Benarkah Suatu Hari Bumi Akan Memiliki 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Bumi. (Foto: Unplash/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Pernah beredar klaim bahwa suatu hari nanti panjang satu hari di Bumi tidak lagi 24 jam, melainkan menjadi 25 jam. Klaim ini kerap memicu rasa penasaran: apakah hal tersebut benar-benar mungkin terjadi?
Jawabannya, secara ilmiah memang memungkinkan. Namun, perubahannya berlangsung sangat lambat dan waktunya masih sangat jauh dari skala kehidupan manusia saat ini.
Dalam keseharian, kita mengenal satu hari berdurasi 24 jam. Namun dari sudut pandang astronomi, konsep “hari” tidak sesederhana itu. Yang kita gunakan sehari-hari adalah solar day, yaitu waktu yang dibutuhkan Matahari untuk kembali ke posisi yang sama di langit. Sementara itu, jika diukur berdasarkan rotasi Bumi terhadap bintang-bintang jauh (sidereal day), durasinya sekitar 23 jam 56 menit.
Mengutip Ecoticias, Selasa (29/12/2025), hal penting yang perlu dipahami adalah rotasi Bumi tidak sepenuhnya konstan. Kecepatannya berubah sangat kecil dari waktu ke waktu.
Faktor utama yang memengaruhi perubahan ini adalah efek pasang surut laut akibat gravitasi Bulan. Tarikan Bulan membentuk tonjolan air laut (tidal bulges). Karena tonjolan tersebut tidak selalu sejajar dengan posisi Bulan, terjadi gesekan yang perlahan memperlambat putaran Bumi. Energi yang “hilang” dari rotasi Bumi itu kemudian berpindah ke Bulan, sehingga Bulan secara bertahap menjauh dari Bumi.
Perubahan rotasi ini dipantau menggunakan jam atom yang sangat presisi, serta data astronomi lama, termasuk catatan gerhana dari ratusan hingga ribuan tahun lalu. Perbedaan kecil antara waktu jam dan rotasi Bumi dicatat dan diumumkan oleh lembaga internasional seperti International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS).
Kapan Hari Menjadi 25 Jam?
Yang pasti, perubahan satu hari menjadi 25 jam tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Para ilmuwan memperkirakan hal tersebut baru mungkin terjadi sekitar 200 juta tahun mendatang, dengan catatan laju perlambatan rotasi Bumi tetap seperti sekarang.
Sebagai perbandingan, jutaan tahun silam durasi satu hari di Bumi hanya sekitar 18–19 jam. Pada masa itu, Bulan berada jauh lebih dekat ke Bumi. Seiring berjalannya waktu, efek pasang surut terus memperlambat rotasi Bumi dan membuat panjang hari semakin bertambah.
Meski secara teori durasi hari memang terus memanjang, kecepatannya sangat kecil, sekitar 1,7 hingga 2 milidetik per abad. Dalam rentang satu abad, perubahan ini nyaris tak terasa bagi manusia.
Jadi, tidak ada alasan untuk khawatir atau buru-buru menyesuaikan jam dan kalender. Namun fenomena ini mengingatkan kita bahwa konsep waktu yang tampak stabil sebenarnya merupakan hasil dari proses fisika kosmik yang bekerja sangat lambat, dalam skala jutaan hingga ratusan juta tahun. (hm20)




















