Friday, September 11, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Ahli Gizi Ungkap Batas Aman Makanan di Suhu Ruang

Mistar.idJumat, 11 September 2026 pukul 21.18 WIB
ahli_gizi_ungkap_batas_aman_makanan_di_suhu_ruang

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Makanan yang baru selesai dimasak sebaiknya segera dikonsumsi. Namun, jika harus menunggu karena proses pengemasan, pengantaran, atau perbedaan waktu makan, lama penyimpanan dan suhu makanan perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan pangan.

Ahli Ilmu Gizi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, M.Kes., mengatakan makanan yang dibiarkan pada suhu ruang memiliki batas waktu keamanan sekitar empat jam.

"Kalau di suhu ruang itu sekitar empat jam," ujar Prof. Meilinah saat diwawancarai Kompas.com yang dikutip, Jumat (11/9/2026)

Menurutnya, makanan yang telah selesai dimasak pada dasarnya paling baik langsung disantap. Namun, semakin lama makanan dibiarkan pada kondisi tertentu, risiko pertumbuhan bakteri juga perlu diperhitungkan.

"Jadi penting sekali kalau melabel makanan itu selesai dimasak jam berapa," katanya.

Pencantuman waktu selesai memasak menjadi penting, terutama untuk makanan yang diproduksi dalam jumlah besar dan harus melalui proses distribusi sebelum sampai kepada konsumen.

Prof. Meilinah menjelaskan, rentang suhu di atas 5 hingga 60 derajat Celsius merupakan danger zone atau zona berbahaya yang perlu diwaspadai dalam keamanan pangan. Pada rentang suhu tersebut, bakteri dapat berkembang biak lebih mudah.

Karena itu, waktu sejak makanan selesai dimasak bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Cara penyimpanan selama makanan menunggu waktu konsumsi juga menjadi faktor penting.

Hal tersebut terutama berlaku untuk makanan yang melalui proses distribusi dalam jumlah besar, seperti makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Prof. Meilinah, setiap tahapan dalam rantai penyediaan makanan memiliki risiko kontaminasi, mulai dari bahan baku, penyimpanan, pemotongan, pemasakan, pemorsian, pengemasan hingga transportasi.

Keterlambatan distribusi juga dapat membuat makanan berada lebih lama pada kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri.

"Misalnya terlambat distribusi, mobilnya mogok, itu jangka waktu empat jam dari sejak label masak selesai sampai tiba di sekolah yang dituju itu jangan-jangan bisa lebih dari empat jam," ujarnya.

Berbeda dengan makanan yang dibiarkan pada suhu ruang, penyimpanan dalam kondisi dingin dapat memperpanjang masa simpan. Prof. Meilinah menyebut makanan yang disimpan dalam chiller dengan suhu sekitar 4 derajat Celsius dapat bertahan sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis dan kondisi makanan.

Sementara makanan yang disimpan dalam kondisi beku dapat memiliki masa simpan lebih panjang. Meski demikian, penyimpanan dalam kulkas tetap harus dilakukan dengan benar dan tidak berarti makanan otomatis aman hanya karena pernah disimpan dalam kondisi dingin.

Prof. Meilinah juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan tampilan atau aroma makanan untuk menentukan keamanannya. Makanan yang terlihat dan beraroma baik belum tentu bebas dari bakteri atau toksin yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Karena itu, waktu makanan selesai dimasak, cara penyimpanan, lama penyimpanan serta proses distribusi perlu diperhatikan. Hal tersebut berlaku tidak hanya untuk makanan dalam jumlah besar seperti MBG, tetapi juga makanan yang disiapkan sehari-hari di rumah. (hm25/kompas.com)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN