Aksara Batak Toba Jadi Bukti Tingginya Peradaban Nenek Moyang

Harapan Sibarani. (Foto: Nimrot/Mistar)
Toba, MISTAR.ID - Batak Toba adalah bagian dari suku Batak yang memiliki bahasa dan tulisan tersendiri.
Sekretaris DPD Batak Center Kabupaten Toba, Harapan Sibarani, mengatakan aksara Batak berinduk pada Aksara Pallawa, termasuk keluarga tulisan India.
Aksara Batak terdiri dari lima varian, yaitu aksara Angkola/Mandailing, aksara Toba, aksara Simalungun, aksara Pakpak/Dairi, dan aksara Karo.
Secara umum ada perbedaan dan kesamaan dari kelima aksara Batak tersebut.
Tradisi tulis Batak diperkirakan telah dimulai sejak akhir abad 16 yang didasarkan dengan hadirnya naskah Batak di Inggris pada abad 17.
"Naskah Batak ada ribuan jumlahnya, tersebar di berbagai negara di dunia. Adanya warisan naskah tersebut, membuktikan betapa tingginya peradaban nenek moyang Batak pada masa lalu," kata Harapan, Selasa (4/8/2026).
Aksara Batak Toba dipergunakan para leluhur untuk menuliskan berbagai hal, seperti, tarombo (silsilah), perjalanan hidup, ilmu perbintangan, cerita rakyat, ramuan obat-obatan, mantera, siasat perang, serta untuk urusan korespondensi.
Biasanya dituliskan dalam berbagai media seperti, kulit kayu (laklak), bambu, tulang, kertas, hingga batu.
Aksara Batak Toba merupakan manuskrip sebagai bagian dari objek kebudayaan yang harus dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan sesuai amanat dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017.
"Oleh karena itu, aksara Batak Toba ini sangat perlu kita jaga dan dipelajari. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran aksara Batak Toba sangat strategis dalam rangka pembangunan karakter, pengembangan kognitif siswa, pengembangan literasi sekolah,” ucap Harapan.
Dijelaskannya lagi, aksara Batak Toba terdiri dari indung surat dan anak surat. Indung surat sebagai aksara utama sebanyak 19 lambang dan anak surat sebanyak 6 lambang. Penulisan Aksara Batak Toba bersifat silabis, yang artinya penulisan berdasarkan suku kata. Bukan berdasarkan abjad per abjad.
Terdapat beberapa versi penulisan Aksara Batak, seperti Versi Dr.H.N.van der Tuuk, Rheinish Missiongesellschaft (RMG), Landrukkerij, Zending-Drukkeij Laguboti, Surat Pustaha, Uli Kozok. Versi surat Batak ini menggambarkan betapa besar kecintaan masyarakat dunia akan aksara Batak Toba.
“Kita tidak berbicara benar atau salah terkait versi ini, kita mengacu kepada aksara Batak Toba yang paling kerap dicantumkan di naskah-naskah kuno (laklak) atau media kuno lainnya. Bagaimana kita dapat membaca dan mengerti isi naskah tersebut, itulah yang kita upayakan.” tutur Sarjana Sastra itu.
Harapan telah mensosialisasikan aksara Batak Toba ke beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Toba. Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Pada umumnya, pemahaman siswa masih terbatas mengenai aksara Batak Toba.
"Hal itu dipengaruhi latar belakang guru yang kurang relevan dengan pembelajaran aksara Batak Toba. Itulah yang mendasari kami turun ke sekolah-sekolah membantu guru memperkenalkan aksara kepada para siswa agar tumbuh rasa cinta dan bangga,” ucapnya.
Tidak hanya manual, aksara Batak Toba diperkenalkan melalui laptop dan handphone.
"Selama ini para siswa belum pernah mempelajari aksara Batak Toba melalui laptop dan handphone. Cara ini tentunya lebih menarik oleh siswa," ujarnya.
“Kita harus semakin bangga karena Pemerintah Kabupaten Toba sudah mencantumkan aksara Batak Toba di logo Pemkab," tuturnya.
Ke depannya, Pendiri Forum Martabe Sigurs (Formasi) tersebut berharap aksara Batak Toba dapat dicantumkan di sarana umum, merek toko, perusahaan, pakaian, souvenir, flyer, spanduk, baliho, bahkan kop surat pemerintahan.
"Secara informal, saya pernah mengusulkan kepada pegawai Bank Indonesia (BI) saat kegiatan sosialisasi Geopark 2025 agar dicantumkan di uang Rupiah," jelasnya.
Menurutnya, perlu pula melaksanakan lomba baca-tulis aksara Batak Toba sebagai pemicu semangat siswa.[[























