadi memprediksi tantangan inflasi masih berlanjut pada Maret 2026. Selain faktor musiman menjelang Lebaran, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga patut diwaspadai karena berpotensi mengerek biaya distribusi dan energi.

"Kami berkomitmen menjaga stabilitas nilai rupiah melalui bauran kebijakan moneter dan sistem pembayaran yang kuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Pematangsiantar," tuturnya. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN