Sunday, June 28, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Hampir 30 Tahun Rusak, Jalan di Bosar Galugur Hambat Pendidikan hingga Akses Kesehatan

Mistar.idSenin, 11 Mei 2026 pukul 11.18 WIB
hampir_30_tahun_rusak_jalan_di_bosar_galugur_hambat_pendidikan_hingga_akses_kesehatan

Kondisi jalur menuju Huta V Kuala Janji, Nagori Bosar Galugur, Kecamatan Tanah Jawa. (foto:indra/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Harapan warga Ujung Bondar, Dusun Panombean, Dusun Pining III, dan Dusun Huta V Kuala Janji di Nagori Bosar Galugur, Kecamatan Tanah Jawa, untuk menikmati jalan yang layak tampaknya belum juga terwujud. Hampir tiga dekade, akses utama yang menjadi urat nadi pendidikan, kesehatan, hingga distribusi hasil panen itu dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.

Di bawah terik matahari, jalan sepanjang sekitar lima kilometer dari Simpang Ujung Bondar menuju perkampungan warga tampak bergelombang dan dipenuhi batu padas yang mencuat dari permukaan tanah. Di sejumlah titik, kendaraan roda dua harus berjalan perlahan menghindari lubang dan tonjolan jalan, sementara mobil hanya bisa melintas jika memiliki bodi tinggi. Di kiri dan kanan jalan, hamparan kebun sawit yang rimbun seolah menjadi saksi bisu perjuangan warga yang setiap hari harus berjibaku dengan akses yang sulit.

Warga menyebut jalan itu sudah rusak sejak puluhan tahun lalu. Awalnya hanya berupa tanah liat yang saat musim hujan berubah menjadi kubangan licin. Pada 2010, jalan sempat diperkeras dengan batu padas, namun hingga kini belum pernah mendapat peningkatan berarti.

“Sudah lebih dari 25 tahun seperti ini. Dulu tanah liat, tahun 2010 baru dibuat batu padas. Sampai sekarang belum ada perbaikan lagi,” ujar Setiawan, pemuda setempat, kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, jalan itu merupakan satu-satunya akses utama warga menuju fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan dari Nagori Bosar Galugur. Namun, karena kondisi jalan yang rusak berat, tidak semua kendaraan bisa melintas dengan aman.

“Kalau mobil harus yang tinggi. Kadang warga terpaksa lewat jalan potong, melintas dari perladangan sawit milik warga supaya lebih mudah,” kata pria berambut gondrong itu.

Kesulitan serupa juga dirasakan Prayetno, warga yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Ia mengaku hambatan terbesar justru saat harus mengangkut hasil panen keluar kampung.

“Kalau bawa hasil panen susah. Biaya angkut jadi lebih mahal, kendaraan juga sering rusak,” ujarnya.

Sementara itu, Awang Setia menambahkan, kondisi jalan membuat waktu tempuh warga bertambah signifikan. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh singkat sering kali memakan waktu lebih lama karena harus ekstra hati-hati melewati jalan berbatu.

“Kalau ada urusan penting ke luar kampung, kami harus berangkat lebih awal karena jalannya memang menyulitkan,” ucapnya.

Dampak paling berat dirasakan Jul Efendi saat istrinya hendak melahirkan. Demi menghindari risiko keterlambatan menuju fasilitas kesehatan, keluarganya terpaksa keluar dari kampung lebih awal dan menanggung biaya tambahan.

“Istri saya baru melahirkan. Seminggu sebelum lahiran kami sudah harus keluar dari kampung dan menginap dekat fasilitas kesehatan. Mau tidak mau harus tambah biaya,” ujarnya.

Warga berharap pemerintah daerah segera memberi perhatian serius terhadap kondisi jalan tersebut. Mereka menilai pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan, pendidikan anak-anak, akses kesehatan ibu dan bayi, hingga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Bagi warga Bosar Galugur, jalan berbatu yang membelah kebun sawit itu bukan sekadar jalur penghubung. Jalan itu menjadi simbol panjangnya penantian akan pemerataan pembangunan yang hingga kini belum benar-benar mereka rasakan. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN