Rupiah Cetak Rekor Terburuk, BI Diproyeksikan Naikkan Suku Bunga Jadi 5 Persen

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing. (Foto: Antara)
Medan, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah semakin babak belur dan mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah pada sesi perdagangan Rabu (20/5/2026) pagi. Mata uang Garuda terkapar di kisaran Rp17.740 per dolar AS, memaksa Bank Indonesia (BI) untuk mengambil langkah agresif dalam rapat Dewan Gubernur.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengungkapkan BI diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) minimal sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen demi membendung kejatuhan Rupiah yang kian dalam.
Gunawan menjelaskan, langkah menaikkan suku bunga acuan ini merupakan obat penawar sementara (shock absorber) untuk menahan laju pelemahan, namun bukan solusi permanen untuk mengatasi akar masalah utamanya.
"Akar masalah dari hancurnya nilai tukar Rupiah saat ini adalah perang di Timur Tengah yang membuat harga komoditas melambung tinggi dan memicu inflasi global. Jadi, kebijakan moneter BI nanti sifatnya lebih kepada menahan laju pelemahan Rupiah agar tidak jatuh lebih dalam, bukan mengatasi akar persoalannya," kata Gunawan.
Ia juga menambahkan, jika sore nanti BI benar-benar menaikkan bunga acuan, masyarakat dan pelaku pasar tidak bisa berharap Rupiah akan langsung berbalik menguat ke level sebelum perang Iran-AS pecah. Kondisi kurs ke depan akan sangat bergantung pada eskalasi geopolitik di Selat Hormuz.
Keterpurukan mata uang domestik didorong oleh kombinasi sentimen buruk dari luar dan dalam negeri yang saling mengait.
Potensi ledakan perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencuat setelah kedua belah pihak saling melempar ancaman baru.
Harga minyak mentah dunia konsisten bertahan tinggi di rentang 104 hingga 110 Dolar AS per barel, yang memperberat beban impor energi Indonesia. Adanya potensi pengetatan kebijakan moneter massal oleh bank-bank sentral di berbagai negara untuk meredam inflasi pasca-konflik.
Dampak dari anjloknya Rupiah ke rekor terendah ini langsung merembet ke pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan merosot tajam ke level 6.352, sejalan dengan rontoknya mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
"Tekanan yang dialami IHSG berpeluang membesar selama sesi perdagangan berlangsung hari ini karena pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko," ucap Gunawan.
Sementara itu, harga emas dunia justru berbalik mengalami tekanan di kisaran 4.481 Dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,56 juta per gram. Penurunan harga emas secara anomali ini dipicu oleh kecenderungan pasar yang bersiap menghadapi era suku bunga tinggi secara global serta volatilitas ekstrem di jalur logistik Selat Hormuz. (hm20)















