Thursday, June 11, 2026
home_banner_first
OPINI

Swasembada Energi 3 Tahun Lagi, Tapi Hari Ini Pertamax Rp16.250

Mistar.idKamis, 11 Juni 2026 09.24
journalist-avatar-top
swasembada_energi_3_tahun_lagi_tapi_hari_ini_pertamax_rp16250

Ilustrasi (foto: AI)

news_banner

Oleh: Anwar Suheri Pane

Rabu, 10 Juni 2026, bisa jadi menjadi salah satu hari yang membuat kita bertanya: seberapa jauh narasi yang dibangun para pengambil kebijakan mampu berdiri di hadapan realitas ekonomi yang bergerak begitu cepat?

Dalam waktu kurang dari 24 jam, serangkaian peristiwa terjadi hampir bersamaan dan membentuk gambaran yang sulit diabaikan.

Dini hari, harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter di Pulau Jawa dan berkisar Rp16.650 hingga Rp17.000 per liter di Pulau Sumatra. Kenaikan ini terjadi saat nilai tukar rupiah masih tertekan di kisaran Rp17.944 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menembus level Rp18.000.

Di sisi lain, harga minyak dunia berdasarkan data Trading Economics juga tidak memberikan banyak ruang. Crude oil bertahan di sekitar USD89,7 per barel, sementara Brent mendekati USD92,7 per barel.

Dua tekanan tersebut rupiah yang melemah dan tingginya harga energi global bertemu pada satu titik. Konsekuensinya harus ditanggung masyarakat, baik sebagai konsumen maupun pelaku usaha.

Tak lama kemudian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi diperkirakan terbatas karena bahan bakar tersebut tidak termasuk dalam komponen harga yang diatur pemerintah. Secara teknis, pernyataan itu dapat dipahami.

Namun, respons pasar keuangan menunjukkan bahwa dampaknya tidak sesederhana itu. Gejolak pada aset keuangan domestik meningkat seiring munculnya tekanan jual dari investor global. Bank Indonesia pun memilih menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen untuk menjaga stabilitas dan meredam ketidakpastian.

Kepala BP BUMN juga menegaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika pasar. Pernyataan itu sekaligus menjadi pengakuan bahwa ruang intervensi pemerintah terhadap tekanan energi global tidaklah tanpa batas.

Lalu, di Bandar Lampung, dalam pembukaan Munas HIPMI XVIII, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia dapat mencapai kemandirian energi dalam tiga tahun ke depan.

Sebuah visi yang patut diapresiasi. Namun justru di sinilah muncul pertanyaan yang tidak bisa ditunda: apa yang menjembatani visi tersebut dengan tekanan yang sedang dirasakan masyarakat saat ini?

Optimisme Perlu, Tapi Tidak Cukup

Tidak ada yang salah dengan optimisme. Setiap negara yang ingin maju membutuhkan keberanian untuk menetapkan target besar. Swasembada energi bukanlah mimpi kosong, dan siapa pun yang meremehkannya tentu keliru.

Namun visi tiga tahun ke depan tidak serta-merta menjawab persoalan paling mendesak yang dihadapi jutaan orang hari ini: biaya hidup yang semakin berat, ongkos produksi yang meningkat, dan ketidakpastian ekonomi yang makin terasa.

Kepercayaan publik tidak lahir dari kehebatan sebuah target, melainkan dari kebijakan konkret yang membuktikan bahwa arah yang dijanjikan memang sedang diwujudkan.

Kenaikan harga Pertamax memang dapat meringankan beban keuangan perusahaan energi negara. Namun terdapat efek samping yang tidak bisa diabaikan. Selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite berpotensi mendorong jutaan konsumen beralih ke bahan bakar yang lebih murah.

Jika hal itu terjadi dalam skala besar, penghematan di satu sisi berpotensi berubah menjadi beban fiskal di sisi lain. Situasi tersebut tentu tidak bisa dijawab hanya dengan asumsi bahwa dampaknya terbatas.

Suku bunga acuan 5,5 persen juga bukan sekadar angka dalam laporan Bank Indonesia. Bagi pelaku UMKM yang sudah menghadapi kenaikan biaya operasional dan melemahnya daya beli masyarakat, biaya kredit yang lebih mahal merupakan tambahan beban yang sangat nyata.

Jika tekanan terhadap nilai tukar berlangsung lebih lama, sektor manufaktur pun akan merasakan dampaknya melalui kenaikan biaya impor bahan baku.

Bukan berarti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah berada di depan mata. Namun sinyal-sinyal seperti ini perlu dibaca sejak dini, bukan setelah masalah membesar.

Masyarakat tidak kekurangan narasi besar. Yang lebih dibutuhkan dan sering kali justru paling langka adalah kepastian arah, transparansi atas pilihan-pilihan sulit yang harus diambil pemerintah, serta langkah konkret yang manfaatnya dapat dirasakan dalam waktu dekat.

Pasar tidak memberi nilai pada niat baik. Pasar menilai hasil.

Karena itu, semakin ambisius target yang dicanangkan, semakin tinggi pula standar yang harus dipenuhi: kebijakan yang konsisten, terukur, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, bukan hanya di atas kertas, melainkan dalam kehidupan sehari-hari.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN