Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Tanda-tanda Kehidupan di Bawah Lapisan Es Europa Kembali Diuji, Hasilnya Diumumkan

Mistar.idRabu, 21 Januari 2026 pukul 09.02 WIB
tandatanda_kehidupan_di_bawah_lapisan_es_europa_kembali_diuji_hasilnya_diumumkan

Laut Arktik di Kutub Utara. Es laut, lapisan es di Laut Arktik Kutub Utara. (Foto: Shutterstock/Kertu)

news_banner

Washington, MISTAR.ID

Harapan menemukan tanda-tanda kehidupan di bawah lapisan es Europa kembali diuji. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lautan bawah permukaan Europa kemungkinan berada dalam kondisi yang terlalu “tenang” untuk mendukung kehidupan.

Studi ini dipimpin oleh ilmuwan planet dari Washington University in St. Louis dan dipublikasikan di jurnal Nature Communications. Tim peneliti menyimpulkan bahwa dasar laut Europa tampaknya tidak memiliki aktivitas geologi yang cukup, seperti retakan, gunung api bawah laut, atau sumber panas, yang selama ini dianggap penting bagi munculnya kehidupan.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Paul Byrne, Associate Professor ilmu kebumian dan planet. Dengan menggunakan pemodelan fisika, timnya menganalisis ukuran Europa, struktur inti batuannya, serta pengaruh gaya gravitasi Jupiter.

Hasil analisis menunjukkan bahwa bagian dasar laut Europa kemungkinan besar bersifat statis dan minim dinamika.

“Jika suatu hari kita bisa menurunkan kendaraan bawah laut ke sana, kita mungkin tidak akan menyaksikan apa pun yang aktif. Dari sudut pandang geologi, lingkungannya sangat sunyi,” ujar Byrne, dikutip dari laman resmi universitas.

Europa diketahui memiliki lapisan es setebal sekitar 15 hingga 25 kilometer. Di bawahnya terbentang lautan asin yang menyelimuti seluruh permukaan bulan tersebut dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai 100 kilometer.

Meski ukuran Europa sedikit lebih kecil dibandingkan Bulan yang mengorbit Bumi, jumlah air yang tersimpan di dalamnya diperkirakan melebihi seluruh lautan di planet kita.

Di bawah lautan itu terdapat inti berbatu dengan struktur yang mirip dengan Bumi. Namun, menurut temuan Byrne dan timnya, panas internal dari inti tersebut kemungkinan telah menghilang sejak miliaran tahun lalu.

Selain itu, gaya pasang-surut akibat tarikan gravitasi Jupiter yang selama ini diduga mampu memicu aktivitas geologi ternyata tidak cukup kuat. Kondisi ini berbeda jauh dengan Io, bulan Jupiter yang paling dekat dengan planet tersebut. Orbit Io yang tidak stabil menyebabkan gaya pasang-surut ekstrem, menjadikannya objek paling aktif secara vulkanik di Tata Surya.

Europa, sebaliknya, memiliki orbit yang lebih stabil dan berada lebih jauh dari Jupiter. Akibatnya, energi pasang-surut yang dihasilkan tidak mampu memberikan panas yang cukup untuk menggerakkan proses geologi di dasar lautnya.

“Kami tidak menemukan indikasi adanya aktivitas vulkanik atau semburan panas seperti yang terlihat di Io. Energi yang tersedia tampaknya tidak memadai untuk mempertahankan dinamika geologi di bawah laut Europa,” ucap Byrne.

Menanti Jawaban dari Misi Europa Clipper

Meski hasil penelitian ini terkesan mengurangi peluang ditemukannya kehidupan, para ilmuwan belum menutup buku soal Europa. Byrne menegaskan bahwa misi NASA Europa Clipper, yang dijadwalkan melakukan lintasan dekat Europa pada musim semi 2031, tetap berpotensi memberikan pemahaman yang jauh lebih mendalam.

Misi tersebut akan memotret permukaan Europa dengan resolusi tinggi serta mengukur ketebalan lapisan es dan karakteristik lautannya secara lebih akurat.

“Data dari misi itu akan membantu menjawab banyak pertanyaan yang masih terbuka dan memberi gambaran yang lebih pasti tentang kondisi Europa,” kata Byrne.

Ia juga menekankan bahwa ketiadaan kehidupan bukanlah kegagalan eksplorasi. Menurutnya, pencarian ini tetap penting untuk memperluas pemahaman manusia tentang kemungkinan kehidupan di luar Bumi.

“Saya tidak akan kecewa jika Europa ternyata steril. Saya yakin kehidupan ada di tempat lain di alam semesta, meskipun mungkin sangat jauh. Itulah esensi eksplorasi—untuk mengetahui apa yang ada di luar sana,” ujarnya.

Adapun hasil penelitian ini dipublikasikan pada 6 Januari 2025 dalam jurnal Nature Communications dengan judul “Little to no active faulting likely at Europa’s seafloor today.” (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN