PKPA Gelar Festika 2026, Ajak Anak Bijak Gunakan Gawai dan Lestarikan Budaya

Kegiatan Festika 2026 dalam rangka Hari Anak Nasional. (foto:dokumen PKPA/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (27/7/2026) – Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) menggelar Festival Seni dan Tradisi Ramah Anak (Festika) sebagai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara.
Festival bertema "Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya" ini menjadi ruang ekspresi sekaligus pelestarian identitas budaya sebagai upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai. Kegiatan tersebut mempertemukan Pemerintah Kota Medan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana, Dinas Lingkungan Hidup, sekolah, serta berbagai komunitas.
Direktur Eksekutif Yayasan PKPA, Keumala Dewi, mengatakan kolaborasi multisektor sangat dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak di era digital.
Menurutnya, digitalisasi dapat memperluas akses terhadap pembelajaran dan informasi. Namun, perkembangan tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti perundungan siber (cyberbullying), paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak, serta berbagai bentuk kekerasan lainnya.
"Dengan kegiatan-kegiatan yang edukatif, kita ingin mengajak semua pihak untuk turut membangun kebiasaan berteknologi yang sehat bagi anak-anak tanpa meninggalkan nilai-nilai budayanya," ujar Keumala dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).
Festival yang diikuti lebih dari 800 peserta secara inklusif ini juga dihadiri Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Menurutnya, peringatan Hari Anak Nasional melalui Festika menjadi penguat komitmen untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Rico mengatakan keluarga harus memperoleh dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan sebagai elemen penting dalam perlindungan anak. Lingkungan rumah yang aman dan nyaman dinilai mampu mendukung tumbuh kembang anak sesuai usianya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan orang tua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang serta potensi anak.
"Saya berharap semua pihak bisa terinspirasi lewat kegiatan ini dan memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan Kota Medan yang ramah anak serta Indonesia yang semakin peduli terhadap pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak," tuturnya.
Sejumlah kegiatan yang digelar dalam Festika 2026 meliputi Panggung Ekspresi Budaya dan Advokasi Seni, Talkshow Parenting untuk Orang Dewasa, Kelas Paralel untuk Anak, serta pemberian apresiasi kepada para pemenang dan pendamping.
Dalam sesi talkshow, psikolog Fadhilla Fajrah menjelaskan bahwa ketergantungan anak terhadap gawai bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara berulang sejak usia dini. Menurutnya, gawai kerap dijadikan solusi instan untuk mengalihkan perhatian anak agar lebih tenang. Kondisi tersebut dapat menjadi awal munculnya ketergantungan terhadap gawai.
"Maka dari itu, peran orang tua sangat penting dalam membangun kebiasaan anak sejak dini. Anak bisa diberikan kegiatan lain seperti bereksplorasi atau berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya untuk mengalihkan perhatian mereka dari gawai," kata Fadhilla.
Sementara itu, perwakilan Komunitas Anak Hedipro, Iren, berharap tidak ada lagi hak belajar anak Indonesia yang terganggu karena harus bekerja akibat faktor ekonomi. Ia berharap seluruh anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi emas Indonesia pada masa mendatang. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Tafoo'lo Nehe, Sosok Pelompat Batu Nias di Uang Rp1.000

























