Dari Terminal ke Gedung Rakyat: Perjalanan Timbul Sibarani Menaklukkan Kehidupan dan Politik

Ketua Komisi D DPRD Sumatera Utara, Timbul Jaya Hamonangan Sibarani. (Foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Suara mesin bus, hiruk pikuk penumpang, dan debu Terminal Cinta Dame di Pematangsiantar menjadi saksi perjalanan panjang Timbul Jaya Hamonangan Sibarani. Siapa sangka, pria yang pernah menjadi sopir angkutan umum untuk membantu ibunya bertahan hidup, kini dipercaya masyarakat sebagai anggota legislatif selama 22 tahun hingga saat ini.
Lahir di Tigabarata pada 26 April 1968, Timbul merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Masa mudanya tidak dilalui dengan kemewahan. Saat masih duduk di bangku SMA Negeri 3 Pematangsiantar, keluarganya menghadapi ujian berat setelah sang ayah meninggal dunia.
Sejak saat itu, ibunya yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi tulang punggung keluarga. Dengan segala keterbatasan, sang ibu berjuang membesarkan dan menyekolahkan keenam anaknya hingga merasakan pendidikan tinggi. Bahkan salah seorang adiknya berhasil menamatkan pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
“Ketika lulus SMA, saya berpikir ibu tidak mungkin berjuang sendirian. Saudara-saudara saya yang lain sudah mulai sekolah di luar kota, jadi saya memutuskan mendampingi ibu sambil kuliah dan bekerja,” katanya kepada Mistar, Jumat (19/6/2026), sembari mengenang memori lama dirinya.
Keputusan itu membawanya ke dunia transportasi. Sebuah unit bus peninggalan ayahnya menjadi titik awal perjuangan. Sembari menempuh pendidikan tinggi, ia mengelola usaha angkutan umum milik keluarga yang saat itu juga dibayangi berbagai persoalan.
Tidak hanya kehilangan ayah, keluarga mereka juga harus menghadapi beban utang bank yang ditinggalkan almarhum sang ayah. Pasalnya, berbagai gangguan dari mitra usaha sang ayah turut menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Namun, Timbul tidak menyerah. Ia tetap menjalankan usaha angkutan sembari melanjutkan kuliah hingga berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana dan Magister Hukum di Universitas Simalungun.
Ia mengungkapkan hampir seluruh masa mudanya dihabiskan di Terminal Cinta Dame. Di sanalah ia belajar memahami kerasnya kehidupan, membangun relasi, dan menempa mental sebagai pejuang keluarga.
“Saya besar dan menghabiskan banyak waktu hidup di Terminal Cinta Dame. Dari situlah banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan hingga saya berada pada posisi saat ini,” ujarnya.
Tidak hanya soal kehidupan, ia kemudian membangun jalan politik dari nol. Saat usaha keluarga mulai berkembang, tantangan baru kembali muncul. Sebagai seorang yang mengaku “single fighter”, Timbul harus menghadapi berbagai persoalan tanpa banyak dukungan.
Situasi itu mendorongnya memperluas jaringan pertemanan. Pada tahun 1997, ia bergabung dengan Partai Golkar. Dua tahun kemudian, pasca-Reformasi 1998, ia memberanikan diri maju sebagai calon anggota legislatif. Hasilnya belum berpihak. Ia kalah dalam Pemilu 1999.
Namun kegagalan tidak membuatnya berhenti. Sambil tetap mengelola usaha, ia mencoba dunia kontraktor dan terus aktif berorganisasi. Pada tahun 2000, ia dipercaya menjadi Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kabupaten Simalungun.
Di tengah kesibukan tersebut, kehidupan pribadinya juga memasuki babak baru. Pada tahun 1999, ia menikah dan membangun keluarga. Sejatinya seorang petarung, perjuangan panjang Timbul akhirnya membuahkan hasil. Pada Pemilu 2004, Timbul berhasil terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Simalungun.






















