Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Orang Tua Murid di Medan Belum Temukan Label Harga pada MBG, Minta SPPG Transparansi

Mistar.idJumat, 6 Maret 2026 pukul 20.06 WIB
orang_tua_murid_di_medan_belum_temukan_label_harga_pada_mbg_minta_sppg_transparansi

Menu MBG yang belum berlabel harga di salah satu SMA Negeri di Kota Medan. (foto: Susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sejumlah orang tua murid mengaku belum menemukan label harga pada paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka di sekolah. Kondisi ini membuat mereka berharap adanya transparansi terkait harga dan porsi makanan yang diberikan kepada siswa.

Di antaranya Lasmini, orang tua siswa SD swasta di Kota Medan. Ia mengatakan, hingga saat ini paket MBG yang diterima anaknya masih dibagikan seperti biasa tanpa disertai label harga. “Belum menerima MBG dengan label harga, masih seperti biasa,” ujarnya kepada Mistar, Jumat (6/3/2026).

Sama seperti orang tua lainnya, Lasmini juga merasa khawatir atas keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak di sekolah, terutama saat melihat berita-berita negatif mengenai MBG seperti keracunan makanan dan lain sebagainya.

“Walaupun sejauh ini aman ya, gak ada keluhan. Bahkan MBG yang untuk puasa ini tidak dijumpai yang bungkusnya rusak, atau berjamur gitu,” tuturnya.

Ia berharap makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar sesuai dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah dan tidak mengurangi porsi yang seharusnya diterima.

“Tapi diharapkan supaya MBG ini sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, jangan dikurangi porsinya. Kalau bisa label harganya itu ya segera lah diberikan sehingga ada transparansi di dalamnya,” katanya lagi penuh harap.

Terkait paket bundling, Lasmini menyebut di sekolah anaknya pembagian MBG dilakukan setiap hari dan tidak menggunakan sistem bundling. “Gak ada bundling, di sekolah anak saya tiap hari menerima, karena mereka masuk sekolah setiap hari,” ujarnya.

Sementara itu, Dimas Sudrajat, orang tua siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Deli Tua, juga menyampaikan kekhawatirannya terkait kualitas gizi makanan yang diterima anaknya melalui program MBG.

Ia mempertanyakan kandungan gizi dari makanan yang dibawa pulang anaknya. “Dari beberapa hari yang aku lihat MBG yang dibawakan anakku itu, aku juga bingung di mana letak gizinya,” tuturnya.

Dimas mencontohkan kondisi makanan yang diterima anaknya, seperti kurma yang tidak tertata dan roti yang menurutnya belum jelas nilai gizinya. “Kurmanya berantakan. Terus roti-rotinya, berapa lah harganya itu. Ini sebenarnya sudah memenuhi gizi atau tidak?” katanya.

Ia juga mengingatkan agar program MBG benar-benar dijalankan dengan baik di lapangan, mengingat adanya kekhawatiran masyarakat terhadap kasus keracunan makanan.

“Dengan persoalan yang ada, di mana-mana kita tahu banyak keracunan, mudah-mudahan di sekolah anak kami ini jangan ada seperti itu. Jangan jadi korban lah anak kami ini,” ucapnya mewanti-wanti.

Menurutnya, jika sampai terjadi masalah terkait makanan yang diberikan kepada siswa, ia pasti dengan lantang akan menyuarakan keberatannya. “Kalau sempat nanti terjadi seperti itu, mungkin aku yang paling ribut di sekolah mereka,” katanya.

Dimas menilai program MBG sebenarnya merupakan kebijakan yang baik, namun implementasinya harus benar-benar berorientasi pada perbaikan gizi siswa.

“Programnya sudah bagus. Jadi implementasinya di lapangan itu, ayolah betul-betul memang untuk memperbaiki gizi. Jangan hanya mengambil sisi keuntungannya saja. Korbannya siapa, ya anak-anak murid,” ujarnya.

Selain itu, pembagian MBG di sekolah anaknya ternyata juga masih menggunakan sistem bundling setiap tiga hari sekali. “Kalau bundling masih ada di sekolah anak kami, per tiga hari,” katanya.

Meski begitu, ia tak menampik bahwa anaknya cukup gembira saat menerima MBG di sekolah. “Anak saya senang saat menerima MBG, dia bercerita penuh semangat. Dan kita memang sangat berharap, semoga program ini betul-betul bisa memperbaiki gizi anak-anak kita,” ucapnya.

Diketahui sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional, T. Agung Kurniawan menjelaskan anggaran MBG dibedakan berdasarkan jenjang pendidikan. Siswa PAUD sampai kelas 3 SD memiliki anggaran sebesar Rp8.000 per siswa setiap harinya.

Sementara siswa kelas 4 SD hingga SMA dianggarkan sejumlah Rp10.000 per siswa setiap harinya. Tak hanya itu, sistem bundling juga tidak diperbolehkan selain Jumat ke Sabtu.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN