Monday, July 27, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Tafoo'lo Nehe, Sosok Pelompat Batu Nias di Uang Rp1.000

Mistar.idSenin, 27 Juli 2026 pukul 08.38 WIB
tafoolo_nehe_sosok_pelompat_batu_nias_di_uang_rp1000

Seorang Pelompat Batu asli Desa Bawomataluo, Tafoo'lo Nehe, yang pernah diabadikan di uang kertas pecahan Rp1.000 emisi 1992. (Foto: Iqbal/Mistar)

news_banner

Nias Selatan – Berbicara tentang Kepulauan Nias kita bisa banyak berbicara sejarah. Bukan hanya destinasi wisatanya, bukan juga tentang peradabannya, tapi juga mengenai orang-orang yang ada di dalamnya.

Belum lama ini Mistar sempat mengeksplor sebagian kecil dari Kepulauan yang menghadap langsung Samudra Hindia tersebut. Tepatnya pada 17 Juli 2026 di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan. Kami bertemu dengan seorang bernama Tafoo'lo Nehe.

Tafoo'lo Nehe yang saat itu memakai busana khas Nias Selatan berlengkapkan senjatanya sangat terbuka ketika diajak berbincang. Singkat cerita pria 58 tahun tersebut merupakan sosok yang pernah diabadikan di uang kertas pecahan Rp1.000 emisi 1992.

Pada emisi tahun tersebut, di salah satu sisi uang Rp1.000 memiliki gambar Pelompat Batu Desa Bawomataluo yang tidak lain adalah Tafoo'lo Nehe. Ia pun mengaku foto tersebut diambil saat dirinya melakukan atraksi yang sudah ditekuninya sejak lama.

"Tahu uang kertas Rp1.000 lama yang gambar lompat batu? Itu saya," begitulah kira-kira dirinya membuka percakapan kepada wartawan saat itu.

Tafoo'lo Nehe mengatakan keahlian yang dimilikinya tersebut sudah ditekuninya sejak masih muda. Mengenai fotonya yang diabadikan di pecahan uang kertas, menurutnya hal tersebut merupakan sebuah kebanggaan baginya dan masyarakat Nias.

"Saya tidak ada ambil royalti, tidak ada itu. Yang penting saya bangga, bangga bisa bawa nama Nias Selatan, nama Sumatera Utara terlebih khusus desa Bawomataluo," ujarnya.

Keahliannya di Fahombo (lompat batu) juga bukan tanpa prestasi. Hingga saat ini dirinya masih memegang rekor lompatan tertinggi dengan catatan 2,80 meter. Sebagai gambaran tinggi lompatan batu desa Bawomataluo berkisar 2,10 meter.

Tafoo'lo memang hebat soal urusan ini. Bahkan ia pernah menjadi juara lompat batu antar desa selama lima tahun berturut turut. Dirinya pun pernah tampil di level nasional, Ia pernah unjuk gigi di Program Indonesia Visit Year di Jakarta pada tahun 1990 silam.

"Jakarta, Bali saya sering juga diminta tampil disana dulu," ucapnya.

Bahkan berkat kepiawaiannya dalam budaya asli Kepualauan Nias tersebut, Ia kerap ditawari untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota kepolisian hingga bekerja di perusahaan swasta. Namun, karena kecintaannya pada budaya, maka ia menolaknya.

"Saya hanya berpikir untuk mengembangkan budaya dan pariwisata yang kami miliki," tutur Tafoo'lo.

Penampilannya pun berakhir pada 2005. Ia resmi memutuskan berhenti menjadi Pelompat Batu. Alasan usia dan kemampuan tubuh membuatnya tidak lagi memungkinkan beratraksi. Sebagai gantinya, ia turun langsung melatih pemuda desa agar bisa sama sepertinya.

"Kalau sekarang saya lebih mengajari anak-anak di sini agar budaya lompat batu tetap lestari," ujarnya.

Seorang Pelompat Batu asli Desa Bawomataluo, Tafoo'lo Nehe, yang pernah diabadikan di uang kertas pecahan Rp1.000 emisi 1992. (Foto: Iqbal/Mistar)


Kini, dirinya memiliki salah satu tugas untuk melestarikan dan berbicara terkait Fahombo. Saat ini budaya lompat batu tersebut pun semakin dikenal luas oleh masyarakat Sumut, Nasional bahkan Internasional.

Tafoo'lo berbicara mengenai sejarah Fahombo. Menurutnya tradisi tersebut berawal dari masa perang. Dimana, setiap desa memiliki pagar bambu yang cukup tinggi. Tafoo'lo mengatakan para pemuda yang bisa melompat batu dianggap sudah layak ikut berperang.

Hal ini sekaligus mematahkan anggapan di masyarakat jika lompat batu Desa Bawomataluo untuk tolak ukur seorang pemuda diperbolehkan untuk menikah. Menurutnya hal tersebut adalah cerita yang perlu diluruskan di tengah masyarakat.

"Jadi, kalau tidak bisa lompat batu, tidak menikah-menikah. Lompat batu bukan untuk syarat menikah, tapi dulu dipakai untuk tolak ukur sudah bisa ikut berperang atau belum," tuturnya.

Menurut pengalaman Tafoo'lo, kiat sukses melompati batu lebih dari dua meter bukan ada pada postur seseorang, melainkan pada teknik.

"Sebelum melompat, ancang-ancang sangat penting. Lebih penting ada pada pijakan sebelum melompat. Kalau itu tidak pas, mau gimana pun gak bakal tinggi lompatan kita," kata Tafoo'lo Nehe.

Sekarang, Tafoo'lo Nehe bukan hanya sosok yang pernah abadi di salah satu cetakan rupiah di negeri ini. Lebih dari itu, dirinya saat ini menjadi salah satu penjaga peradaban bagi Kepulauan Nias. Sosoknya yang ramah dan senang berbagi pengetahuan, siapa saja yang berkunjung di Desa Bawomataluo dapat bercerita banyak mengenai Nias.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN