Piala Dunia 2026: FIFA Menang, Sepak Bola Kalah

Ilustrasi, Piala Dunia 2026: FIFA Menang, Sepak Bola Kalah. (foto:AI/mistar)
Oleh: Anwar Suheri Pane
Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola terbesar di dunia. Turnamen empat tahunan ini adalah satu-satunya acara di muka bumi yang mampu membuat miliaran orang—dari benua, bahasa, dan keyakinan berbeda—merasakan sesuatu yang sama pada saat yang sama.
Karena itu, ketika FIFA mengubah cara turnamen ini diselenggarakan, pertanyaannya bukan lagi soal ukuran. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah yang diperbesar itu masih menyimpan hal yang selama ini membuat kita jatuh cinta kepada Piala Dunia?
Piala Dunia 2026 di Amerika Utara akan menjadi yang terbesar dalam sejarah. Sebanyak 48 negara peserta. Tiga negara tuan rumah. Puluhan kota penyelenggara. Angka-angka yang terdengar spektakuler dan menjanjikan.
Namun, di balik kemegahan itu, ada sesuatu yang jarang muncul dalam siaran pers FIFA maupun laporan keuangan sponsor.
Apa sebenarnya yang membuat Piala Dunia berbeda dari turnamen lainnya?
Jika hanya soal 22 pemain mengejar bola, setiap liga besar di dunia menawarkan hal yang sama, bahkan dengan kualitas yang tidak kalah tinggi. Yang membuat Piala Dunia tak tergantikan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli: pengalaman kolektif.
Selama sebulan penuh, dunia berkumpul di satu tempat. Batas negara, bahasa, agama, dan budaya seolah mencair dalam satu perayaan yang sama. Di situlah letak keajaiban Piala Dunia yang sesungguhnya.
Cukup buka media sosial menjelang atau selama Piala Dunia, dan ribuan cerita semacam itu akan bermunculan. Salah satu kisah yang banyak beredar selama Qatar 2022 adalah bagaimana sejumlah warga setempat membuka pintu rumah mereka untuk para suporter dari berbagai negara. Tanpa bayaran. Tanpa syarat.
Klip-klip tentang momen itu masih mudah ditemukan hingga hari ini: makan malam bersama orang asing yang baru dikenal, ruang tamu yang berubah menjadi tempat singgah para pendukung sepak bola, hingga persahabatan yang lahir dari pertemuan yang tidak pernah direncanakan.
Mereka bukan hanya merindukan gol atau trofi, tetapi perasaan berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, bersama seluruh dunia. Perasaan itulah yang kini sedang dipertaruhkan.
Pada Piala Dunia 2026 yang akan dibuka pada 11 Juni 2026, pertandingan tersebar dari Vancouver hingga Guadalajara dengan jarak sekitar 4.400 kilometer. Bahkan dua kota penyelenggara yang paling berdekatan, Houston di Amerika Serikat dan Monterrey di Meksiko, masih dipisahkan sekitar 800 kilometer.
Bagi FIFA, angka-angka tersebut mungkin hanya menunjukkan luasnya cakupan turnamen. Memang ada beberapa kota penyelenggara yang relatif berdekatan. Seattle di Amerika Serikat dan Vancouver di Kanada, misalnya, hanya dipisahkan sekitar 225 kilometer.
Namun, kedekatan itu tidak berlangsung sepanjang turnamen. Memasuki babak perempat final, seluruh pertandingan akan dipusatkan di Amerika Serikat, yakni di Los Angeles, Kansas City, Miami, dan Boston. Artinya, suporter yang sebelumnya mengikuti pertandingan di Kanada atau Meksiko harus kembali melakukan perjalanan lintas negara dengan jarak ribuan kilometer.
Bagi suporter, jarak itu berarti biaya perjalanan yang lebih besar, waktu tempuh yang lebih panjang, dan semakin sulitnya mengikuti tim kesayangan dari satu fase ke fase berikutnya.
Pada Piala Dunia 2030, fragmentasi itu akan menjadi lebih nyata. Sebagian pertandingan pembuka digelar di Amerika Selatan, sementara sebagian besar turnamen berlangsung di Eropa dan Afrika. Dunia memang akan menyaksikan satu Piala Dunia yang sama, tetapi tidak lagi berkumpul di tempat yang sama.
Secara bisnis, keputusan tersebut mungkin masuk akal. Pasar semakin luas. Eksposur semakin besar. Hak siar semakin bernilai. FIFA dapat mengklaim bahwa lebih banyak negara dilibatkan dalam pesta sepak bola terbesar di dunia. Namun, ada sesuatu yang tampaknya luput dari perhitungan.
Apa arti sebuah festival dunia ketika para pesertanya tersebar ribuan kilometer dan beberapa zona waktu yang berbeda?
Festival membutuhkan kedekatan. Ia membutuhkan orang-orang yang bernyanyi di jalanan yang sama, berkumpul di alun-alun yang sama, dan berbagi cerita hingga larut malam. Ketika para suporter terpecah ke dalam klaster-klaster yang berjauhan, pengalaman kolektif yang selama puluhan tahun menjadi identitas Piala Dunia ikut terpecah.
Dunia memang masih menyaksikan turnamen yang sama, tetapi tidak lagi berada dalam ruang yang sama.
Ada persoalan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan. Piala Dunia selama ini menjadi salah satu ruang langka tempat suporter dari berbagai latar belakang ekonomi dapat hadir dalam satu arena yang sama. Bukan karena biayanya murah, melainkan karena penyelenggaraan yang relatif terpusat membuat perjalanan lebih memungkinkan untuk dijangkau.
Kini, mengikuti perjalanan tim kesayangan dari fase grup hingga final bisa berarti penerbangan lintas negara, perpindahan kota berkali-kali, serta biaya akomodasi yang terus membengkak. Bagi sebagian suporter, biaya perjalanan bahkan bisa jauh lebih mahal daripada harga tiket pertandingan itu sendiri.
Kekhawatiran tersebut bukan sekadar asumsi. Menjelang Piala Dunia 2026, operator transportasi NJ Transit sempat menetapkan tarif perjalanan pulang-pergi menuju MetLife Stadium di New Jersey sebesar US$150 bagi para penonton pertandingan.
Angka itu memicu kritik karena tarif normal perjalanan yang sama dari Penn Station, New York, hanya sekitar US$12,90. Meski kemudian direvisi setelah mendapat protes, kasus tersebut menunjukkan bagaimana biaya yang mengiringi pesta sepak bola terbesar dunia dapat melonjak jauh melampaui harga yang lazim dibayar masyarakat sehari-hari.
Perlahan tetapi pasti, tribun stadion Piala Dunia berisiko berubah. Bukan lagi lautan manusia yang riuh, spontan, dan berwarna-warni, melainkan acara premium yang semakin mahal untuk diakses. Suporter kelas pekerja, yang selama ini menjadi denyut kehidupan tribun, semakin sulit hadir secara langsung.
Di situlah slogan FIFA, Football Unites the World, mulai menghadapi ujian terberatnya.
Menyatukan dunia bukan sekadar soal berapa banyak negara yang dilibatkan. Menyatukan dunia berarti menciptakan ruang yang memungkinkan manusia bertemu, berinteraksi, dan berbagi pengalaman yang sama.
Kita tidak mengenang Meksiko 1986, Prancis 1998, atau Afrika Selatan 2010 karena laporan keuangan FIFA yang mengesankan. Kita mengingatnya karena kenangan yang lahir di sana. Karena cerita-cerita yang dibawa pulang oleh jutaan orang biasa yang menabung bertahun-tahun demi membeli satu tiket dan menjadi bagian dari sejarah.
FIFA tentu memiliki argumen yang sah untuk membela format baru ini. Semakin banyak negara peserta berarti semakin banyak bangsa yang dapat merasakan panggung terbesar sepak bola dunia. Semakin banyak tuan rumah berarti semakin luas pula manfaat ekonomi yang dapat dibagi.
Namun, pertanyaannya bukan apakah format ini menguntungkan FIFA atau negara penyelenggara. Pertanyaannya adalah apakah format tersebut masih mampu menghadirkan pengalaman kolektif yang selama puluhan tahun menjadi jiwa Piala Dunia.
Ketika pertimbangan bisnis menjadi semakin dominan, ada risiko yang nyata: turnamen ini akan terus bertumbuh dalam ukuran, tetapi menyusut dalam makna.
Sepak bola mungkin akan memperoleh pasar yang lebih besar. Namun, ia bisa kehilangan kehangatan yang selama ini membuat miliaran orang jatuh cinta kepadanya.
Dan jika itu terjadi, yang hilang bukan sekadar sebuah format turnamen.
Yang hilang adalah jiwa Piala Dunia itu sendiri. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Paradoks Rupiah dan Ilusi Subsidi: Krisis Tata Kelola Energi dan Keadilan Fiskal di IndonesiaBERITA TERPOPULER



















