Komodo hingga Uluru, Ini 4 Destinasi Pilihan BBC untuk Travelling 2026

Kepulauan Komodo merupakan habitat komodo, kadal terbesar di dunia. (foto: Getty Images via BBC)
Medan, MISTAR.ID - Kepulauan Komodo di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu destinasi yang masuk pilihan BBC untuk travelling pada 2026. Selain Komodo, media Inggris tersebut menyoroti Ishikawa di Jepang, Uluru di Australia, serta Algeria.
Keempat destinasi tersebut merupakan empat dari 20 destinasi pilihan BBC untuk perjalanan 2026. Masing-masing menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari melihat satwa endemik dan menikmati kekayaan alam, mengenal tradisi masyarakat lokal, hingga menjelajahi situs bersejarah.
Dalam daftar perjalanan 2026, pilihan tidak hanya dilihat berdasarkan daya tarik wisata sebuah destinasi, tetapi juga menyoroti tempat-tempat yang memiliki upaya untuk melindungi lingkungan, mendukung masyarakat lokal, serta menjaga budaya dan warisan sejarah.
Berikut empat destinasi pilihan BBC untuk travelling 2026.
1. Kepulauan Komodo, Indonesia
Kepulauan Komodo menawarkan perpaduan antara satwa langka, lanskap alam dan kekayaan ekosistem laut.
Taman Nasional Komodo merupakan salah satu tempat terakhir di dunia untuk melihat komodo hidup di habitat alaminya. Satwa endemik tersebut hidup di antara perbukitan savana dan garis pantai dengan perairan yang kaya terumbu karang serta berbagai kehidupan laut.
Memasuki 2026, pengelolaan kawasan juga mendapat perhatian melalui sejumlah program konservasi dan pengelolaan wisata. Taman nasional yang memasuki usia 45 tahun itu terus berupaya menjaga populasi komodo sekaligus melindungi ekosistem laut.
Akses menuju kawasan Komodo juga semakin mudah. Wisatawan dapat mencapai Labuan Bajo, kota yang menjadi pintu masuk utama menuju taman nasional, melalui penerbangan langsung dari sejumlah kota di kawasan Asia Tenggara.
Pengelolaan wisata dengan izin tertentu dan pendampingan ranger menjadi bagian dari upaya agar aktivitas pariwisata tetap memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan mendukung perlindungan habitat.
Kombinasi kesempatan melihat komodo di alam liar, keindahan laut dan upaya konservasi membuat Kepulauan Komodo menawarkan pengalaman wisata yang sekaligus berkaitan dengan pelestarian lingkungan.
2. Ishikawa, Jepang
Ishikawa menawarkan pengalaman yang berbeda. Jika Komodo menonjolkan keanekaragaman hayati, kawasan ini memperlihatkan bagaimana perjalanan wisata dapat ikut mendukung pemulihan masyarakat dan pelestarian tradisi.
Pada 1 Januari 2024, gempa berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang Semenanjung Noto di Prefektur Ishikawa. Dua tahun setelah bencana tersebut, masyarakat setempat mendorong wisatawan kembali berkunjung untuk membantu proses pemulihan kawasan.
Di bagian selatan Ishikawa terdapat Kanazawa, kota yang dikenal dengan taman Kenrokuen dan tradisi kerajinan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Wisatawan dapat mengunjungi berbagai bengkel kerajinan tradisional, termasuk pembuatan daun emas dan kain sutra Kaga Yuzen. Sementara itu, Semenanjung Noto di bagian utara menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Sejumlah penginapan yang dikelola keluarga menawarkan pengalaman kepada wisatawan untuk mengikuti kegiatan pertanian musiman, seperti menanam padi. Pendapatan dari kegiatan tersebut membantu mempertahankan kehidupan keluarga sekaligus menjaga sawah terasering Shiroyone Senmaida.
Noto juga dikenal dengan hasil laut, kerajinan pernis Wajima-nuri dan sake yang dibuat oleh para ahli pembuat sake setempat.
Sejumlah tempat pembuatan sake yang sempat terdampak gempa mulai kembali beroperasi. Salah satu upaya pemulihan dilakukan melalui proyek Don't Stop the Noto Sake yang menyalurkan pendapatan kembali kepada produsen yang terdampak.
Kunjungan wisatawan, konsumsi di restoran lokal dan pembelian kerajinan dari perajin setempat menjadi bagian dari upaya mendukung keberlangsungan tradisi sekaligus pemulihan kawasan Noto.
3. Uluru, Australia
Uluru merupakan salah satu situs paling ikonik di Australia sekaligus tempat yang memiliki arti mendalam bagi masyarakat Anangu sebagai pemilik tradisional kawasan tersebut.
Pada Oktober 2025, Australia memperingati 40 tahun sejak pengembalian Uluru kepada pemilik tradisional Anangu. Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam perubahan cara Australia memperlakukan situs-situs budaya masyarakat Aborigin.
Aktivitas memanjat Uluru yang sebelumnya menjadi salah satu daya tarik wisata telah dilarang secara resmi sejak 2019. Kini, wisatawan didorong untuk mengenal kawasan tersebut melalui cerita dan pengalaman yang disampaikan masyarakat Anangu.
Pada 2026, salah satu pengalaman baru yang ditawarkan adalah Uluru-Kata Tjuta Signature Walk. Jalur sepanjang 54 kilometer tersebut dirancang sebagai perjalanan lima hari empat malam yang menghubungkan kawasan Kata Tjuta dengan Uluru.
Rute tersebut melewati jalur yang dipetakan masyarakat Anangu, kawasan hutan desert oak, padang spinifex dan bukit pasir merah yang sebelumnya tidak dibuka untuk wisatawan.

Perjalanan tersebut juga memberikan kesempatan untuk menginap di dalam Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta melalui perkemahan ramah lingkungan dan sebuah penginapan baru yang dirancang menyatu dengan lanskap gurun.
Selain perjalanan darat, wisatawan dapat menikmati pengalaman budaya seperti Wintjiri Wiru, pertunjukan cahaya dan drone yang mengangkat kisah masyarakat Anangu, serta Field of Light karya seniman Bruce Munro yang pada 2026 memasuki tahun ke-10.
Perkembangan tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan terhadap wisata Uluru, dari sekadar melihat ikon alam menjadi pengalaman yang lebih dekat dengan sejarah dan budaya pemilik tradisionalnya.
4. Algeria
Destinasi keempat membawa wisatawan ke Afrika Utara. Algeria memiliki kombinasi reruntuhan Romawi, lanskap gurun dan kota-kota bersejarah yang memperlihatkan pertemuan berbagai kebudayaan.
Negara tersebut memiliki peninggalan dari ribuan tahun sejarah, mulai dari pengaruh bangsa Fenisia hingga kekuasaan Romawi, Ottoman dan berbagai periode setelahnya.

Algiers, ibu kota Algeria, menjadi salah satu pintu masuk utama bagi wisatawan. Kota yang memiliki sejarah sebagai permukiman Fenisia tersebut memperlihatkan lapisan arsitektur dan budaya dari berbagai pemerintahan yang pernah berkuasa.
Constantine juga menjadi salah satu tujuan penting. Kota tersebut mempertahankan peninggalan dari ribuan tahun sejarah dan masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.
Tidak jauh dari sana terdapat reruntuhan Romawi Timgad dan Djémila. Kedua situs arkeologi tersebut menawarkan kesempatan melihat peninggalan Kekaisaran Romawi dalam suasana yang relatif jauh dari keramaian destinasi wisata dunia yang lebih populer.
Di selatan, bentang Sahara Algeria membentang luas dengan kota oasis Djanet sebagai salah satu pusat untuk menjelajahi kawasan gurun.
Pengembangan pariwisata berjalan bersamaan dengan upaya melindungi warisan budaya. Algeria menargetkan peningkatan jumlah wisatawan internasional dan memperluas dukungan terhadap ratusan ribu perajin yang menjadi bagian dari warisan budaya lokal.
Kemudahan perjalanan juga mulai berkembang, termasuk kebijakan visa-on-arrival bagi wisatawan yang mengikuti tur terorganisasi serta bertambahnya pilihan perjalanan yang ditawarkan operator wisata. (*)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER

















































