Pertalite Langka di Tapteng, Sopir Angkot dan Becak Mengeluh

Antrian panjang di SPBU Bintang Natio Pandan Tapteng (f: Syaiful/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID
Bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dalam kurun waktu dua minggu terakhir sulit didapatkan di sejumlah SPBU. Kondisi ini membuat masyarakat dari berbagai kalangan mengeluh, termasuk sopir angkutan kota (angkot) dan tukang becak.
Kosongnya stok Pertalite di sejumlah SPBU tersebut berdampak signifikan terhadap pengemudi angkutan umum. Para sopir mengaku terpaksa mengeluarkan biaya lebih untuk membeli Pertamax yang tidak sebanding dengan pendapatan mereka yang menurun drastis.
“Kalau pakai Pertalite cukup Rp80 ribu per trip. Tapi karena harus pakai Pertamax, jadi Rp100 ribu,” keluh seorang sopir angkot jurusan Sibolga–Sibabangun bernama Situmeang (40), Sabtu (31/1/2026) sore.
Ia mengungkapkan, dalam sehari sopir angkot biasanya dapat beroperasi hingga tiga trip. Akibat kelangkaan Pertalite, dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk BBM sebesar Rp60 ribu per hari.
“Kalau pakai Pertalite, biaya BBM cukup Rp240 ribu. Tapi kalau pakai Pertamax harus Rp300 ribu. Sementara penghasilan sopir angkot hanya di kisaran Rp100 ribu hingga Rp120 ribu,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Manurung (49). Ia mengaku terpaksa membeli Pertamax akibat sulitnya mendapatkan Pertalite agar tetap bisa beroperasi.
“Kalau pendapatan pasti menurun karena ada tambahan biaya untuk beli Pertamax,” bebernya.
Manurung mengatakan, meskipun ada SPBU yang masih menjual Pertalite, antreannya sangat panjang sehingga membutuhkan waktu lama.
“Kalau harus antre berjam-jam, jelas berpengaruh ke pendapatan. Biasanya bisa dapat tiga trip sehari, tapi karena antrean lama hanya dapat dua trip,” tandasnya.
Pantauan Mistar di SPBU PT Bintang Natio Pandan hingga Sabtu sore, antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM membludak hingga ke bahu jalan. Ratusan pengendara diperkirakan telah mengantre sejak subuh dengan harapan bisa memperoleh BBM, karena semakin lama antrean akan semakin panjang.
Musmuliadi Hutagalung, seorang tukang becak bermotor, mengaku sangat dirugikan dengan kondisi kelangkaan BBM tersebut.
“Sejak subuh, saya sudah berangkat dari Tukka ke Pandan untuk mencari pasokan Pertalite,” ungkapnya.
Ia mengatakan, aktivitas kerjanya sangat terganggu karena harus menghabiskan banyak waktu mengantre di SPBU. Waktu yang terbuang tersebut berdampak langsung pada pendapatan, belum lagi kewajiban setoran di tengah kondisi ekonomi yang masih terasa sulit pascabencana.
“Kami sangat bergantung pada BBM untuk mencari nafkah. Kalau kelangkaan ini terus berlanjut, bagaimana nasib kami yang bekerja sebagai pengemudi becak dan angkutan umum lainnya?” ucapnya di lokasi SPBU Pandan.
Mewakili para pengemudi becak bermotor, Musmuliadi mendesak PT Pertamina dan pihak terkait untuk segera menangani persoalan kelangkaan BBM secara serius agar aktivitas masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor dapat kembali normal.
Hal serupa disampaikan Pasaribu, warga Sibabangun, yang menempuh jarak sekitar 31 kilometer demi mencari stok Pertalite. Ia mengatakan, di SPBU lain seperti di Lopian dan Muara Nibung, BBM juga sulit diperoleh.
Ia mengaku khawatir kondisi tersebut dapat memengaruhi kondusivitas wilayah Tapteng.
“Pertamina harus menjelaskan apa kendalanya dan segera memberikan solusi agar pendistribusian BBM kembali lancar,” kata Pasaribu.
PREVIOUS ARTICLE
Satgas TNI AD Bangun Lima Jembatan Gantung di Asahan–Batu Bara

















