Saturday, November 7, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Liburan Jadi Neraka Gara-Gara Omongan Keluarga? Ini Cara Elegan Menghentikannya

Mistar.idSabtu, 7 November 2026 pukul 06.30 WIB
_liburan_jadi_neraka_garagara_omongan_keluarga_ini_cara_elegan_menghentikannya_

Ilustrasi, penyiapan makanan dalam acara pertemuan keluarga. (Foto: Antara/Andry Denisah)

Jakarta, MISTAR.ID (7/11/2026) — Liburan seharusnya jadi momen istirahat. Tapi bagi banyak orang, kumpul keluarga justru jadi sumber stres terbesar.

Baru duduk, sudah ditanya soal gaji. Baru makan, sudah dikomentari soal berat badan. Baru cerita soal anak, sudah dihakimi soal cara mengasuh.

Kamu tidak sendiri. Dan kamu tidak harus diam dan menahan semuanya demi disebut “sopan”.

Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Rachel Diamond, Ph.D., LMFT, PMH-C, dalam artikel yang dipublikasikan di Psychology Today pada Kamis (5/11/2026), menegaskan satu hal penting: menetapkan batasan bukan berarti memutus hubungan. Justru sebaliknya, batasan adalah cara agar hubungan tetap sehat.

Banyak orang salah paham. Mereka mengira menetapkan batasan berarti mengatur orang lain.

Padahal, menurut Diamond, keduanya sangat berbeda.

Aturan menentukan bagaimana orang lain harus bertindak. Batasan menyatakan apa yang akan kamu lakukan untuk merespons tindakan orang lain.

“Kita tidak bisa mengendalikan perkataan orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita menanggapinya,” kata Diamond.

Artinya, kamu tidak bisa melarang tantemu berkomentar. Tapi kamu bisa memilih untuk tidak meladeni, mengalihkan pembicaraan, atau pergi dari ruangan dengan tenang.

Itulah kekuatan batasan. Kamu tidak mengubah mereka, kamu menjaga dirimu.

Jurus 3 Warna: Hijau, Kuning, Merah

Agar lebih mudah dipraktikkan, Diamond menyarankan kerangka kerja “Hijau, Kuning, Merah” dari Melissa Urban dalam buku The Book of Boundaries: Set the Limits That Will Set You Free.

Bayangkan seperti lampu lalu lintas. Setiap warna punya cara merespons yang berbeda.

1. HIJAU — Ancaman Rendah, Tetap Santun

Ini untuk komentar yang menyebalkan, tapi belum keterlaluan. Misalnya, pertanyaan basa-basi yang mulai mengarah ke hal pribadi.

Cara menghadapinya: gunakan bahasa yang santun dan jelas, dengan asumsi lawan bicara berniat baik.

Contohnya: “Terima kasih sudah perhatian, Tante. Soal itu, biar kami saja yang urus ya.”

Sopan, singkat, selesai. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar.

2. KUNING — Mulai Mengabaikan Batasan, Harus Lebih Tegas

Ini untuk situasi ketika kerabat sudah diberi kode, tapi tetap ngeyel dan mengulang komentar yang sama.

Cara menghadapinya: bersikap lebih tegas dan alihkan tema pembicaraan.

Contohnya: “Maaf, topik ini sudah kami tutup ya. Ngomong-ngomong, masakan Ibu enak banget, ya. Resepnya apa?”

Kamu tidak menyerang, tapi kamu menghentikan pembicaraan itu dengan jelas.

3. MERAH — Sudah Keterlaluan, Harus Dilawan dengan Lugas

Ini untuk situasi ketika kerabat terus mengabaikan batasan yang sudah ditetapkan, meski sudah ditegur berkali-kali.

Cara menghadapinya: gunakan komunikasi yang lugas dan strategi konkret untuk menegakkan batasan.

Contohnya: “Saya sudah sampaikan tadi, kami tidak nyaman membahas ini. Kalau dilanjutkan, kami akan pamit lebih dulu.”

Lalu, lakukan. Jangan hanya mengancam, tapi tidak bertindak. Batasan yang tidak ditegakkan hanya akan jadi kalimat kosong.

Diamond memberikan rekomendasi khusus bagi orang tua baru, yang paling sering jadi sasaran komentar saat kumpul keluarga.

Pertama, bangun kebersamaan dengan pasangan. Selaraskan pemahaman dan keputusan pengasuhan sebelum datang ke acara keluarga, agar kalian kompak dan tidak mudah diadu.

Kedua, sampaikan penjelasan secara terus terang dan ringkas. Tidak perlu ceramah panjang. Cukup katakan apa keputusan kalian dan apa dukungan yang kalian butuhkan.

Ketiga, fokus pada dukungan yang diperlukan, bukan pada hal yang tidak diinginkan dari kerabat. Misalnya, katakan “Kami butuh dibantu menjaga anak saat kami makan,” bukan “Jangan beri anak kami permen!”

Cara ini membuat kerabat merasa dilibatkan, bukan disalahkan.

Satu hal terakhir yang ditekankan Diamond: batasan tidak harus sama untuk semua orang.

“Batasan yang Anda tetapkan untuk kakek-nenek, saudara kandung, atau kerabat lainnya mungkin tidak sama, tergantung pada riwayat hubungan Anda, perilaku mereka, dan apa yang Anda butuhkan agar merasa nyaman,” kata Diamond.

Artinya, kamu boleh lebih longgar kepada nenek yang memang penyayang, dan lebih ketat kepada paman yang selalu mengkritik. Itu bukan pilih kasih. Itu cara menjaga dirimu agar tetap waras.

Kumpul keluarga tidak harus jadi ajang bertahan hidup. Dengan batasan yang jelas, kamu bisa tetap hadir, tetap sopan, dan tetap tenang — tanpa harus mengorbankan perasaanmu sendiri.(hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN