Keracunan MBG di Karo: Tinggal 10 Siswa Dirawat, BGN Perketat Pengawasan SPPG

Penanganan sejumlah siswa yang diduga mengalami keracunan MBG di Berastagi. (Foto:dokumen/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (18/8/2026) – Pascakejadian fatal di Kabupaten Karo yang menyebabkan ratusan siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Raya Berastagi, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan memastikan bahwa penanganan terus dilakukan.
“Kita terus lakukan komunikasi dengan tim kesehatan di tiap-tiap rumah sakit mengenai perkembangan kesehatan setiap pasien,” kata Kepala KPPG Medan wilayah kerja Sumatera Utara dan Aceh, Donal Simanjuntak, kepada Mistar, Selasa (18/8/2026).
Perkembangan per 17 Agustus 2026, Donal menyebutkan bahwa saat ini tinggal 10 orang siswa yang masih dirawat di rumah sakit, dari 391 siswa yang beberapa waktu lalu sempat dilarikan karena keracunan makanan.
Dari 10 orang pasien tersebut, delapan di antaranya saat ini masih mendapat perawatan di RS Efarina Etaham, satu di RS Haji Medan, dan satu lagi di RS Bina Kasih Medan.
“Jadi sebagian besar sudah sehat dan kembali ke rumah. Hasil laboratorium sudah keluar, namun kita tunggu pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Karo yang lebih memiliki otoritas untuk mengumumkan hasilnya,” tutur Donal menjelaskan.
Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan investigasi terhadap kasus kejadian fatal tersebut dan dari hasil investigasi ditemukan ada unsur kelalaian.
“Ikan yang menyebabkan keracunan tersebut disimpan di luar freezer. Jadi ikan itu ada di suhu ruang selama kurun waktu 10 jam. Ini yang kita curiga menjadi waktu kritis pertumbuhan kuman,” ucapnya.
Untuk saat ini, kepala SPPG terkait sedang diproses pemberhentiannya. Sementara SPPG yang menyalurkan makanan ke sekolah-sekolah yang terdampak keracunan tersebut juga sudah diberhentikan sementara (suspend), sehingga tidak dapat beroperasi.
Sementara itu, Kepala Subbagian Tata Usaha KPPG Medan, Erdianta Sitepu, mengatakan bahwa saat ini Badan Gizi Nasional (BGN) sudah memiliki mekanisme Point of Production yang menjadi kontrol pada setiap tahapan yang ada di masing-masing dapur MBG.
Setiap tahapannya yang wajib dilaporkan mulai dari tahap penerimaan bahan baku hingga pembagian ompreng untuk organoleptik di sekolah, sehingga pusat disebut dapat turut memantau.
“Jadi di tiap tahap harus benar-benar dicek dan dilaporkan melalui aplikasi SIPGN. Tentu juga kita memberikan arahan kepada SPPG lainnya. Kita setiap saat selalu sampaikan dalam rapat-rapat agar selalu menjaga kualitas makanan, zero tolerance untuk keracunan makanan,” ujar Erdianta. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Bahan Kimia Parfum Berpotensi Naikkan Tekanan Darah Ibu Hamil






















