Saturday, October 3, 2026
home_banner_first
WISATA

Banjir Nepal Hantam Pariwisata, Pemandu dan Pelaku Usaha Kehilangan Penghasilan

Mistar.idSabtu, 3 Oktober 2026 pukul 05.30 WIB
banjir_nepal_hantam_pariwisata_pemandu_dan_pelaku_usaha_kehilangan_penghasilan_

Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Nepal. Bencana tersebut meninggalkan kerusakan dan timbunan lumpur di kawasan permukiman warga. (foto: reuters/mistar)

news_banner

Kathmandu, MISTAR.ID - Banjir bandang yang melanda Nepal tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Bencana tersebut juga memberikan pukulan berat terhadap sektor pariwisata, terutama bagi pemandu wisata, sopir, pedagang kecil, hingga pelaku usaha yang menggantungkan pendapatan dari kedatangan turis.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Pushpraj Rimal, perencana perjalanan sekaligus sopir taksi di Kathmandu. Setiap September, pria berusia 42 tahun itu biasanya memasuki masa tersibuk karena bulan tersebut menjadi awal musim puncak pariwisata Nepal.

Namun tahun ini kondisinya berbeda. Banyak wisatawan membatalkan perjalanan setelah banjir dahsyat melanda sejumlah wilayah Nepal dan merusak jalur transportasi utama. "Situasinya masih seperti lockdown," ujar Pushpraj dikutip dari Al Jazeera, Jumat (2/10/2026).

Pushpraj bekerja berdasarkan komisi dengan sejumlah hotel dan perusahaan trekking di Kathmandu serta Pokhara. Kota yang berada dekat kawasan Annapurna tersebut merupakan salah satu pusat kegiatan wisata dan menjadi titik keberangkatan bagi pendaki Himalaya.

Pariwisata menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian Nepal. Setelah musim hujan berakhir pada Agustus, kunjungan wisatawan biasanya meningkat karena kondisi cuaca lebih mendukung untuk perjalanan dan pendakian.

Tahun lalu, Nepal menerima lebih dari 1,15 juta wisatawan mancanegara. Hampir sepertiga dari jumlah tersebut datang pada periode September hingga November. Namun, bencana banjir tahun ini membuat banyak wisatawan memilih menunda atau membatalkan perjalanan, termasuk ke wilayah yang sebenarnya tidak terdampak langsung.

Pushpraj mengatakan kondisi bisnisnya jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia bahkan telah menyewa dua mobil untuk menghadapi musim ramai selama dua bulan, tetapi hanya memperoleh sekitar seperempat dari pendapatan yang biasanya didapat.

"Saya menyewa dua mobil selama dua bulan, tetapi saya hanya mendapatkan seperempat dari bisnis yang biasanya saya dapatkan dalam satu musim," ujarnya.

Menurunnya kunjungan wisatawan juga berdampak pada komisi yang biasanya ia terima dari hotel dan penyelenggara trekking. Bisnis taksinya pun ikut sepi.

"Saya tidak akan mendapatkan komisi dari hotel atau penyelenggara pendakian, dan bisnis taksi juga tidak berjalan dengan baik. Sekarang saya hanya menunggu musim ini berakhir," katanya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi keluarganya. Pushpraj memiliki dua anak, Hema (14) dan Rahul (12). Ia sebelumnya berjanji akan membelikan tablet untuk kedua anaknya saat Festival Dussain pada Oktober mendatang.

"Tetapi tampaknya sekarang mustahil. Saya harus mengecewakan mereka dan mengingkari janji saya kepada mereka untuk pertama kalinya," ujarnya.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN