Tuesday, June 9, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Gejolak Global Memanas, BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50% Demi Selamatkan Rupiah.

Mistar.idSelasa, 9 Juni 2026 13.34
journalist-avatar-top
gejolak_global_memanas_bi_naikkan_suku_bunga_jadi_550_demi_selamatkan_rupiah

Ilustrasi suku bunga naik (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Bank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah tegas dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar pada Selasa (9/6/2026), BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,50 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar Rupiah yang tengah menghadapi tekanan akibat tingginya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Menurut Perry, kebijakan ini juga bersifat antisipatif untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027.

"Kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali," ujar Perry dalam keterangannya.

Rupiah Tertekan, Investasi Asing Jadi Fokus

Bank Indonesia menilai pergerakan Rupiah dalam beberapa pekan terakhir lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain dipengaruhi ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah juga dipicu keluarnya investasi portofolio asing dari pasar keuangan Indonesia.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BI berupaya meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik agar aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia.

Empat Langkah Tambahan BI

Tidak hanya menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga meluncurkan sejumlah kebijakan pendukung guna memperkuat stabilitas pasar keuangan.

Pertama, BI akan meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan agar investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara lain.

Kedua, BI memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai atau hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan minat investor global menempatkan dananya di Indonesia.

Ketiga, Bank Indonesia membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan berbagai pilihan tenor mulai dari tiga hingga 12 bulan. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.

Keempat, BI akan meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing. Salah satunya melalui penambahan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali dalam sepekan serta penguatan intervensi di pasar valuta asing.

Koordinasi BI dan Pemerintah Diperkuat

Perry Warjiyo menegaskan bahwa Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, khususnya dalam sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal.

Sinergi tersebut difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, memastikan likuiditas tetap memadai, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut Perry, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan memiliki daya tahan yang baik dalam menghadapi tekanan global. Karena itu, koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal akan terus diperkuat agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN