Siswi SMAN 1 Medan Asal Nias Utara Terpilih Jadi Paskibra ADEM di Jakarta

Siswa SMAN 1 Medan, Cilly Yolanda Zalukhu yang menjadi perwakilan Paskibra ADEM dari Sumut. (foto:dokumen Cilly/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (15/8/2026) – Perjuangan panjang Cilly Yolanda Zalukhu, 16 tahun, akhirnya berbuah manis. Sempat dua kali gagal pada seleksi sebelumnya, siswi asal Nias Utara ini akhirnya terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Jakarta.
Anak kelima dari enam bersaudara itu mengaku sangat bangga dan terharu lantaran menjadi satu-satunya perwakilan Paskibra ADEM dari Provinsi Sumatera Utara. Baginya, ini adalah kesempatan berharga yang tidak akan disia-siakannya.
“Sebelumnya saya sudah pernah coba dua kali, tetapi belum berhasil. Jadi ketika tahun ini Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi salah satu pengibar bendera di Kemendikdasmen, saya merasa sangat bersyukur,” kata siswi SMAN 1 Medan tersebut kepada Mistar, Sabtu (15/8/2026).
Kecintaannya kepada dunia Paskibra sudah ada sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia terinspirasi dari saudaranya yang pernah menjadi Paskibraka. “Waktu kecil saya sering memakai pecinya dan membayangkan suatu saat bisa menjadi bagian dari keluarga Paskibra,” ucapnya.
Impian masa kecilnya itu diwujudkan dengan aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Paskibra di sekolah. Hingga akhirnya Cilly mencoba peruntungan di tingkat nasional sejak kelas XI pada 17 Agustus 2025 dan 2 Mei lalu.
Saat ini, Cilly bersama anggota Paskibra dari provinsi lainnya mengikuti pelatihan intensif sejak 8 hingga 15 Agustus di Jakarta. Latihan yang dilakukan menuntut Cilly dan kawan-kawan harus belajar beradaptasi, disiplin, serta bertanggung jawab.
“Selain latihan fisik dan baris-berbaris, kami juga banyak belajar tentang kerja sama, karena menurut saya kekompakan dalam tim itu sangat penting untuk bisa memberikan hasil yang baik dan maksimal,” tuturnya.
Bagi Cilly dan rekan-rekannya sesama Gen Z, tantangan terberat masuk dalam karantina untuk latihan adalah kedisiplinan waktu yang tinggi, seperti bangun pagi pukul 04.00 WIB, misalnya. “Harus bangun pagi itu tantangan yang berat sama Gen Z,” ucapnya sambil tertawa.
Selain itu, mereka juga akan mendapatkan hukuman push-up bersama jika ada satu orang saja yang melakukan kesalahan, hingga batasan waktu makan yang hanya diberikan selama 10 menit.
Jadwal hariannya pun cukup padat, di mana usai latihan fisik, malam harinya masih diisi dengan pemberian materi setelah jam makan malam.
“Awalnya saya sempat merasa takut karena saya membayangkan pelatihannya akan sangat keras. Tapi setelah menjalaninya, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” katanya lagi.
Di balik tempaan fisik yang keras, Cilly mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga. Solidaritas tinggi serta kesempatan menjalin persaudaraan dengan sesama anak muda dari Sabang sampai Merauke menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
“Sukanya punya banyak teman dari berbagai provinsi dan dari suku yang berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke. Tertawa bersama dan bercanda bersama,” tuturnya.
Menjelang HUT RI yang tinggal menghitung hari, Cilly mengaku sedikit gugup, namun tetap antusias. Meski ini adalah pengalaman perdana baginya, Cilly tetap berusaha mempersiapkan diri, baik fisik maupun mentalnya.
“Saya juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar sebanyak-banyaknya, mendapatkan pengalaman baru, dan bertemu dengan teman-teman dari berbagai provinsi,” ucapnya. (hm27)





















