Tren Sleepmaxxing, Apakah Efektif Tingkatkan Kualitas Tidur? Ini Kata Pakar

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Medan, MISTAR.ID - Tren sleepmaxxing yang ramai di media sosial, terutama TikTok, tidak seluruhnya didukung bukti ilmiah. Pakar ilmu tidur Carleara Weiss mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur membeli berbagai produk yang diklaim dapat meningkatkan kualitas tidur.
"Kita harus berhati-hati agar tidak mengalihkan fokus dari kesehatan ke pembelian lebih banyak produk untuk mencapai kualitas tidur yang ideal," kata Weiss, dikutip dari Healthline.
Sleepmaxxing merupakan istilah yang merujuk pada berbagai praktik, produk, dan kebiasaan yang diklaim mampu memaksimalkan kualitas tidur. Tren ini dipopulerkan oleh sejumlah kreator konten yang membagikan berbagai tips agar tidur lebih nyenyak.
Salah satu metode yang banyak disarankan adalah mengonsumsi suplemen magnesium. Sejumlah penelitian menunjukkan magnesium dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
Tinjauan yang dipublikasikan dalam Biological Trace Element Research pada 2023 menemukan adanya hubungan antara asupan magnesium dan kualitas tidur. Namun, magnesium dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu dan konsumsi berlebihan berisiko menimbulkan gangguan pencernaan.
Penggunaan suplemen melatonin juga disebut dapat membantu mengatasi gangguan tidur sementara, seperti akibat jet lag. Meski demikian, Weiss mengingatkan pentingnya memperhatikan dosis karena banyak produk yang dijual bebas mengandung melatonin melebihi batas aman bagi orang dewasa, yakni 0,3 hingga 5 miligram.
Trik lain yang dinilai cukup bermanfaat adalah menggunakan white noise atau suara konstan saat tidur. Sejumlah penelitian menunjukkan metode ini dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Suara tersebut tidak harus berasal dari alat khusus karena kipas angin maupun aplikasi di telepon pintar dapat memberikan efek serupa.
Sementara itu, penggunaan fitur pelacak tidur (sleep tracker) pada jam tangan pintar dinilai belum dapat dijadikan alat diagnosis gangguan tidur. Menurut Weiss, penelitian mengenai efektivitas teknologi tersebut masih terus berkembang.
"Sebagian besar pelacak tidur yang tersedia secara komersial bukanlah alat diagnostik. Artinya, alat tersebut tidak akan mengarah pada diagnosis gangguan tidur," ujarnya.
Adapun tren menempelkan plester di mulut saat tidur untuk mengurangi dengkuran tidak didukung bukti ilmiah. Mengutip Harvard Health Publishing, tinjauan tim dari Departemen Otolaringologi Universitas George Washington menyebut klaim tersebut belum memiliki dasar penelitian yang kuat. Plester mulut juga tidak mengatasi penyebab utama dengkuran, seperti alergi, asma, maupun sleep apnea.
PREVIOUS ARTICLE
Magang Nasional Angkatan 2 Segera Dibuka, Kuota 150 Ribu




















