Ekosistem Purba 280 Juta Tahun Ditemukan di Pegunungan Alpen Italia

Para peneliti memindahkan fosil ke bahan putih seperti spons untuk transportasi pada 21 Oktober 2024. (foto:livescience/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Claudia Steffensen yang mendaki di Pegunungan Alpen Italia menemukan fragmen ekosistem berusia 280 juta tahun, lengkap dengan jejak kaki, fosil tanaman, bahkan jejak tetesan air hujan.
Steffensen sedang berjalan di belakang suaminya di Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia, pada 2023 ketika ia menginjak sebuah batu yang tampak seperti lempengan semen.
“Saya kemudian melihat desain melingkar aneh dengan garis-garis bergelombang. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa itu adalah jejak kaki,” kata Steffensen seperti dikutip dari The Guardian, Senin (17/11/2025).
Para ilmuwan menganalisis batu tersebut dan menemukan bahwa jejak kaki itu milik reptil prasejarah. Temuan awal ini menimbulkan pertanyaan tentang petunjuk lain di luar 'titik nol batu' tersebut yang tersembunyi di dataran tinggi Alpen.
Para ahli kemudian mengunjungi situs tersebut beberapa kali dan menemukan bukti keberadaan ekosistem lengkap dari periode Permian (299 juta hingga 252 juta tahun lalu). Periode Permian ditandai oleh iklim yang menghangat dengan cepat dan berpuncak pada peristiwa kepunahan massal yang dikenal sebagai “Great Dying” atau Kematian Besar yang memusnahkan 90% spesies Bumi.
Jejak ekosistem ini terdiri atas fosil jejak kaki reptil, amfibi, serangga, dan artropoda yang sering kali sejajar membentuk ‘jejak’. Selain itu, para peneliti juga menemukan fosil benih, daun, dan batang purba, serta jejak tetesan air hujan dan pola ombak yang pernah menjilati tepi danau prasejarah tersebut.
Bukti ekosistem kuno ini ditemukan hingga ketinggian 3.000 meter di pegunungan serta di dasar lembah, tempat tanah longsor mengendapkan batuan fosil selama ribuan tahun. Ekosistem yang terbentuk dari batu pasir berbutir halus ini memiliki tingkat pelestarian luar biasa berkat kedekatannya dengan air pada masa lalu.
“Jejak kaki tersebut terbentuk saat batu pasir dan serpih ini masih berupa pasir dan lumpur yang terendam air di tepi sungai dan danau, yang secara berkala mengering,” kata Ausonio Ronchi, paleontolog di Pavia University, Italia.
“Matahari musim panas mengeringkan permukaan tersebut dan mengeraskannya, sehingga ketika air kembali, jejak kaki tidak terhapus, melainkan tertutup tanah liat baru yang membentuk lapisan pelindung,” jelasnya.
Menurut para peneliti, butiran pasir dan lumpur halus itu mengawetkan detail terkecil, termasuk bekas cakaran dan pola dari bagian bawah perut hewan. Jejak-jejak tersebut berasal dari sedikitnya lima spesies berbeda, beberapa di antaranya mungkin mencapai ukuran komodo modern (Varanus komodoensis) yang tumbuh antara 2–3 meter.
“Pada saat itu dinosaurus belum ada, tetapi hewan yang bertanggung jawab atas jejak kaki terbesar yang ditemukan di sini pasti berukuran cukup besar,” ujar Cristiano Dal Sasso, paleontolog vertebrata di Natural History Museum of Milan.
“Fosil-fosil ini menawarkan jendela untuk melihat dunia yang telah lama hilang, yang penghuninya punah pada akhir Permian. Temuan ini juga dapat mengajari kita tentang masa yang kita jalani sekarang,” lanjut para peneliti.
Banyak jejak prasejarah tersebut kemungkinan besar akan tetap tersembunyi jika bukan karena perubahan iklim yang dengan cepat mengurangi lapisan es dan salju di Pegunungan Alpen.
“Fosil-fosil ini menjadi saksi bisu periode geologis yang jauh, tetapi dengan tren pemanasan global yang sangat mirip dengan kondisi saat ini. Masa lalu mengajarkan kita banyak hal tentang risiko yang akan kita hadapi di dunia modern,” kata para peneliti. (hm16)






















