Sunday, November 8, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Lulus S2 UGM Hanya 1 Tahun 26 Hari dengan IPK 3,99, Anisa Putri Aviana Buktikan Konsistensi Kalahkan Rasa Malas

Mistar.idMinggu, 8 November 2026 pukul 11.47 WIB
lulus_s2_ugm_hanya_1_tahun_26_hari_dengan_ipk_399_anisa_putri_aviana_buktikan_konsistensi_kalahkan_rasa_malas_

Anisa Putri Aviana lulusa S2 tercepat di UGM buktikan konsistensi mengalahkan rasa malas. (Foto: ugm.ac.id)

Jakarta, MISTAR.ID (8/11/2026) — Menjadi yang tercepat tidak pernah menjadi target Anisa Putri Aviana. Namun, kedisiplinan, konsistensi, dan komitmen yang ia pegang teguh justru mengantarkannya menjadi lulusan tercepat Program Magister pada Wisuda Pascasarjana UGM, 28-29 Oktober lalu.

Wisudawati Pascasarjana UGM asal Yogyakarta itu menyelesaikan studinya hanya dalam 1 tahun 26 hari dengan IPK 3,99. Padahal, rerata masa studi lulusan Program Magister pada periode ini mencapai 2 tahun 2 bulan.

Avi, demikian ia akrab disapa, mengaku sudah mempersiapkan diri jauh sebelum kuliah dimulai. Sebelum memutuskan masuk Program Studi Magister Sains Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, ia telah mempelajari buku panduan akademik. Mulai dari kewajiban mata kuliah, pelaksanaan penelitian, hingga ketentuan publikasi jurnal, semuanya sudah ia petakan sejak awal.

Berbekal itu, ia pun menyusun rangkaian kegiatan yang harus dilakukannya agar bisa lulus tepat waktu.

Pada semester awal, ia langsung mencari dosen pembimbing yang sesuai dengan minatnya, yakni bidang ilmu saraf atau neuroscience, agar penelitiannya bisa dimulai lebih cepat.

Avi meneliti potensi tanaman herbal kemangi sebagai agen neuroprotektif atau pelindung saraf. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu in silico atau komputasi dan in vitro atau menggunakan sel PC12 yang diinduksi rotenon.

"Kemangi memiliki kandungan bioaktif yang dapat melindungi sel saraf kita dari Parkinson, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut," jelasnya, Jumat (6/11).

Ia menilai pertemuan dengan dosen pembimbing yang suportif dan komunikatif menjadi salah satu faktor penting dalam proses penulisan tesisnya. Kedua dosen tersebut adalah Prof. drh. Dwi Liliek Kusindarta, M.P., Ph.D., dan Dr. med. vet. drh. Hevi Wihadmadyatami, M.Sc.

Selain itu, pemilihan topik yang sesuai dengan minat dan kegemarannya membuat tugas dan penelitian terasa menyenangkan karena dilandasi rasa ingin tahu yang tinggi.

"Kebiasaan membaca literatur secara konsisten sangat membantu saya dalam proses penulisan maupun penelitian," ungkap Avi.

Avi mengaku tidak memiliki kendala berarti selama kuliah. Kendala terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri, yakni melawan rasa malas dan keinginan untuk menunda-nunda pekerjaan.

Untuk mengatasinya, ia menggunakan strategi segitiga terbalik, yaitu tujuan besar dibagi ke dalam tugas-tugas berskala kecil sehingga lebih mudah dikelola. Melalui metode tersebut, ia berhasil menerapkan kedisiplinan yang sudah dibangun sejak awal masa kuliah S1.

Dukungan kuat dari berbagai pihak juga membuatnya semakin semangat untuk melawan rasa malas dan menyelesaikan tugas sesuai jadwal.

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Avi mengatakan dukungan keluarga memiliki kontribusi besar dalam menyelesaikan studinya. Lingkungan kuliah yang positif, mulai dari teman seperjuangan hingga dosen pembimbing, juga memberikan semangat lebih.

Melalui dukungan dan kepercayaan penuh keluarga, ia berhasil membanggakan orang tua dan menjadi dokter hewan pertama di keluarganya.

Avi berpesan kepada mahasiswa lain yang sedang menjalani penelitian ataupun penulisan tesis agar tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab, setiap orang memiliki perjalanan dan tantangan masing-masing.

Meski demikian, ia mengajak mahasiswa tetap menjalankan segala tugas dengan usaha terbaik dan terus menulis setiap hari.

Ia pun membagikan kutipan yang memotivasinya selama belajar, "Start earlier, plan strategically, and be consistent. Kita harus mau mulai dari awal dari langkah kecil, kemudian memikirkan strategi yang cocok, dan konsisten melaksanakan aksinya," pesannya.

Ke depan, ia berencana menjadi dosen dengan harapan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. Namun, ia pun tidak menutup berbagai kesempatan yang hadir untuk membantu kariernya.

Ketertarikan menjadi dosen sudah hadir sejak menjalani pendidikan S1. Kala itu, ia sempat menjadi asisten praktikum dan merasakan kesenangan berbagi ilmu.(ugm.ac.id/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN