Waspada Child Grooming, Psikolog Tekankan Ini Pada Orang Tua

Ilustrasi child grooming. (Foto: Halodoc/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kasus child grooming kembali menjadi sorotan dan mengingatkan pentingnya peran orang tua sebagai fondasi utama perlindungan anak. Psikolog Anak dan Remaja, Katherina, menegaskan grooming bukanlah proses instan, melainkan manipulasi yang berlangsung perlahan hingga anak kehilangan tempat aman untuk bersandar.
Alumni Universitas Sumatera Utara itu menjelaskan bahwa child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa atau pihak yang lebih superior kepada anak di bawah umur secara bertahap hingga anak menjadi bergantung pada pelaku.
“Biasanya pelaku memulai dengan perhatian dan sikap peduli kepada anak melalui pujian atau tampak selalu berempati pada perasaan anak, sehingga anak membangun kepercayaan secara perlahan kepada pelaku,” ujarnya kepada Mistar, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, pelaku kerap berusaha memenuhi kebutuhan anak agar anak merasa spesial dan terikat secara emosional. Ketika anak sudah merasa nyaman, pelaku mulai mengarahkan hingga mengeksploitasi anak untuk menuruti keinginan mereka, baik secara seksual, finansial, maupun emosional.
Dalam kondisi tersebut, anak sering kali menuruti keinginan pelaku karena merasa bersalah, tidak memiliki pilihan, atau tidak memiliki tempat bergantung selain pelaku. Hal ini terjadi karena sebelumnya anak telah “dicuci otak” atau diancam oleh pelaku.
Katherina mengatakan, meski anak telah menyadari bahwa pelaku bukanlah sosok yang aman, mereka tidak bisa serta-merta keluar dari lingkaran grooming. Rasa takut dan malu kerap muncul, disertai pemikiran mereka sendirilah penyebab masalah tersebut.
“Untuk memulihkan luka atau trauma dari grooming pastilah butuh waktu dan tidak instan. Biasanya anak tidak mengetahui dirinya sedang dieksploitasi sampai ia sadar sendiri atau ketika ia merasa ‘saya harus keluar dari hubungan ini’,” tutur Katherina.
Langkah Penting Bantu Korban Grooming
Ia menekankan langkah terpenting dalam penanganan korban grooming adalah menghadirkan support system yang dapat dipercaya. Anak perlu menemukan kembali tempat aman, baik melalui keluarga, lingkungan pertemanan yang sehat, maupun bantuan profesional seperti psikolog.
Tujuan utamanya adalah agar korban dapat memulihkan kembali dirinya secara psikologis dan kesehatan mentalnya, mengelola emosi dengan lebih baik, menjadi resilien kembali, serta tumbuh sebagai pribadi yang pulih dan utuh.
Berkaca dari kasus Aurelie, artis yang menjadi korban child grooming dan mencuat ke publik, Katherina menegaskan bahwa sistem paling mendasar bagi anak adalah orang tua. Anak akan selalu kembali kepada orang tua karena kepercayaan yang tertanam sejak dini.
“Jadi, jika orang tua mengatakan anak tidak baik, maka sistem otak anak juga akan percaya bahwa dirinya tidak baik. Karena itu, orang tua perlu memberikan rasa aman kepada anak supaya anak selalu pulang ke tempat rasa amannya. Inilah bukti bahwa peran orang tua sepenting itu,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pola asuh yang sering kali mengajarkan anak untuk selalu sopan dan patuh terhadap orang yang lebih tua, sehingga anak merasa tidak boleh melawan. Namun, orang tua kerap lupa mengajarkan anak untuk menjaga diri dan berkomunikasi secara terbuka.
“Untuk menghindari anak dari grooming, ada baiknya kita mengajari sejak dini agar mereka mampu menjaga diri, mengomunikasikan segala hal kepada orang tua, dan menolak hal yang tidak benar. So, be a smart parents!” katanya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Lima Jurusan Kuliah Langka di Indonesia, Bisa Dapat Gaji Tinggi

























