Siapa yang Perlu Scan Kalsium Jantung?

Siapa yang Perlu Scan Kalsium Jantung?
Chicago, MISTAR.ID - Pemindaian kalsium arteri koroner atau coronary artery calcium (CAC) semakin banyak digunakan untuk memperkirakan risiko penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru Northwestern Medicine menunjukkan pemeriksaan ini kemungkinan paling bermanfaat bagi kelompok pasien tertentu, bukan untuk semua orang.
Dilansir Science Daily, studi terhadap lebih dari 6.000 orang dewasa yang dipantau selama 10 tahun menemukan, penambahan skor CAC hanya sedikit meningkatkan ketepatan prediksi dibandingkan PREVENT, kalkulator risiko kardiovaskular utama dari American Heart Association (AHA).
PREVENT menghitung kemungkinan seseorang mengalami penyakit kardiovaskular dalam 10 atau 30 tahun berdasarkan sejumlah faktor, antara lain usia, jenis kelamin, tekanan darah, dan kadar kolesterol.
Sementara itu, pemeriksaan CAC menggunakan CT scan untuk mendeteksi plak yang mengandung kalsium di dalam arteri koroner. Semakin tinggi skor kalsium, secara umum semakin besar pula risiko penyakit kardiovaskular.
Namun, manfaat pemeriksaan tersebut menjadi lebih jelas pada orang yang berdasarkan PREVENT berada dalam kategori risiko ambang hingga menengah, yakni memiliki risiko sekitar 3-9 persen mengalami penyakit jantung dalam 10 tahun.
“Temuan kami menunjukkan bahwa tidak semua orang membutuhkan atau akan memperoleh manfaat dari pemindaian kalsium arteri koroner untuk memprediksi risiko serangan jantung dan stroke,” kata penulis senior studi, Dr. Nilay Shah dari Northwestern University Feinberg School of Medicine.
Menurut Shah, penggunaan CAC pada kelompok berisiko rendah justru dapat menimbulkan pemeriksaan dan biaya yang tidak diperlukan, sekaligus paparan radiasi tanpa manfaat klinis yang jelas.
Sebaliknya, pada orang dengan risiko tinggi, pemindaian tersebut juga mungkin tidak banyak mengubah keputusan pengobatan karena mereka umumnya sudah direkomendasikan menggunakan statin.
“Penggunaan rutin pemindaian kalsium pada orang berisiko rendah dapat menyebabkan paparan radiasi, pemeriksaan dan biaya yang tidak perlu dengan manfaat klinis yang belum jelas,” ujar Shah.
Paling Berguna pada Risiko Menengah
Penelitian yang dipublikasikan di JAMA pada 26 Agustus itu menggunakan data peserta Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis berusia 45 hingga 79 tahun.
Pada awal penelitian, para peserta menjalani pemeriksaan CAC sekaligus penilaian menggunakan PREVENT. Selama 10 tahun berikutnya, sekitar 6 persen peserta mengalami serangan jantung atau stroke.
Secara keseluruhan, kemampuan model membedakan orang yang akan dan tidak akan mengalami kejadian kardiovaskular hanya meningkat dari 0,73 dengan PREVENT menjadi 0,75 setelah skor CAC ditambahkan.
Namun, hasil berbeda terlihat pada kelompok dengan risiko awal 3-9 persen. Pada kelompok inilah skor CAC memberikan tambahan informasi yang lebih berarti.
“Bagi pasien dengan risiko ambang, mengetahui skor kalsium dapat membantu menentukan apakah risiko mereka sebenarnya lebih rendah atau lebih tinggi dari perkiraan awal, sehingga dapat membantu menentukan keputusan pengobatan,” kata Shah.
Temuan tersebut dinilai penting karena penentuan risiko yang lebih tepat dapat membantu dokter memutuskan siapa yang paling mungkin mendapat manfaat dari terapi pencegahan, termasuk penggunaan statin untuk menurunkan kolesterol dan risiko penyakit kardiovaskular.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan PREVENT sudah memiliki kemampuan prediksi yang cukup baik meski tanpa pemeriksaan kalsium koroner.
Meski demikian, para peneliti menilai studi lanjutan masih dibutuhkan, terutama untuk mengetahui manfaat CAC pada kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk populasi Asia Selatan dan Filipina, serta pada kelompok usia yang lebih muda. (*)



































