Tuesday, August 11, 2026
home_banner_first
OLAHRAGA

VAR Dinilai Terlalu Jauh, UEFA: Ini Sepak Bola, Bukan PlayStation

Mistar.idSelasa, 11 Agustus 2026 pukul 14.27 WIB
var_dinilai_terlalu_jauh_uefa_ini_sepak_bola_bukan_playstation

Roberto Rosetti, wasit yang memimpin final Euro 2008. (foto: getty images via bbc)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Ketua perwasitan UEFA Roberto Rosetti menilai penggunaan video assistant referee (VAR) mulai terlalu jauh hingga berpotensi mengganggu otoritas wasit di lapangan.

Rosetti mengatakan sejumlah tinjauan VAR bahkan sudah "tidak berhubungan dengan sepak bola". Ia menilai wasit harus kembali menjadi pusat pengambilan keputusan, sementara VAR hanya digunakan untuk kesalahan yang jelas dan nyata.

"Kami ingin menghindari situasi-situasi mikroskopis. Konteks sangat penting. Ini sepak bola, bukan PlayStation," kata Rosetti, seperti dilansir BBC, Selasa (11/8/2026).

Kritik tersebut muncul setelah penggunaan VAR selama ini kerap menuai kontroversi, baik karena terlalu sering melakukan intervensi maupun karena proses peninjauan yang panjang. Menurut Rosetti, pemeriksaan yang berlangsung lebih dari 90 detik berisiko membuat VAR kehilangan kredibilitas.

Ia juga menilai penggunaan VAR yang berlebihan dapat memengaruhi cara wasit mengambil keputusan. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu justru berisiko membuat keputusan di lapangan terlalu bergantung pada pemeriksaan melalui layar.

Rosetti mengatakan UEFA ingin mengembalikan penggunaan VAR pada tujuan awalnya.

"Kami ingin sedikit mundur dan kembali menempatkan wasit sebagai pusat pertandingan," ujarnya.

Dilema tersebut pernah terlihat dalam kontroversi di Serie A Italia pada Februari 2026. Bek Juventus Pierre Kalulu mendapat kartu kuning kedua dan diusir saat menghadapi Inter Milan setelah wasit Federico La Penna menilai dirinya melakukan pelanggaran terhadap Alessandro Bastoni.

Tayangan ulang menunjukkan tidak terjadi kontak yang jelas antara keduanya. Namun, VAR tidak dapat mengintervensi keputusan kartu kuning kedua karena aturan tidak mengizinkan peninjauan VAR untuk jenis keputusan tersebut. Juventus akhirnya kalah 2-3.

Ketua perwasitan Serie A Gianluca Rocchi kemudian mengakui keputusan tersebut "jelas salah" dan menyayangkan VAR tidak dapat digunakan untuk memperbaikinya.

Kasus Kalulu menunjukkan dilema dalam penerapan VAR. Di satu sisi, UEFA ingin menghindari intervensi berlebihan terhadap insiden kecil. Di sisi lain, pembatasan kewenangan VAR dapat membuat kesalahan yang terlihat jelas melalui tayangan ulang tetap tidak bisa dikoreksi.

UEFA Cari Standar Penerapan VAR

Untuk mengurangi persoalan tersebut, para kepala perwasitan dari Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Italia bertemu dengan Rosetti serta Direktur Teknis International Football Association Board (IFAB) David Elleray.

Dalam pertemuan itu disepakati pendekatan yang lebih seragam. Saat melakukan pemeriksaan di monitor, wasit akan melihat gambar beku untuk menentukan titik kontak, kemudian tayangan dengan kecepatan setengah dan kecepatan penuh guna menilai intensitas pelanggaran.

Berdasarkan catatan UEFA, pada musim 2025-2026, Liga Primer Inggris mencatat tingkat intervensi VAR terendah di Eropa, yakni 0,29 kali per pertandingan. Sementara itu, Liga Champions mencapai 0,47 kali per pertandingan.

Perbedaan interpretasi juga terlihat pada handball. Di Liga Champions, penalti akibat handball terjadi rata-rata setiap tujuh pertandingan, sedangkan di Liga Primer Inggris setiap 17,27 pertandingan.

UEFA kini meluncurkan Clear Line, portal yang berisi berbagai contoh video untuk menjelaskan kapan dan bagaimana VAR seharusnya melakukan intervensi. Materinya mencakup penalti, kartu merah, pelanggaran dalam serangan, keputusan faktual, hingga kesalahan identitas.

"Kami menyukai wasit yang memiliki karakter, mengambil keputusan di lapangan, dan VAR hanya melakukan intervensi dalam situasi yang jelas dan nyata," kata Rosetti. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN