Kembangkan Lampu Jalan Berbasis AI, Dosen Unesa Masuk Daftar 2% Ilmuwan Teratas Dunia

Dosen Program Studi (Prodi) D-4 Teknik Listrik Fakultas Vokasi (FV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Widi Aribowo. (foto: Unesa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Inovasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi Internet of Things (IoT) mengantarkan dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Widi Aribowo, masuk dalam daftar 2% ilmuwan teratas dunia.
Dosen Program Studi D4 Teknik Listrik, Fakultas Vokasi Unesa tersebut mengembangkan sistem Penerangan Jalan Umum (PJU) pintar, serta algoritma optimasi AI yang terinspirasi dari perilaku fauna khas Indonesia.
Capaian ini menjadi pengakuan internasional terhadap kontribusi penelitiannya. Daftar ilmuwan tersebut disusun berdasarkan data publikasi dan sitasi ilmiah melalui kolaborasi Elsevier dan Stanford University.
Dalam pengembangan PJU pintar, Widi memadukan teknologi computer vision berbasis YOLO (You Only Look Once) dengan platform Node-RED.
Teknologi tersebut memungkinkan sistem mengenali dan mengklasifikasikan pejalan kaki secara langsung atau real-time pada malam hari, dengan jangkauan deteksi hingga 15 meter.
Berbeda dari lampu jalan konvensional yang mengandalkan sensor gerak, sistem ini menerapkan konsep adaptive lighting. Intensitas penerangan dapat menyesuaikan kondisi di sekitar lampu, yakni menyala ketika pengguna jalan terdeteksi dan meredup saat tidak ditemukan aktivitas.
Berdasarkan hasil pengujian yang disampaikan Widi, penerapan sistem tersebut berpotensi mengurangi konsumsi energi listrik untuk PJU sebesar 25–50 persen.
Sebagai Kepala Seksi Smart Energi Unesa, Widi juga merancang pengembangan sistem agar dapat terintegrasi dengan dasbor pemantauan berbasis web.
Integrasi ini diharapkan memudahkan pengawasan infrastruktur sekaligus mendukung pengembangan konsep Smart City dan Smart Green Campus di lingkungan Unesa.
Selain mengembangkan teknologi penerangan jalan, Widi menghasilkan dua metode optimasi berbasis kecerdasan buatan, yaitu Jalak Bali Optimization Algorithm dan Cendrawasih Bird Optimization Algorithm.
Kedua metode tersebut mengadaptasi pola perilaku biologis burung khas Indonesia ke dalam model komputasi untuk membantu menyelesaikan persoalan teknis yang kompleks. Salah satu penerapannya adalah optimasi pada sistem tenaga listrik, termasuk upaya menjaga keseimbangan frekuensi dan stabilitas jaringan.
Kedua penelitian algoritma tersebut juga telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi yang masuk dalam kategori kuartil Q1 dan Q2. Pendekatan ini memperlihatkan pemanfaatan karakteristik alam Indonesia sebagai inspirasi pengembangan metode komputasi untuk menjawab tantangan rekayasa dan teknologi.
Pengakuan di Tingkat Internasional
Daftar 2% ilmuwan teratas dunia menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap produktivitas dan dampak penelitian ilmiah. Pemeringkatan tersebut menggunakan sejumlah indikator bibliometrik, termasuk sitasi publikasi, untuk menilai pengaruh karya ilmuwan dalam bidangnya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam pemberitaan Unesa, jumlah ilmuwan Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut pada periode 2026 meningkat 30,1 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, tercatat 209 ilmuwan Indonesia berada dalam daftar itu.
Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia juga memiliki banyak akademisi yang memperoleh pengakuan serupa. Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, masing-masing disebut memiliki 19 dosen dalam daftar tersebut.
Sementara itu, Widi Aribowo disebut menjadi satu-satunya dosen Unesa yang masuk dalam daftar 2% ilmuwan teratas dunia. Pencapaian ini menambah kontribusi Unesa dalam pengembangan riset berbasis kecerdasan buatan, efisiensi energi, dan teknologi berkelanjutan.













































