Saturday, July 18, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Terkapar ke Rp17.880 per Dolar AS, Tertekan Suku Bunga The Fed

Mistar.idJumat, 29 Mei 2026 pukul 16.43 WIB
rupiah_terkapar_ke_rp17880_per_dolar_as_tertekan_suku_bunga_the_fed

Rupiah Terkapar ke Rp17.880 per Dolar AS, Tertekan Suku Bunga The Fed

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (29/5). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.880 per dolar AS atau melemah 35 poin setara 0,20 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terlihat bervariasi. Yuan China menguat 0,12 persen, peso Filipina naik 0,03 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,27 persen terhadap dolar AS.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia lainnya justru mengalami tekanan. Dolar Singapura melemah 0,16 persen, yen Jepang turun 0,03 persen, won Korea Selatan terkoreksi cukup dalam hingga 1,08 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,02 persen.

Mata uang utama negara maju juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,12 persen, poundsterling Inggris melemah 0,17 persen, dolar Australia terkoreksi 0,11 persen, serta dolar Kanada turun 0,12 persen. Sementara itu, franc Swiss bergerak stabil.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan Indonesia.

Dari sisi global, pasar merespons kabar potensi perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi volatilitas harga minyak dunia. Namun di saat bersamaan, ekspektasi suku bunga tinggi bank sentral AS atau The Fed masih menjadi sentimen utama setelah data inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.

“Kebijakan The Fed yang menahan suku bunga di level tinggi memicu larinya arus modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari arus keluar modal asing, kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal, serta meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor dan pembayaran korporasi.

Kondisi tersebut membuat permintaan dolar AS di pasar domestik meningkat sehingga menekan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini.

Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN