Friday, June 26, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Beras SPHP Langka di Pematangsiantar, Warga Terpaksa Beli Beras Medium Lebih Mahal

Mistar.idKamis, 25 Juni 2026 pukul 16.53 WIB
beras_sphp_langka_di_pematangsiantar_warga_terpaksa_beli_beras_medium_lebih_mahal

Toko Pedagang yang tidak memajangkan beras sphp karena stok kosong. (foto:abdi/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (25/6/2026) – Kelangkaan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) program pemerintah kian meresahkan warga Kota Pematangsiantar. Sudah berminggu-minggu, komoditas pangan murah ini mendadak kosong di pasaran, memaksa masyarakat berpenghasilan rendah beralih ke beras lokal komersial dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Berdasarkan pantauan Mistar.id di Pasar Dwikora, Kota Pematangsiantar, Kamis (25/6/2026), lapak-lapak pedagang yang biasanya memajang karung beras kemasan SPHP kini tampak kosong melompong. Tidak ada satu pun logo Bulog terlihat di depan toko pangan.

Para pedagang kini hanya bisa menawarkan varian beras lokal atau beras medium komersial sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan pokok warga.

Dampak hilangnya beras subsidi ini langsung dirasakan oleh pembeli. Juliana, salah seorang pembeli, mengaku sudah berkeliling pasar selama beberapa minggu terakhir hanya untuk mencari beras SPHP, namun hasilnya tetap kosong.

"Beberapa minggu ini sulit sekali mencari beras SPHP. Setiap ditanya ke pedagang, semua jawabnya kosong," keluh Juliana.

Akibat tidak adanya pilihan, Juliana terpaksa mengalihkan anggarannya untuk membeli beras medium jenis IR 64 yang harganya relatif lebih mahal dibandingkan beras SPHP.

Kosongnya pasokan beras SPHP ini juga membingungkan para pedagang. Baginda Tambunan, salah seorang penjual beras di Pasar Dwikora, mengungkapkan bahwa kekosongan stok ini sudah berlangsung selama dua bulan terakhir. Selama ini, ia mengandalkan pasokan dari pihak distributor.

"Kebetulan saya mengambil dari distributor. Kalau penyebab kelangkaan ini, saya kurang tahu. Pedagang yang bermitra langsung dengan Bulog juga kosong. Seperti pedagang di ujung sana, dia mitra Bulog, tapi barangnya juga kosong," ujar Baginda kepada Mistar.id, Kamis (25/6/2026).

Baginda menyayangkan kondisi yang berlarut-larut ini karena menggerus daya beli masyarakat. Banyak pelanggan terpaksa pulang dengan tangan kosong.

"Kalau harga biasanya kami jual di kisaran Rp62.000 hingga Rp63.000 per karung 5 kilogram dari distributor. Kalau kosong terus, kasihan juga para pembeli, banyak yang pulang tidak jadi beli," tambahnya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Zio Manik, yang merupakan mitra resmi Bulog, mengatakan pasokan mulai tersendat dan benar-benar menghilang sejak momen Hari Raya Iduladha lalu.

"Semenjak Hari Raya Iduladha sudah kosong, tidak ada stok sama sekali. Untuk penyebab pastinya kami kurang tahu, tetapi hingga saat ini stok memang kosong," tuturnya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN