Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Kisah Inspiratif Siswa SMA Negeri 2 Medan Masuk Empat Besar SNBP: Lelah, Jenuh, Tapi Tetap Bersinar

Mistar.idKamis, 22 Januari 2026 pukul 19.10 WIB
kisah_inspiratif_siswa_sma_negeri_2_medan_masuk_empat_besar_snbp_lelah_jenuh_tapi_tetap_bersinar

siswa SMAN 2 Medan, Maftuhat Putri Naisya (kiri) dan Abbeeghael Victorya Sitompul (kanan) yang masuk dalam daftar 4 besar siswa eligible untuk SNBP. (foto:Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Masuk empat besar siswa eligible Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di SMA Negeri 2 Medan bukanlah perjalanan mudah bagi Maftuhat Putri Naisya dan Abbeeghael Victorya Sitompul. Di balik capaian akademik mereka tersimpan cerita tentang lelah, jenuh, manajemen waktu yang kacau, hingga cara-cara sederhana—bahkan menangis—untuk bertahan.

Maftuhat Putri Naisya, 17 tahun, mengaku perasaannya campur aduk saat dinyatakan masuk jajaran teratas dari sekitar 170 siswa eligible. Ia senang sekaligus lelah setelah tiga tahun mengumpulkan nilai rapor dan prestasi.

“Senang, karena selama tiga tahun capek ngumpulin nilai. Ada penyesalan di dua tahun belakangan, tapi lebih bersyukur karena bisa masuk ke tiga besar,” ujarnya kepada MISTAR, Kamis (22/1/2026).

Menurut Maftuhat, capaian itu bukan hasil instan. Sejak kelas X, ia aktif mengumpulkan sertifikat dan mengikuti lomba bersama Abbeeghael. Keduanya bahkan dua kali meraih prestasi tingkat provinsi dan nasional. Selain itu, ia berusaha konsisten menjaga nilai tugas dan rapor agar tetap stabil.

Namun, status siswa berprestasi tak membuatnya luput dari kejenuhan. Jadwal padat ujian, lomba, bimbingan belajar, hingga persiapan IELTS membuat manajemen waktu terasa berat.

“Kadang rasanya kalau bisa belah diri, mau belah diri. Tapi saya ingatkan diri sendiri, ini bukan cuma buat puas sekarang, tapi buat kenyamanan hidup ke depan,” tuturnya.

Maftuhat mengaku sering menangis saat sudah terlalu lelah. “Setelah nangis rasanya lega. Jadi ringan lagi mau ngerjain apa pun. Intinya diselingi istirahat, jangan diforsir,” kata anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Untuk pilihan SNBP, Maftuhat menargetkan Ilmu Komunikasi di UGM. Ia mengaku optimisme dirinya berada di angka 70 persen.

“Saya sudah dua tahun terakhir benar-benar memperbagus portofolio. Tapi hasilnya kan tetap di tangan Tuhan,” ujarnya.

Meski awalnya orang tua ragu melepasnya kuliah di luar kota, Maftuhat bertekad membuktikan bisa mandiri di perantauan kelak.

Cerita serupa datang dari Abbeeghael Victorya Sitompul, 16 tahun. Ia bersyukur bisa masuk empat besar dan membuat orang tuanya bangga, meski menyesali kurang serius belajar saat kelas X.

Sejak awal, Abbeeghael sudah dipadatkan dengan jadwal les intensif tiga hingga empat kali seminggu. Sepulang les, ia kembali belajar di rumah. Waktu luang kerap dimanfaatkan untuk mendaftar olimpiade demi menambah sertifikat. Rutinitas padat itu membuatnya sering kurang istirahat dan mudah jenuh. Saat kejenuhan datang, Abbeeghael memilih untuk makan atau mendengarkan lagu sebentar sebelum kembali belajar.

Untuk pilihan SNBP, Abbeeghael menargetkan Hukum USU sebagai pilihan pertama dan Ilmu Komunikasi Undip sebagai pilihan kedua. Namun, keinginannya kuliah di luar Sumatera Utara belum sepenuhnya mendapat restu orang tua. Ia berencana kembali berdiskusi, dan jika belum diizinkan, siap mengambil dua pilihan di USU.

Menjelang pengumuman SNBP, keduanya berharap mendapat berita memuaskan dan menduduki bangku kuliah di kampus impiannya masing-masing.

“Semoga hasil yang kami dapatkan itu seindah dan sekeras usaha dan doa,” kata Maftuhat. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN