Duma, Penjual Koran yang Bertahan 20 Tahun di Sudut Jalan Ade Irma

Lapak tempat Duma berjualan koran di Jalan Ade Irma Suryani, Kota Pematangsiantar. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Setiap pagi di sudut Jalan Ade Irma Suryani, Duma, sibuk merapikan deretan surat kabar atau koran di lapaknya yang sederhana. Hanya beralas beberapa lembar karton.
Meski kebanyakan orang di Pematangsiantar sudah sibuk menyapu layar ponsel untuk mencari berita terbaru, Duma tetap setia dengan koran. Sejak dua puluh tahun lalu, ia berdiri di tempat itu, menggantungkan harapan dari hasil penjualan koran satu per satu. Tak terasa, dua dekade sudah berlalu.
Duma melihat sendiri bagaimana kebiasaan orang mencari informasi berubah. Dulu, koran pagi menjadi buruan wajib sebelum berangkat kerja. Namun sekarang, berita digital bergerak cepat dan membanjiri dunia, membuat lapaknya semakin sepi.
Meski begitu, semangat Duma tidak pernah padam. Baginya, setiap lembar koran masih punya nyawa.
"Dari dulu sampai sekarang, masih ada saja yang beli walaupun cuma dua sampai tiga orang tiap hari," katanya, Rabu (29/7/2026), dengan senyum hangat menghiasi wajahnya.
Walaupun saat ini hanya dua atau tiga orang pembeli dalam sehari, menurutnya koran masih punya tempat di hati beberapa orang.
Salah satu pelanggannya, Rudi, 50 tahun, masih setia dengan koran. Ia bercerita, membaca koran memiliki sensasi tersendiri. Melipat halaman dan menikmati berita dari baris ke baris membuat hatinya lebih tenang dibandingkan membaca melalui ponsel.
"Saya lebih suka baca koran daripada lihat berita di gawai," katanya sambil merapikan koran yang baru saja dibeli.
Bagi Rudi dan segelintir penggemar lainnya, membaca koran adalah sebuah ritual. Bukan hanya soal mengetahui berita, tetapi juga tentang menikmati informasi tanpa diburu notifikasi.
Tantangan ekonomi dan penghasilan yang makin tidak pasti memang terus mengintai. Namun, Duma tidak pernah mau menyerah. Di sudut Jalan Ade Irma Suryani, ia bukan hanya menjual berita hari ini, tetapi juga menjaga kenangan, kebiasaan, dan sejarah kecil di Kota Pematangsiantar yang masih bertahan dari gempuran zaman.
Lapak koran Duma menjadi pengingat. Di tengah dunia digital yang serba cepat dan instan, masih ada kehangatan yang tak tergantikan, tersimpan di lembaran kertas. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
DPRD Simalungun Soroti Jalan, Sampah, dan Layanan Publik dalam Pembahasan LPJ Bupati


















