Pertamina EP Pangkalan Susu Dorong Pemulihan Mangrove dan Ekonomi Warga Pasar Rawa

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama di pesisir Pasar Rawa, Kasto Wahyudi, menanam mangrove bersama manajemen Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1. Selama belasan tahun, Kasto berjuang mendorong pelestarian ekosistem mangrove.
Langkat, MISTAR.ID – Di tengah rintik hujan yang membasahi pesisir Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mangrove tumbuh di sepanjang tepian sungai. Di desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari laut dan tambak ini, keberadaan mangrove menjadi penopang ekosistem sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu demikian. Beberapa tahun lalu, sebagian nelayan menebang mangrove untuk dijadikan arang demi mendapatkan penghasilan. Tanpa disadari, aktivitas itu perlahan mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.
Benteng alami pesisir mulai rusak, air sungai menjadi keruh, dan hasil tangkapan ikan semakin berkurang. Kondisi tersebut membuat nelayan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Akibatnya, sebagian nelayan mencari ikan hingga ke sekitar Single Point Mooring (SPM), fasilitas tambat lepas pantai yang digunakan dalam kegiatan pengapalan produksi Pertamina EP Pangkalan Susu.

Field Manager Pertamina EP Pangkalan Susu, Edwin Susanto, menerima Platinum Award kategori Economic Empowerment dalam ajang ISRA 2026 atas program Eduekowisata Mangrove Pasar Rawa.
Struktur SPM menjadi tempat melekatnya organisme laut atau biofouling, yang dapat membentuk habitat menyerupai terumbu buatan (artificial reef). Kondisi ini menarik ikan untuk mencari makan dan berlindung. Namun, aktivitas penangkapan ikan di sekitar fasilitas tersebut berpotensi membahayakan keselamatan nelayan dan mengganggu operasional perusahaan.
Di sisi lain, aktivitas pembakaran arang juga berpotensi memicu kebakaran yang membahayakan masyarakat maupun kegiatan produksi minyak dan gas bumi Pertamina EP Pangkalan Susu.
Dari Pembalak Menjadi Pejuang Mangrove
Kasto Wahyudi, pria yang akrab disapa Yudi, menjadi salah satu sosok yang menyadari bahwa kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mantan pembalak mangrove itu mulai memahami bahwa hutan mangrove bukan sekadar tumbuhan di kawasan rawa, melainkan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Ia menyadari bahwa akar mangrove berperan sebagai pelindung alami dari abrasi sekaligus habitat bagi ikan dan kepiting untuk berkembang biak.
“Kepiting dan ikan-ikan hidup di sini, masyarakat tinggal mengambil saja tanpa harus merusak alam,” ujarnya.
Yudi kemudian mulai menanam mangrove dan mengajak masyarakat menghentikan penebangan liar. Ia juga mengajak puluhan nelayan bergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama.
Perjalanan tersebut tidak mudah. Perbedaan pandangan sempat memicu perselisihan antara masyarakat yang mulai memahami pentingnya pelestarian mangrove dan mereka yang masih bergantung pada usaha pembuatan arang.
Namun, upaya Yudi dan KTH Penghijauan Maju Bersama mendapat dukungan dari Pertamina EP Pangkalan Susu.
Sejak 2022, masyarakat Desa Pasar Rawa bersama perusahaan dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat menyusun program intervensi untuk mengatasi degradasi lingkungan sekaligus membuka alternatif mata pencaharian bagi warga.
Melalui pemetaan sosial, disusun program Eduekowisata Mangrove Pasar Rawa sebagai upaya mengembangkan kegiatan ekonomi yang sejalan dengan pelestarian lingkungan.
Perlahan, masyarakat mulai meninggalkan aktivitas penebangan mangrove untuk bahan baku arang dan tidak lagi mencari ikan di sekitar SPM.
Eduekowisata Buka Peluang Ekonomi Baru
Pendampingan berkelanjutan yang dimulai pada 2023 mendorong masyarakat mengembangkan potensi wisata edukasi berbasis mangrove. Warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan ikan, tetapi mulai terlibat dalam pengelolaan destinasi eduekowisata.
Berbagai fasilitas disediakan untuk mendukung kenyamanan pengunjung, mulai dari jalur susur mangrove, homestay, hingga saung untuk beristirahat dan mengikuti kegiatan edukasi.
“Alhamdulillah, mangrove sudah memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat Desa Pasar Rawa,” ungkap Yudi.

Tim PC Prove Pasar Rawa bersama tim Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 dan Zona 1 menerima penghargaan Gold dalam ajang CIIF 2026. Program ini mendorong pelestarian ekosistem pesisir sekaligus menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Pasar Rawa.
Kini, Desa Pasar Rawa berkembang sebagai pusat pembelajaran masyarakat (learning center) yang terbuka untuk umum. Pengunjung dapat mengikuti kegiatan edukasi dengan modul tematik yang dirancang agar proses pembelajaran berlangsung terarah dan berkelanjutan.
Program ini juga melibatkan perempuan dalam pengolahan hasil tangkapan ikan. Salah satunya melalui penyediaan produk pangan bergizi untuk mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak dan balita.
Selain itu, masyarakat mengolah ikan baronang menjadi produk unggulan bernilai tambah yang dikenal dengan nama Baronang Crispy.
Kegiatan ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan, termasuk penanaman mangrove dan pengolahan sampah organik. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan untuk mendukung kegiatan silvofishery, yakni sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan ekosistem mangrove.
Melalui pendampingan Pertamina EP Pangkalan Susu, masyarakat juga diperkenalkan dengan konsep tambak yang terintegrasi dengan mangrove. Dalam sistem ini, keberadaan mangrove tetap dipertahankan di sekitar aliran sungai dan batas tambak sebagai bagian penting dari ekosistem produksi.
Anggota KTH Penghijauan Maju Bersama, Sutrisno, mengatakan masyarakat kini semakin memahami pentingnya menjaga kelestarian mangrove.
“Dulu banyak mangrove rusak dan kualitas air turun, hasil panen ikut turun, tapi sekarang kami tahu bagaimana cara menjaga mangrove dan menjaga rumah kami,” ujarnya.
Mangrove berperan meredam gelombang, membantu melindungi kawasan tambak, serta menyediakan habitat bagi berbagai biota laut. Ekosistem mangrove yang terjaga juga dapat mendukung kualitas air dan produktivitas perikanan.
Melalui rehabilitasi mangrove, budidaya terpadu, dan penguatan usaha masyarakat, Pertamina EP Pangkalan Susu mendorong mangrove menjadi bagian dari infrastruktur alami yang menopang kehidupan warga pesisir.
Menjaga Lingkungan, Mendukung Operasional Perusahaan
Secara terpisah, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program Eduekowisata Mangrove Pasar Rawa menunjukkan bagaimana program pelibatan dan pemberdayaan masyarakat yang dirancang secara komprehensif dapat memberikan dampak bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan operasional perusahaan.
Saat ini, aktivitas dapur arang di Desa Pasar Rawa telah berhenti. Nelayan setempat juga tidak lagi mencari ikan di sekitar SPM.
“Ketika ekosistem laut pulih, jalan menuju kesejahteraan akan terbuka dengan sendirinya. Kami berharap eduekowisata ini bisa menjadi contoh sukses harmonisasi antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi akar rumput,” ungkapnya.
Masyarakat Desa Pasar Rawa bersama Pertamina EP Pangkalan Susu membangun nilai bersama (generating values) melalui prinsip bahwa menjaga mangrove sama artinya dengan menjaga rumah sendiri.
Ekosistem pesisir yang terpelihara diharapkan dapat menjadi sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus mendukung keselamatan dan kelancaran operasional perusahaan.
Program Eduekowisata Mangrove Pasar Rawa juga memperoleh sejumlah penghargaan. Di antaranya, Gold CID Upstream Award 2026 untuk kategori Social Media Campaign dan Silver untuk kategori Best CID for Social License to Operate (SLO) yang berkaitan dengan kepemimpinan Field Manager Pangkalan Susu.
Terbaru, program tersebut meraih Platinum Award kategori Economic Empowerment dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026. Tim PC Prove Pasar Rawa juga memperoleh predikat Gold dalam ajang Continuous Improvement & Innovation Forum (CIIF) 2026 PHR.
PREVIOUS ARTICLE
Labura Hibahkan 50 Hektare Lahan untuk Yonif TP TNI AD, 700 Prajurit Direncanakan Masuk Akhir 2026BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER










































